Posts Tagged ‘reksadana saham’

Kejaaaam, memang KEJAM. Dulu waktu SD, SPP gw di bangsa 15 ribuan. Waktu SMA tahun 1997, SPP-nya udah kisaran 2 juta, uang masuknya 20 jt. Waktu kuliah di Jogja, SPP-nya kisaran 450rbuan, sekarang udah non subsidi, dengar2 per SKSnya aj udah 80 rebuan.

Biaya pendidikan naiknya kadang melebihi inflasi, ga pakai ati nurani. Gw sekarang aj suka terkaget2 denger berapa total biaya yang harus dikeluarkan untuk kuliah di kedokteran UI. Lebih dari 250 juta juragaaan. Kecekek ga dengernya tuh. Mending langsung sekolah di luar negeri deeh.

Well, gw menjalani hidup ini dengan santai. Tapi untuk urusan pendidikan anak, gw ga bisa santai2. Sekarang sih enak, pekerjaan gw dan suami masih layak dan terbilang bisa untuk menangani biaya pendidikan anak di level menengah. Tapi roda ini berputar. Hidup ini penuh ketidakpastian. Suatu hari bisa saja kami kena PHK, kena musibah, mendadak sakit parah, everything can be happened.

Apakah anak gw juga harus kena getahnya? Janganlah ya. Hak anak gw adalah untuk bisa mengecap pendidikan yang layak tanpa harus ternodai dengan carut marut keuangan keluarga. Karena itu gw dan suami sudah dari jauh hari mempersiapkan biaya pendidikan untuk anak. Dari sejak Alif lahir, emaknya langsung menghitung prediksi biaya SD, SMP, SMA, S1, dan nikahnya wakakakak. Beberapa rekan menghitung sampai biaya S2. Sook, monggooo. Kalau saya S1 ajalah. S2 biar nanti Alif yang urus sendiri. Kan dia udah dewasa dan mandiri..kalau mau lanjut sekolah ya harus berupaya cari ya Nak. Ada banyak cara kok, bisa beasiswa, fasilitas dari kantor, atau kalau memang ternyata jiwanya jiwa bisnis yo wis ga usah S2 sekalian ahahahah (*ibu apa ini).

Kalau biaya nikah mah memang kewajiban ortu kekekek. Apalagi nikah di Jakarta ini, masya Allah deh mahalnya. Dulu gw nikah di Pekanbaru mah modalnya cuma 20 juta, itu udah bisa undang orang sekampung, hingar bingar dari pagi ampe malam. Lah Jakarta butuh ratusan juta, undangan terbatas, jamnya pun medit amaaat. Kota opooo iki kok ya ngerasani banget tinggal disini. Tapi secara bapak ibumu gaolnya di Jakarta, yo mosok nikahan anaknya di Pekanbaru, sapa yang mau dataang? Wkwkwk.

Ini tadi mau cerita tentang apa si. Oh ya, biaya pendidikan ya.

Ok, jadi untuk mempersiapkan biaya pendidikan lebih baik dimulai sedini mungkin. Kalau saya mah sejak anak lahir langsung picit2 tuts telvon, tombol kalkulator, dan keypad kompi, urus semua itung2an biaya pendidikan. Iyaaa pake ngitung doonk karena saya ga mau sembarang nabung. Kalau kekecilan, nti kami bisa2 nombok banyak pas hari H nya. Sukur2 kalo ada duitnya, kalo kagak? Kalo kegedean, ga efisien atuh namanya, kan uangnya bisa dipake buat kebutuhan yang lain.

Jadi gimana cara ngitungnya? Ada rumus excelnya bow, horeeeee, mudaaah. Saya dapat dari temen juga si. Thx ya Fahri Usmani yang udah memberikan saya rumus ini, sedekah jariyah ada padamu.

Jadi stepnya adalah, saya kudu menetapkan anak ini rencananya mau disekolahkan di sekolah apa? Misal sekolah B. Cari tau deh disana berapa uang pangkalnya dan SPP-nya (*disini nih perlu pijit tuts telvon buat call tu sekolah enjen tanya2 berapa uang pangkal dan SPP-nya). Terusss dengan asumsi anak kita nantinya bersekolah disana, kita bisa mencari tahu berapa uang pangkal dan SPP-nya pas nti anak kita gede. Ada itu rumusnyaaaa, tinggal masupin angka aj.

Contoh. Alif sekarang usianya 4 tahun. 8 tahun lagi mau sekolah di SMP Darbi yang sekarang aj uang pangkalnya udah 22 juta. 8 tahun lagi dengan tingkat inflasi biaya pendidikan asumsi 15%, uang pangkalnya menjadi 67.298.506 alias 67.3 juta. Howeeek, gede amaaat kan?

Lalu gimana cara nabungnya? Kalo saya pakai reksadana saham. Sok atuh yang lain kalo mau pake emas, duit, deposito, properti atau asuransi, monggooo. Saya pakai reksadana saham karena bisa menerima resikonya dan memang berharap pada pertumbuhan uangnya kwkwkwk.

Jadi bila uang pangkalnya nanti sebesar 67.3 juta, maka dengan reksadana saham yang pertumbuhannya selama setahun mencapai 20% (asumsi ya. Waktu saya nulis postingan ini sih, reksadana saya pertumbuhannya di angka 30%), maka saya harus setor 288.477 alias 290rb/bulan ke reksadana saham.

Udah deeeh. Easy bangeeet kaaan? Lakukan juga hal yang sama pada SMP, SMA, S1, dan S-S lainnya. Rumus ini juga ga cuma saklek untuk biaya pendidikan tapi bisa dipake untuk membeli rumah berapa belas tahun lagi…ganti mobil berapa tahun lagi, dan sebagainya. Multipungsyon gitu looh.

Nah gimana kalo setelah diitung2 pake excel ternyata jumlah uang setorannya terlalu berat bagi kocek kita? Gampil, ubahlah tujuan sekolahnya. Ini yang namanya realita. Sesuaikan keinginan dengan keadaan. Kalo memang ga sanggup menyekolahkan anak di luar negeri, ya jangan maksa toh yoo… Jungkir balik nabung buat masa depan wong memenuhi kebutuhan masa kininya aj udah megap2. Dalam negeri juga banyak yang bagus, dan rejeki dari Allah ga kan tertutup kok. Impian ke luar negeri bisa saja terwujud walo ga dari kocek kita.

Kalo tetap keukueh mereukeuh ga mau ubah tujuan sekolah, pilihan kedua adalah ubahlah instrumen keuangannya. Nih saya kasi perbedaan jumlah setoran antara setor tabungan rencana dan reksadana saham.

Di tabungan rencana (biasanya bank banyak membuka jenis simpanan ini), pertumbuhan uangnya …berapa ya? Wanda, yang jelas ga sampai 10%/tahun. Oke, anggap aj sekitar 5% setahun ya. Maka perbandingan jumlah setoran perbulan adalah…jreng3x.

Silakan menyimpulkan sendiri kekekeke. Ga gitu keliatan bedanya antara 290rb dengan 571rb? Itu karena masih SMP. Coba kalau untuk S1 kedokteran UI yaaa, which is 18 taon lagi.

Pakai reksadana saham

Pakai reksadana saham

Pakai tabungan rencana

Pakai tabungan rencana

Giyahahahaha. Beda banget kaan? Karena waktu adalah sekutumu. Semakin lama penundaan, semakin besar kerugian. Tadi 8 tahun, sekarang 18 tahun. Tadi 22 juta, sekarang 270  jetiiiii.

Mau ambil instrumen keuangan yang pertumbuhannya sangat tinggi, mencapai 70-100%? Sok ambil saham tapi harus siap juga sama resikonya ya. Bisa2 malah terjerembab dan merugi. Semakin tinggi pertumbuhannya, semakin besar juga resikonya.

Oiya hampir lupa. Selalu revisi dan revisi tiap tahun rencana itu. Misalkan saja mulai nabung pas 2012. Berdasarkan rumus, harusnya pas 2013, terkumpul sekian juta. Kalo ternyata kurang, yooo tambahi biar genap angkanya. Namanya juga kan kita hanya prediksi ya. Dengan menggunakan banyak asumsi. Bisa saja kan inflasi pada saat itu lebih tinggi dari yang kita perkirakan. Bisa juga toooh, pertumbuhan uang kita ga setinggi yang kita harapkan. Makanya kudu terus dan terus dicek progressnya tiap tahun.

Eniwei, gw bukan pakar keuangan wakakaka, saya hanya karyawan kantor  biasa yang sedang berbicara tentang keuangan. Jadi kalau ada kesalahan disana sini, yooo maklumi wae. Kalau data reksadana saham saya lumayan memantau, tapi kalau data tabungan rencana mandiri…kekekekek, enggak tuh. Sok atuh kalo salah dibenerin ya. Yang jelas rumus excel teesbe dan reksadana saham selama ini telah sangat membantu keluarga gw untuk masalah keuangan.

Mau excelnya? Boleh banget, silakan email saya di febrie.ekaninggarani@medcoenergi.com.

Cheers,

-febrie-

 

Update terbaru: Anak saya sekarang usianya mau 8 tahun sementara saat contih itu dibuat, usia anak saya adalah 4 tahun. Saat itu (2012) uang pangkal untuk masuk SMP Darbi adalah 22jt, sementara setekah 4 tahun berlalu yaitu tahun ini (2016), uang  pangkalnya naik hanya menjadi 26jt saja. Itu berarti kenaikannya hanya 5% pertahun, bukan 15% seperti dalam contoh. Dan itu berarti untuk menabung bulanan bisa jauh lebih irit lagi. Semoga info ini bermanfaat.

Robert Kiyosaki namanya mulai dikenal orang banyak saat menulis buku best sellernya yang pertama, yaitu Rich Dad, Poor Dad. Saya sudah beli 3 bukunya, semuanya best seller tapi buku keduanya yaitu Cashflow Quadrant langsung jadi favorit saya :D.

Salah satu dari isi bukunya adalah 7 tingkat investor. Well, sebenarnya dia hanya mengutip dari statement John Burley, dan memodifikasi jumlah tingkatnya dari 6 menjadi 7. Saya lalu mensharenya ke lebih dari 20 orang teman. Yuk kita lihat apa saja ketujuh tingkat investor ini. Anda masuk yang bagian manakah? Teman2 anda masuk yang bagian manakah?

Tingkat 0 : Mereka yang tidak mempunyai modal untuk diinvestasikan. Orang-orang ini tidak mempunyai modal untuk diinvestasikan. Mereka menghabiskan semua uang yang mereka peroleh. Banyak orang kaya yang termasuk kategori ini karena mereka menghabiskan sebanyak atau lebih banyak dari yang mereka peroleh.

Tingkat 1: Peminjam. Orang-orang ini menyelesaikan masalah finansial dengan meminjam uang. Sering mereka bahkan melakukan investasi dengan uang pinjaman. Mereka mengira lebih banyak uang dapat menyelesaikan masalah keuangan mereka. Tetapi sebanyak apapun uang yang mereka hasilkan, mereka tetap terbenam dalam hutang. Investor tingkat ini sering terlihat kaya. Mereka mungkin mempunyai rumah besar dan mobil mewah. Tetapi kalau anda melihat dengan seksama, mereka membeli dengan uang pinjaman. Mereka mungkin menghasilkan banyak uang tetapi mereka hanya selangkah menuju kebangkrutan finansial. Mereka suka berbelanja “mainan” sambil berkata ini kepada diri mereka sendiri: “Belilah. Kau layak mendapatkannya. Tidak pernah harganya bisa semurah ini. Ini sedang obral.” Bagi mereka, penghasilan mereka tidak akan pernah cukup.

Tingkat 2: Penabung. Orang – orang ini menyisihkan sejumlah kecil uang secara teratur. Uang tersebut disimpan dalam mekanisme penyimpanan beresiko kecil dan berbunga kecil. Seperti tabungan, atau sertifikat deposito. Namun mereka menabung untuk memakai, bukan untuk berinvestasi. Mereka menabung untuk membeli TV, untuk renovasi rumah karena mereka tidak menyukai berhutang. Mereka menyia-nyiakan aset mereka yang paling berharga, yaitu waktu hanya untuk menghemat sedikit uang. Mereka mengejar diskon2 tapi tidak mau meluangkan waktu untuk membaca dan belajar bagaimana cara berinvestasi yang benar.

Tingkat 3 : Investor pandai. Mereka mungkin berinvestasi dalam bentuk reksadana, saham, obligasi, ataupun hubungan rekanan. Ada 3 jenis investor dalam kelompok ini.

– Tingkat 3A: kelompok yang “tidak mau repot” dan berkeyakinan bahwa dipelajari pun tetap saja tidak akan mengerti tentang angka. Mereka cenderung menyerahkan semua masalah keuangan pada orang lain yang bisa dipercaya seperti perencana keuangan.

– Tingkat 3B: Kaum Sinis. Adalah orang-orang yang bisa menemukan segudang alasan untuk menjelaskan mengapa suatu investasi tidak berhasil. Herannya mereka tetap membaca majalah2 keuangan, memantaunya, tapi tidak mau terlibat di dalamnya. Bahayanya, mereka meracuni pikiran orang2 di sekitarnya dengan mengunderestimate sebuah investasi. Sikap sinis adalah perpaduan antara rasa takut dan tidak tahu, sehingga menimbulkan sikap sombong.

– Tingkat 3C: Penjudi. Adalah orang yang langsung terjun ke dunia investasi tanpa mempelajarinya terlebih dahulu dan menganggap arena itu sebagai arena perjudian. Mereka dengan sembrono langsung membeli saham dan berharap akan berhasil, namun kebanyakan akan gagal dan kehilangan semuanya.

 

eaaa..gambarnya kelupaan. Selipin sini aj deh :p

Tingkat 4: Investor jangka panjang. Mereka belajar dahulu sebelum membeli sebuah investasi. Mereka membeli real estate, bisnis, komoditi atau jenis investasi lain yang memiliki tantangan. Mereka biasanya berinvestasi di saham ataupun reksadana saham dengan tujuan yang jelas seperti untuk apa mereka berinvestasi, berapa lama mereka akan berinvestasi. Mereka mengendalikan pengeluaran dan berusaha meningkatkan kemampuan pendapatan. Mereka orang yang sabar, memulai sejak awal, dan berinvestasi dengan teratur. Bagi siapapun yang dibawah tingkat 4, minimal capailah tingkat ini karena tingkat ini adalah cara awal mencapai keamanan finansial. Mulailah hari ini, jangan menunggu karena waktu adalah teman anda. Semakin lama anda memulai, semakin tidak terkejar. Semakin awal memulai, semakin banyak yang anda dapatkan. Bila anda memulai di atas usia 45, semua sudah terlambat.

Tingkat 5: Investor canggih. Investor tingkat ini mampu mencari strategi investasi yang lebih agresif atau beresiko, karena mempunyai kebiasaan mengelola uang yang baik, dasar finansial yang kuat, dan juga ahli dalam hal berinvestasi. Mereka tahu bahwa di saat perekonomian sedang buruk, disanalah peluang terbaik untuk berhasil. Investasi pilihan mereka adalah real estate, discounted paper, bisnis, atau saham keluaran baru. Mereka menempuh resiko yang lebih tinggi dari orang2 pada umumnya, tapi bukan karena mereka penjudi. Mereka sering belajar dan tahu kapan akan keluar dari permainan. Mereka menghadiri seminar investasi, berlangganan buletin investasi dan secara aktif ikut dalam pengelolaan investasi mereka, bukannya menyerahkan pengelolaannya kepada orang lain. Mereka sudah bisa membuat “uang bekerja untuk mereka”, karena pendapatan mereka yang terbesar berada pada kolom aset, bukan gaji.

Tingkat 6: Kapitalis. Hanya sedikit orang yang berhasil mencapai tingkat ini. Tujuan seorang kapitalis adalah membuat lebih banyak uang dengan sinergis mengelola uang orang lain, bakat orang lain dan waktu orang lain. Kapitalis sejati menciptakan investasi dan menjualnya ke pasar. Mereka menciptakan lapangan pekerjaan, menciptakan investasi yang dibeli oleh orang lain. Semakin buruk perekonomian, mereka akan semakin kaya karena mereka tahu cara memanfaatkannya. Mereka bisa menghasilkan keuntungan mulai dari 100% sampai tak berbatas. Mereka terjun ke area dimana semua orang malah akan menghindar. Mereka murah hati kepada teman, keluarga, spiritualisme, dan pendidikan. Kapitalis sejati akan lebih banyak menyumbang daripada tingkat2 lainnya karena mereka menghasilkan sangat banyak uang.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Dan apa respon mereka?

1. Kiyosaki sekarang kan sudah bangkrut, jadi harusnya dia memasukkan tingkat “investor yang bangkrut”.

2. Sistem kapitalis sekarang sudah mulai runtuh, digantikan oleh syariah.

3. Setiap orang bebas memilih dari segi mana mereka berinvestasi, uang kan bukan segalanya. Yang penting kebahagiaan hidup dan kepuasan diri.

4. Kebebasan finansial itu adalah ketika berapapun uang yang kita punya, kita merasa cukup. Pindah kuadran itu menyakitkan dan menyakitkan tidak pernah berkorelasi dengan kebahagiaan (saya sangat appreciate karena berarti setidaknya dia sudah tahu tentang buku yang pertama or kedua).

Kesimpulannya?

Banyak orang ternyata menanggapi ajaran Kiyosaki dengan sinis. Mengait2kannya dengan kebangkrutannya. Mengait2kannya dengan kapitalisme. IMHO, simaklah ajaran orang bukan dari siapa yang menyatakannya tapi apakah ajaran itu memang baik untuk kita atau tidak. Sebagian besar yang sinis karena mereka mendapati dirinya masih di tingkat 1-3. Sebenarnya saya juga ada di tingkat itu, wong saya masih pake KPR tanpa menerima passive income darinya, dan masih mencicil gadget dengan cicilan 0%. Saya juga sampai sekarang masih terus menabung untuk merenovasi rumah (yang sepertinya tidak pernah puas untuk terus merenovasi) dan jalan2 (kalau bisa ke seluruh dunia).

Namun alhamdulillah, walau sedikit saya juga masuk ke tingkat 4 (walau tidak begitu canggih juga, sebenarnya) karena menginvestasikan sebagian uang saya di reksadana saham syariah dengan tujuan menyiapkan dana pensiun. Saya tahu dengan pasti bahwa dana pensiun program DPLK dari perusahaan itu, ga kan cukup untuk membiayai gaya hidup saya waktu tua nanti karena pertumbuhannya yang kecil plus masih dipotong pajak pula 25%.

Saya bisa bicara begini karena ayah saya baru pensiun. Dari uangnya yang sebanyak berapa M itu, dipotong 25% ternyata lumayan menyakitkan. Dari yang tersisa itu, beliau memutuskan untuk berbisnis tapi sampai saat ini statusnya masih merugi alias belum ada yang berhasil karena..? karena mulai belajar bisnisnya telat, baru sekarang. Dari sekian yang tersisa. masih ada pula yang ditipu oleh orang (oow, pensiunan dengan pesangon banyak itu adalah santapan empuk para penipu loh). Jadi berapa yang tertinggal untuk menghidupi diri sampai setidaknya usia 75 tahun bersama ibu saya? Inflasi terus merambat naik. Uang yang sekarang kelihatan sangat besar, besok2 seperti apa nilainya? Tahukah anda bahwa rupiah kita kemungkinan akan dikembalikan lagi ke angka 1 karena angkanya yang sudah terlalu banyak nolnya? Karena apa? Karena inflasi.

Saya juga menginvestasikan uang ke reksadana saham syariah dengan tujuan menyiapkan dana pendidikan anak karena saya tahu bahwa dana pendidikan mahal sekali. Ga kebayang waktu saya masih di UGM dengan status subsidi, SPP hanya 450rb/semester. Sekarang per-sksnya sudah 75rb. Uang masuknya bisa 45 juta bahkan lebih. Dulu masih banyak ditemukan orang yang memakai sepeda, sekarang mobil yang berbaris disana. Bagaimana dengan nanti?

Kembali ke laptop, jadi sungguh tidak salah jika memang tidak semua orang bisa menerima kutipan Kiyosaki di atas. Setiap orang berhak memutuskan untuk dirinya sendiri, setiap orang bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Saya pun menyampaikan hanya dengan maksud membuka wawasan. Kalau orang yang dituju tidak menerima, apa hak saya untuk memaksa? Toh keuangannya bukan menjadi urusan saya :). Toh mereka juga siapa tahu memang benar. Namun jika ada yang terketuk dan berusaha memperbaiki dirinya, setidaknya saya beramal jariyah. Saya sendiri tidak termasuk bagus di “tingkat” ini tapi terus berusaha untuk ke arah yang lebih bagus, dengan cara yang halal. Amin..