Posts Tagged ‘museum belitung’

Apa wisata Belitung itu cuma wisata pantai doang? Oh ya tidak donk. Berikut adalah tempat wisata recommended lainnya.

Penambangan Timah

Sebenarnya di sepanjang perjalanan kita bisa melihat berbagai macam bekas penambangan timah. Ada yang dangkal karena penambangannya tidak besar, ada juga yang dalam banget. Bila sudah ditinggalkan, bekas penambangan ini akan diisi oleh air hujan sehingga warnanya menjadi coklat. Kami sempat singgah ke bekas penambangan kecil yang kebetulan dilewati dan diceritakan sedikit tentang proses penambangannya. Lumayan buat tambah ilmu kan? :D. Btw, kita bisa juga datang ke penambangannya yang besar dan bisa masuk ke dalam lubang galiannya (open pit), asal kuat aja sih. Tapi apakah aman? Gw ga tau tuh..karena ga sempat kesana. Sampai sekarang masih ada pemuda Belitung yang mencari timah secara kecil2an. Lumayan, katanya bisa dapat sekitar 200-300 ribuan/hari. Selama disana, gw hanya melihat penambangan timah yang kecil saja. Fotopun tidak ada yang representatif jadi ga bisa ditayangkan deh :(.

Danau Kaolin

Tadinya asal dengar nama Danau Kaolin otomatis telinga gw nge-set ke Danau Shaolin (loh kok?). Ternyata dinamakan Danau Kaolin karena danau ini tercipta akibat penambangan kaolin. Apa sih kaolin? Kaolin itu semacam mineral yang salah satu penggunaannya adalah sebagai bahan dasar bedak. Karena warna mineralnya putih, Danau Kaolin menjadi indah sekali sebab dikelilingi oleh tebing putih kaolin dan  diisi oleh air yang berwarna biru. Kalau airnya kurang biru, artinya tempat penambangannya kurang dalam atau bisa juga kaolinnya belum terpadatkan sempurna sehingga larut ke air danaunya. Cantik sih cantik, tapi jangan pernah berpikir untuk berenang disini karena konon lumpur di dalamnya menghisap badan kita. Penambangan Kaolin ini dalamnya bisa mencapai puluhan meter dan tebingnya juga rentan longsor sehingga tidak disarankan untuk didatangi oleh anak kecil maupun berfoto dengan jarak yang terlalu dekat ke bibir tebing. Bila dilihat dari atas (pesawat), wajah Belitung seperti rupa bulan yang capuk-capuk luka yang tidak diobati (metafora apa ini?). Capuk2 ini akibat penambangan timah dan kaolin tersebut.

Vihara Dewi Kwan Im

Vihara ini menjadi terkenal karena merupakan vihara tertua di Belitung (dan mungkin juga yang terbesar?). Bila waktu Imlek dan sembahyang kuburan tiba, vihara ini rameeee sekali. Gw sendiri baru pertama kali mengunjungi vihara. Warnanya merah dan secara sepintas, displaynya memang menarik mata. Menuju vihara terdapat ratusan anak tangga yang dibuat dengan bentuk zigzag sehingga sama sekali tidak melelahkan menaikinya. Aroma dupa tercium walau tidak begitu kental. Gw masuk ke dalam vihara dan music cina terdengar sayup2 berkumandang. Orang2 berdoa dengan menggenggam hio di katupan tangannya. Di dindingnya tertempel banyak lukisan, salah satunya Dewi Kwan Im yang berdiri di atas naga ini.

Kabar dari blog tetangga, ada peramal jago yang bermukim disini. Maka gw pun jadi penasaran dan pengen tau metode meramalnya (tsah!). Peramal alias penjaga vihara kemudian menanyakan nama dan topik apa yang pengen diramal. Gelagapan karena bingung, akhirnya gw jawab seadanya, “Kesehatan, Koh.” Kemudian ia mengambil semacam kumpulan bandul berbentuk kotak, berdoa, lalu bandul itu dilempar ke atas meja. Sepertinya ia kemudian membaca arti lemparan bandul, lalu mengambil kotak hio. Kotak hio berisi kumpulan lidi itu diguncangnya berkali2 sehingga salah satu lidi keluar. Di lidi itu sepertinya ada tulisan, ia baca tulisan itu, kemudian…ia ulang metode tadi dari awal. Hal ini terus dilakukan sampai 5x (kalau ga salah). Kenapa cuma 5x dan bukan 3x or 10x, gw ga tau.

Nah! Pada pengulangan yang ke-5, keknya lidi yang keluar udah memenuhi persyaratan. Ia baca tulisan di lidi dan segera pergi menuju ke kumpulan kertas berwarna kuning yang tergantung di dinding. Ia ambil secarik kertas yang sesuai dengan no yang tertera di lidi, itulah hasil ramalan gw! Satu sisi adalah bahasa Cina, sisi lain adalah terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Bahasanya seperti kata mutiara sehingga kening gw spontan jadi kerut merut dalam memahami isinya. Tapi lagi2 menurut penerawangan gw, kemungkinan artinya adalah : SEBENTAR LAGI REJEKI ANDA AKAN BERLIPAT GANDA. Huahahahahaaa!! (*penerawangan seenak jidat, jelas2 tadi mintanya tentang kesehatan). Btw, jangan lupa sisihkan uang untuk dimasukkan ke dalam kotak sumbangan ya, seikhlasnya saja.

Replika Laskar Pelangi di Gantong, Belitung Timur

Bagi yang udah baca bukunya dan atau menonton filmnya, pasti tau dengan SD Muhammadiyah Gantong tempat Laskar Pelangi menuntut ilmu. Di dalam buku dan film dikisahkan bahwa saking ringkihnya, bangunan sekolah ini harus disangga dengan pohon kelapa agar tidak rubuh. Kenyataannya bangunan SD itu sekarang sudah tidak ada lagi secara itu kisah pribadi Andrea Hirata berapa puluh tahun yang lalu ya? Mungkin bangunannya memang sudah rubuh beneran atau Laskar Pelangi benar2 murid terakhir di sekolah itu, gw ga tau pasti. Tapi untuk kepentingan film, akhirnya dibuatkanlah replikanya. Nah replika yang sekarang kami kunjungi itupun ternyata bukanlah tempatnya yang asli sesuai syuting filmnya. Tempatnya yang asli sekarang sudah dijadikan ruangan kelas untuk sekolah yang ingin memperluas bangunannya. Akhirnya replika tersebut dipindahkan ke tempat yang sekarang (yang gw ga tau nama pasti tempatnya), namun oleh Pemda Belitung pondasinya dicor agar lebih kokoh.

Sekarang replika itu berdiri kesepian karena di sekelilingnya benar2 tidak ada bangunan apapun, hanya pasir putih dan pepohonan hijau. Tampak terasing sehingga gw jadi kasihan..padahal kisah Laskar Pelangi bisa dikatakan berhasil membuka mata nasional bahkan internasional akan keindahan Belitung. Wisatawan mau menempuh 1.5 jam dari Tanjung Pandan hanya untuk melihat yang manakah SD Muhammadiyah itu, namun replikanya sendiri sekarang tidak terurus dengan layak. Melihat bangunan ini langsung bisa membayangkan Laskar Pelangi belajar disana. Memang pengaruh film itu kuat sekali ya :), salut buat Andrea Hirata yang berhasil mengemasnya menjadi begitu apik. Mumpung disini sekalian gw lihat yang mana Sungai Linggang, yang mana toko kapur Manggar tempat cinta Ikal bertunas.

Museum Belitung

Tempat yang tak diduga-duga membuat kami tertahan cukup lama ternyata adalah sebuah museum. Apa yang ada di benak lo begitu mendengar kata museum? Well, kalo gw sih ga gitu tertarik. Begitu dengar kata museum, yang terbayang adalah bangunan tua yang diisi oleh benda2 yang tak kalah tuanya :p. Seperti itu jugalah kurang lebih Museum Belitung. Wajar kalo begitu datang gw langsung menghela nafas dan segera menggelesor ke bagian Pertambangan Timah. Lumayanlah, disana ada maket2 yang menggambarkan bentuk2 penambangan timah.

Namun the best-nya museum ini ternyata adalah ruangan “Harta Karun”. Pertama, lantai di ruangannya udah diganti dan dindingnya sudah dicat ulang sehingga suasananya menjadi lebih terang. Kedua, ada banyak foto atau gambar2 besar yang ditempel di dinding, yang banyak menjelaskan tentang harta karun. Ketiga, ada Pak Salin, penjaga museum yang menerangkan buanyaaak hal sehingga gw merasa menjadi sungguh excited. Oh Pak Salin, harusnya bapak berdiri menyongsong begitu kami datang sehingga tidak banyak waktu habis hanya untuk plongak plongok isi museum tanpa tahu artinya.

Topik harta karun sendiri selalu mengingatkan gw ke Tintin-harta karun rackham merah :p. Cerita dikit yak, hehehe. Jadi dalam jalur perdagangan, pelayaran kapal tidak selalu mulus. Ada saja yang mengganggu entah karena kesalahan nahkoda, atau musim yang tiba2 berganti, atau diserang perompak? Hii. Karena faktor2 di atas akhirnya kapal  karam bersama barang bawaannya. Tentu saja bayangan gw harta karunnya berupa emas batangan berkilo2 beratnya (ngarep) tapi kebanyakan isinya ternyata adalah barang dagangan contohnya adalah porselen dari Cina. Memang Cina dari dulu terkenal sekali dengan porselennya yang halus. “Pak Salin, kenapa barang yang ada disini pada pecah semua sih?” Ternyata begitu harta karun ditemukan, sudah ada pembagiannya masing2. Sekian persen buat negara yang nantinya akan dilelang lagi (kayaknya ini kualitas terbagus), sekian persen buat ditaruh di museum Jakarta, sisanya baru deh ke museum daerah. Makanya wajar kalau kualitas yang didapat rada2 mengecewakan soal yang bagus2 udah diambil duluan :D.

Itu ada foto gw en suami bersama kuali yang terbuat dari baja. Eit itu bukan kuali biasa ya. Itu adalah contoh kuali dari ribuan kuali yang terdapat pada bagian bawah kapal. Kuali2 ini berantai satu sama lain. Jadi ceritanya begitu kapal mengarungi sungai maka rantaian kuali akan bergerak seperti rantai motor, mengeruk endapan di bawah sungai yang mengandung timah. Ini masih yang ukuran kecil. Kuali2 itu ukurannya bisa sampai 4x kuali yang di foto ini.  Bayangkan kalo yang dikeruk itu endapan manusia.. (#kenapa malah ngebayangin ke sana??). Oiya, kalau mau liat buaya artis alias buaya gede yang hadir di film Laskar Pelangi, silahkan kunjungi kebun binatang mini yang masih berada 1 kompleks dengan museum.

Pantai Pendam

Bagi lo yang suka dengerin live music, atau nonton bola bareng, atau karaokean, silakan datang ke Tanjung Pendam. Di tempat ini ada banyak kafe berderet yang menyediakan fasilitas2 di atas tadi. Jam operasionalnya 19-23 malam. Karena kami datang di hari Selasa, jadinya tidak begitu ramai. Tapi menurut Pak Buyung, tempat ini ramai sekali di hari Sabtu dan Minggu. Gw en suami kemarin memilih ke Kafe Unique karena kita dengar live music dari sana. Tadinya kita agak underestimate dengan penyanyinya (maaf ya..) soal kita pikir palingan bawa lagu2 Melayu seperti ST 12, Kangen Band atau D’Bagindas tapi ternyata salah sama sekali. Lagu2 yang mereka bawakan berkualitas dan memiliki vokal yang tinggi seperti Celine Dion, Whitney Houston, Mel Sandy, dll dan suaranya…perfecto!! Layak deh masuk Indonesia Idol. Suami gw yang mantan vokalis, tadinya mau nyumbang lagu eh jadi malu hati sendiri dan lebih memilih untuk mendengarkan, hehehe. Menu makanannya sendiri bermacam2 dengan kisaran harga 25 rb-an tapi rasanya kurang memmorable. Mending pesen camilan aj semacam kentang goreng. Kami yang tadinya hanya ingin lihat2 situasi ternyata betah duduk manis dengerin live music selama 3 jam. Hmm..not bad :D. Foto? Ga ada soalnya malam sih..efek cahaya jadi kurang bagus :p.

Demikian resume dari tempat wisata yang kami kunjungi. 3 hari 2 malam sudah sangat puas disana, mungkin kalau sempat mengunjungi Belitung Selatan bakal lebih maknyus lagi ya. Silakan bagi yang udah pernah ke Belitung, ditambahin lagi list tempat wisatanya.. :).

 

Advertisements