Posts Tagged ‘jasa arsitek’

Jadi kayak cerita bersambung nih, ehem2. Kali ini gw akan bercerita tentang arsitek gw yang pertama. Bagi para pembaca yang sebelumnya sudah membaca postingan gw tentang renovasi rumah, mesti nyambung nih :p.

Arsitek gw yang pertama bernama Bapak W. Cerita berawal dari gw -yang punya hobi melihat2 rumah orang- lagi jalan2 di suatu hari melihat perumahan yang ada di sebelah komplek perumahan gw. Disana, gw menemukan ada 3 rumah yang desainnya rada mirip, letaknya berdekatan, yang mana gw suka banget ma fasadnya! Otomatis gw langsung berpikir kalo nih 3 rumah mesti deh ada hubungan kekerabatan. Karena suka, akhirnya tiap lewat sana, tuh 3 rumah selalu gw perhatikan sampai pada suatu ketika..keluarlah seorang bertampang tukang dari rumah tersebut.

Tukang : “Ada apa Mbak?” (curious kali saking seringnya gw ngetem disini :p)

Gw : “Ini, saya suka banget ma 3 rumah ini dan kok kayaknya hampir mirip ya. Siapa ya arsiteknya..” (mana tau si tukang tau)

Tukang : “Oh ya memang mirip Mbak. Yang sebelah sana itu rumah si Bapak. Yang Mbak sedang liat ini rumah anaknya yang kedua. Nah yang di belakang kita rumah anak yang kedua. Arsiteknya namanya Pak W. Saya tukangnya (tuh bener kan profesinya). Kalau berminat, ayo masuk ke rumah ini Mbak, orangnya lagi ga ada soal rumah ini mau dikontrakkan.”

Weleh, lucky banget gw langsung bisa dapat nama dan no telv si arsitek. Karena waktu terbatas akhirnya gw hanya minta no telv si Bapak W. Sampai di rumah langsung gw hubungi untuk mendesain rumah yang memang udah pengen gw renovasi itu. Tarif si Bapak bukan permeter seperti arsitek gw yang kedua, melainkan 5% dari harga total bangunan asetelah direnovasi. Singkat cerita pada suatu ketika si Bapak W datang ke rumah, berbincang sedikit, dan mulai mendesain.

Nah ada beberapa hal yang gw agak kurang sreg sama nih Bapak. Pertama, beliau tidak secara cermat mengukur luasan rumah gw. Cuma datang, melihat, menerka2 berapa ukurannya, menggambar dengan kasar, udah deh mulai merancang desain. Lah gimana dia bisa tau itu kamar ukuran 3×3 atau 2.8×2.8m coba kalau ga bener2 dihitung? Dan bener kan, dalam rancangannya dia berasumsi kalo rumah gw luasannya 200m2 padahal aslinya rumah gw cuma 195m2 karena tanah yang di belakang bentuknya rada miring. Yang kedua, komunikasi kami hanya berjalan 1 arah. Maksudnya selaluuuuu gw yang menelvon dan bertanya “Pak, sudah selesaikah rancangannya? Kapan bisa ketemu?”. Gw kasih waktu sebulan. Saat gw telvon untuk melihat progressnya, dia minta waktu seminggu lagi yang mana akhirnya dia datang 2 minggu lagi, itupun progressnya ga semaju yang gw perkirakan. Emang sih ni Bapak udah senior, sibuk kali ya banyak project disana sini, tapi ya gw gondok juga :(.

Terakhir kali ketemu, rancangan denah dan fasad udah jadi. RAB renovasi tahap 1 juga udah diberikannya. Habis itu dia menghilang entah kemana dan gw pun malas menghubunginya lagi. Sepeserpun gw belum ada mengeluarkan uang karena emang si Bapak W sendiri yang minta pembayaran di belakang. Demi itikad baik, gw pun akhirnya tidak pernah memakai rancangannya namun tetap gw arsipkan. Silakan lihat hasilnya di bawah :).

Waktu memulai proses desain, gw meminta Bapaknya untuk membuat rumah dengan model split level. Artinya, lantai di rumah ini tidak sama dari depan ke belakang, tapi berundak2. Bisa dilihat dari garasi ke ruang makan ada tangga. Dari halaman ke teras ada tangga. Dari ruang tamu ke ruang keluarga ada tangga lagi. Dari ruang keluarga ke kamar utama, ada tangga. Dari kamar utama ke kamar anak ada tangga lagi. Walau banyak tangga namun jumlahnya tidak banyak. Ruangan menjadi tidak monoton, namun luasnya jadi berkurang :p. Biaya pembangunannya juga pasti lebih mahal karena berarti ada lahan yang mesti ditimbun supaya jatuhnya lebih tinggi.

Fasad yang dirancang oleh Bapak W adalah model art deco. Ini juga permintaan gw karena tiap ke Bandung gw selalu terpesona dengan model hunian zaman Belanda itu. Ternyata model art deco kayaknya kurang oke kalau diterapkan untuk bangunan 2 lantai (menurut gw loh ya). Soal bentuknya jadi kayak kotak TV, dikasih jendela, hehehehe. Kubus, gitu loh maksudnya. Emang sih kalo gw liat rumah2 Belanda di Bandung itu rata2 pada 1 lantai dengan halaman yang sangat luas.

Sekian dulu ulasannya. Gw suka rancangan arsitek gw yang pertama dan kedua, tapi kalau fasad kayaknya lebih prefer ke model tropis dari arsitek yang kedua sih :). Mungkin ada yang suka art deco? Monggo kalau mau dijiplak saja 😀

Masih ingat kan postingan gw sebelumnya yang tentang renovasi rumah? Hehehe..akhirnya cita2 gw untuk memakai jasa arsitek dalam merenovasi rumah terkabul juga, alhamdulillah…(terharu, hiks!). Sebenarnya yang gw bicarakan sekarang adalah hasil karya dari arsitek gw yang kedua, namun sudahlah gw ga akan membahas ada apa dengan arsitek sebelumnya karena bakalan panjang ceritanya. Naaah arsitek gw yang kedua ini bernama Ari Endra Kristianto, angkatan 98 or 99 dari Universitas Parahyangan. Secara tidak langsung dikenalkan oleh adek gw. Singkat cerita, saat itu gw udah jenuh banget ma kondisi rumah yang ruang cuci jemurnya sangat terbatas. Saking terbatasnya, sampai2 tuh jemuran harus dilamparkan di atap, so pasti dari rumah tetangga keliatan gitu deh merah-kuning-ijo, warnanya si baju2. Bisa aj sebenarnya gw jemur di halaman depan (secara ga punya halaman belakang) but gw paling antipati memamerkan jemuran di depan rumah. Kayaknya benar2 menjatuhkan keindahan rumah gitu loh.

Selain dengan kondisi ruang cuci jemur yang memprihatinkan, entah kenapa rumah yang dulu gw anggap cantik itu perlahan mulai keliatan boroknya. Misalnya nih, dinding yang berbatasan dengan tembok tetangga sebelah kiri gw. Nah itu dinding bocor dari tengah rumah mpe ujung belakang, so pasti muncul alur2 zebra di dinding rumah gw yang awalnya bercat mulus itu. Selain itu, 50% dari tembok rumah gw ada noda rembesan air. Selidik punya selidik, ternyata tu tukang pertama yang dulunya merenov rumah gw main cat aj, ga tunggu sampai temboknya kering!! Grrr… Demikian juga dengan taman dalam rumah yang dulu gw buat untuk menambah sirkulasi udara. Karena air hujan masuk, akibatnya catnya sekarang lumutan, ga enak banget deh diliatnya. Jadi semua hal itulah yang gw keluh kesahkan pada si arsitek untuk tolong dibenahi. Pluus..ada keinginan gw juga sih untuk nambah beberapa ruangan. Arsitek gw langsung menyerahkan kertas yang harus gw isi dengan daftar kebutuhan ruangan. Karena nanti dari sanalah si arsitek mulai merancang desain rumah.

Sebenarnya rumah gw udah terbilang cukup luasannya, yaitu 150 m2 yang berdiri di atas tanah 200m2. Bila dibandingkan dengan rumah2 di kampung halaman (Sumatera), luas rumah gw ini termasuk kecil, tapi untuk kawasan Jabodetabek, gw harus sangat bersyukur bisa mendapatkan tanah seluas ini dengan harga yang lumayan miring. Rumah ini sudah punya 3 kamar (yaitu kamar utama, kamar tamu, dan kamar housemaid), ruang keluarga, ruang tamu, dan dapur yang lumayan, serta kamar mandi 3 buah. Namun selain ruang cuci jemur yang luas, gw pribadi punya impian memiliki taman di belakang rumah buat main2 anak gw, serta kamar anak, juga garasi dalam rumah.

Akhirnya gw corat-coret kertas tersebut dan gw tuliskan kebutuhan ruangan yang gw en suami inginkan. Pekerjaan ini cukup menyenangkan, daftar ruangannya nambah dari waktu ke waktu :p tanpa menyadari bahwa luasan dari ruangan itu ternyata menentukan seberapa besar fee arsiteknya, dowewewewew. Berikut final dari kebutuhan ruangannya : carport, taman depan rumah, garasi dalam rumah untuk 1 mobil 2 motor dan 2 sepeda, kamar tamu seluas 12 m2, kamar mandi tamu, ruang tamu secukupnya saja, ruang keluarga yang bueesaaar digabung sama ruang makan, dapur minimal 9m2, gudang 12m2, kamar utama minimal 20m2 plus kamar mandi di dalam, 2 kamar anak masing-masing luasnya 12m2, kamar mandi anak, kamar housemaid seluas 8m2, kamar mandi housemaid, ruang cuci jemur seluas 12m2, mushola, dan taman belakang rumah. Plus gw tegasin bahwa yang gw inginkan adalah rumah beratap segitiga dan bukan minimalis. Akhirnya dibuatin deh kayak yang di bawah ini

Pertama2, arsitek merancang denah rumah dahulu. Proses ini memakan waktu 1.5 bulan karena yaah..gw rada cerewet si :p. Kecian juga arsiteknya, ngadepin emak2 yang banyak mintanya ini, ihihihihi. Namun alhamdulillah, gw puas dengan hasilnya. Total luas bangunan menjadi 266 m2. Terus terang kalo untuk ukuran keluarga gw yang sekarang, ini termasuk besar sehingga akhirnya gw membagi renovasi tersebut menjadi 2 tahap. Yang perlu sekarang ya didahulukan, yang belum perlu sekarang ya nanti2 waelah. Rancangan yang gw terima lengkap mulai dari desain denah, fasad, pipa pembuangan, kusen, pondasi, rangka atap, saluran listrik, dan RAB (Rancangan Anggaran Biaya) yang langsung dibagi menjadi 2 yaitu renovasi tahap 1 dan renovasi tahap 2. Total waktu desain sekitar 3 bulan. Begitu gw liat total RAB-nya, tuing2..(pengen mejem aj nih mata, malas ngeliatnya :p), gw jadi kepikiran..ahhh mending dibagi 4 tahap dah kalo gini, ehehehehe.

Berikut adalah rancangan denah ruangan untuk lantai 1 dan lantai 2 :).

Dan ini adalah contoh layout ruangan lantai 1. Standar aj ya..toh isi dan desain ruangannya nanti si pemilik alias saya yang menentukan, hohohoho

Hmmm..kapan ya mulai renovasinya? Ngumpulin uangnya dulu aah 😀 :D, toh ini rancangan rumah untuk 10-15 tahun mendatang, wkwkwkwk.

Siapa sih yang ga pengen punya rumah sendiri? Selain sebagai kebutuhan primer manusia yang pasti membutuhkan tempat tinggal, rumah dan tanah juga cocok banget dijadikan investasi. Kebanyakan dari kita membeli rumah untuk ditempati dalam kurun waktu puluhan tahun. Harganya juga mahal, ga kayak pisang goreng yang lima rebu bisa dapat 3. Dua faktor tadi membuat kita harus berhati2 dalam membeli dan memilih rumah. Berikut adalah beberapa tips dalam memilih rumah yang mungkin bisa membantu :).

  1. Kenaikan harga rumah melebihi kenaikan gaji. Karena itu, jika perusahaan anda menyediakan fasilitas pinjaman ringan untuk membeli rumah (sering disebut dengan HOAP/HAP/HOP, etc), segera manfaatkan. Itu akan sangat sangat membantu.
  2. Jika perusahaan anda tidak menyediakan pinjaman lunak seperti itu sementara anda punya penghasilan cukup untuk membayar cicilan rumah, segera gunakan fasilitas KPR. Untuk rumah, tidak apa-apa jika anda memilih cicilan terlama (10 tahun atau 15 tahun), toh harga tanah akan naik terus.
  3. Pastikan rumah anda memiliki sumber air yang bersih. Sekedar berbagi saja, saya mengenal satu developer rumah yang membangun rumah dekat sekali dengan kali pembuangan sampah. Lantas apa yang ia lakukan? Kali kecil tersebut ia timbun, sehingga kalo kita lihat keadaannya sekarang, akan tampak seperti tanah kebun biasa. Tapi tidak demikian dengan sumber airnya. Airnya berwarna kekuningan. Dan air itu akan digunakan untuk MCK selama bertahun2? Waspadailah.. :(.
  4. Pilihlah lokasi yang bebas banjir. Banjir bisa menyebabkan kendaraan anda rusak, rumah anda rusak, barang2 anda rusak, dan lingkungan yang tidak sehat. Info mengenai banjir bisa anda tanyakan pada calon tetangga.
  5. Pilihlah lokasi rumah yang tidak akan kena gusur oleh Pemda (bisa cek di kantor Pemda). Baik kena gusur karena pelebaran jalan, pembangunan jalan tol, pembangunan flyover, pembuatan SUTET, atau yang lain2. Kalau kena gusur, biasanya (biasanya loh ya) ganti ruginya tidak akan sesuai dengan NJOP. NJOP aj biasanya ga sesuai dengan harga pasar!! Di dekat kompleks saya dibangun flyover. Pembangunan flyover ini serta merta langsung mematikan bisnis ruko yang berada di sekitarnya. Bagi anda yang membeli ruko untuk investasi, ini bisa gaswat!! Jadi selalu dan selalu cek rencana Pemda agar jangan menyesal di kemudian hari.
  6. Pilih lokasi rumah yang berada dalam lingkungan sehat secara sosial, dalam artian di sekitarnya tidak ada rumah bordil, tempat kongkow anak2 yang suka berjudi dan maksiat, pos preman, dan lain2 yang mengerikan. Hal ini penting untuk kehidupan sosial buah hati anda.
  7. Saya pribadi lebih lebih menyarankan untuk membeli rumah seken yang dibangun sendiri daripada rumah baru bikinan developer. Alasannya banyak. Pertama, harganya jauh lebih murah sehingga anda akan mendapat luasan yang lebih besar. Kedua, rumah bangunan sendiri biasanya mutunya lebih bagus daripada bikinan developer. Kenapa? Rumah bangunan sendiri otomatis kan dibangun untuk pribadi, sedangkan rumah bangunan developer itu tujuannya adalah cari untung. Jadi kualitas bangunan tidak setara dengan harga rumahnya. Tapi ingat, ini tidak berlaku untuk semua developer. Anda dapat membeli rumah dari developer yang anda percaya :).
  8. Anda seorang karyawan? Bagi orang yang tinggal di Jakarta, dimana ke kantor saja bisa menghabiskan waktu 1–2 jam, akses menjadi hal yang wajib diperhatikan. Pilih rumah di lokasi yang gampang untuk mencapai tempat kerja anda.
  9. Pilih rumah yang statusnya jelas. SHM akan lebih tinggi harganya daripada HGB. Jangan membeli rumah yang sedang dalam status sengketa. Untuk mencegah hal ini, anda dapat menanyakannya pada notaris anda.
  10. Bila anda ingin membangun rumah sendiri dan mempercayakannya pada arsitek, selalu cek dan cek hasil kerja arsitek. Saya punya teman yang membangun rumah berdasarkan rancangan arsitek, namun hanya desain saja sedang untuk proses pembangunan dipercayakan seluruhnya pada kontraktor. Ternyata setelah diukur oleh kontraktor, tanah mereka bentuknya trapesium, tidak seperti rancangan arsitek yang persegi panjang. Otomatis, denah rumah mesti berubah lagi dan tentu saja ini berimpak pada dana. Saya juga punya pengalaman serupa. Arsitek datang, melihat2 rumah, tanya sekenanya, dan langsung memutuskan bahwa rumah saya ukuran 200m2 (10x20m). Ternyata setelah saya hitung dengan meteran, rumah saya luasnya hanya 195m2 (10×19.5 m). Kontan saya langsung minta ubah rancangannya saat itu juga agar tidak rugi di kemudian hari. Jadi selalu pastikan arsitek mengukur luas tanah anda dengan benar.
  11. Baru deh cek kondisi bangunan. Dan seabreg syarat sekunder lainnya seperti, apakah model rumah sesuai dengan impian anda? Apakah dekat dengan mall? Apakah dekat dengan sekolah bermutu? Dekatkah dengan sarana transportasi umum, dll.

Baiklah, selamat berburu rumah. Semoga rumah anda mendatangkan berkah. 😀

 

 

 

Punya rumah sendiri menjadi impian banyak orang, termasuk gw. Alhamdulillah banget, kerjaan gw sekarang mengizinkan gw untuk bisa memiliki rumah sendiri walo harus nyicil 15 taon lamanya. Setelah browsing, ngider2 semua daerah mulai dari Serpong, Bintaro, Cibubur, Cinere, dan Depok (Jakarta ga kita liat ya…dah jelas ga mampu duitnya), akhirnya kita (gw en suami tercinta) memutuskan untuk membeli rumah di Depok. Tentu saja pemilihan lokasi ini melalui tahap yang rumit seperti diskusi, ngambek2an, berantem, sampai rugi 5 jt karena udah setor duluan ke perumahan lain T-T.

Kita pilih di Depok karena sodara banyak yang tinggal disana. Jadi ada yang bisa dimintai tolong kalo lagi butuh (hihihihi, maunyaaa) dan mudah bersilaturahmi. Kita engga milih rumah dari developer karena suami gw (masih calon si saat itu) berpendapat orang yang tinggal di rumah developer biasanya lebih bersifat individualis (ah masa syihh), yawda gw nurut ajalah.

Rumah kita beli bulan Maret 2007 dari tangan 1 seharga 295 juta. Luasnya 150/200 m2. Kondisi dalam keadaan carut marut (boleh liat foto), dimana catnya udah ada yang rontok, keramik ga sama ukurannya, bocor sana-sini. Dan emang ni rumah udah tua, dibangun kisaran tahun 1985, hampir seumur gw (muda2in diri), tapi pondasinya masih oke banget. Menurut gw sih murah..ditambah aksesnya ke mana2 dekat, ke ITC dekat, ke terminal (mau itu KA, bis, mpe angkot) juga dekat. Kondisi jalan sih emang banyak lubangnya tapi kita positif thinking aj, paling ga lama lagi diperbaiki ma Pemda, wkwkwk. Aselinya ada 4 kamar (termasuk kamar pembantu), 3 kamar mandi, dapur, carport, ruang tamu, ruang keluarga, ma ruang makan.

Abis beli, sekitar bulan Okt 07 langsung kita renov agar tampilannya menjadi lebih ciamik. Budget yang kita anggarkan sekitar 10 juta (objektifnya cuma mau ganti keramik sedikit dan cat ulang) tapi ya inilah yang namanya renovasi itu ya sodara2, kalo ga ati2, biaya bisa membengkak!! Walhasil, total renov pertama gw sekitar 30 juta, see? 3x lipatnya bow dan semua itu gara2 gw gatau diri minta mindahin dapur, minta perbaiki kamar mandi, minta dibuatkan 2 taman dalam rumah, dan bobok beberapa tembok agar lebih lapang. Pengerjaannya sekitar 3 bulanan, dan yang bikin repot adalah waktu itu gw ma calon suami masih ngekos di Pancoran, otomatis kita cuma bisa ngecek kerjaan tukang hari Sabtu Minggu.

Puas?? Rada kuranglah yaa..secara perkembangan dalam 1 minggu kan lumayan banyak, dan belum tentu yang dikerjain tukang sesuai ma yang lo pikirkan. Jadi pesan moralnya adalah : kalo mau renovasi rumah, mending lo ngekos dekat rumah lo jadi bisa senantiasa ngecek pekerjaan tukang. Tapi walo rada agak kurang puas, gw tetap bersyukur karena kondisi rumah menjadi jauh lebih baik. Dapurnya cukup luaasss (9 m2), padahal gw si ga bisa masak. Untuk membangun dapur itu, gw terpaksa merelakan satu kamar hilang. Yang bikin rada kesal, bocornya tetep aj masih ada. Hhh, tukangnya ga recommended banget de, kita ogah make jasanya lagi.

Setelah merit di February 2008 (cihuuy!!, akhirnyaaaaa), kita percantik lagi ni rumah di bulan Juni 2008. Objektif kali ini adalah bagusin taman depan rumah, ganti teras, ganti pagar, sama buat carport. Ganti tukang, of course lah ya, ni tukang rekomendasi dari suami ipar gw. Bedanya, kali ini si tukang bikin RAB, yang kemudian kita sepakati bersama. Jadi ga ada istilah dana tiba2 membengkak, karena semua termaktub di RAB itu. Jadi pesan moral yang ke-2 adalah : selalu minta RAB dari tukang agar terhindar dari biaya2 yang tidak jelas. Total biaya sekitar 15 juta (taman plus teras 2 jt, pagar 6 jt, carport 7 jt). Setelah semuanya dibenerin, waah, gw langsung lega, kali ini gw merasa bener2 tinggal di rumah (hem2). Tapi itu hanya perasaan sesaat. Karena lama2 taman gw yang sebelumnya ditanami rumput gajah mini, eee, sekarang malah lebih banyak rumput gajahnya!! Kayaknya gw kena tipu ma ni tukang L. Jadi pesan moral ke-3 : kalo sempat, usahakan beli barang sendiri biar ga kena tipuuuu!!

Sekitar bulan April 2009, kita renovasi lagi. Kali ini objektifnya membongkar taman dalam rumah untuk dijadikan mushola (kebukti banget kalo taman dalam rumah adalah sumber dari datangnya nyamuk dan tikuuus!!), mengganti talang air agar tidak bocor lagi, dan membuat kitchen set (bagian bawah aj). Kali ini tukangnya rekomendasi dari tetangga sebelah rumah gw. Emang si, waktu gw liat rumah bikinan tukangnya, kok ya apik gitu, nuansa Bali. Kayaknya oke juga nih tukang, pikir gw. Yasud, kita sama bapak itu aj (orang Bali). Sama nih, tukangnya juga udah professional, langsung bawa RAB yang jauh lebih lengkap. Totalnya gw kena 12 jt (mushola 4 jt, talang air 2.5 jt, kitchen set 5.5 jt). Kerjaan Bapak Bali lumayan rapi weii, walo dari 6 titik bocor yang ada masih sisa 1.

Kesimpulannya,  untuk menjadi bentuk sekarang ini gw udah menghabiskan hampir 70 jt, wajar kan kalo duit tabungan langsung collapse. Apa buktinya? Kalo lo ke rumah gw, ga kan ada satu furniturepun bisa lo temukan, qiqiqiqi, kecuali satu sofa apa adanya dan sebuah tv plus mejanya (jaman masih ngekos). Ntar2 lah beli furniturenya, kalo Alif udah rada gedean, sekarang kan dia masih lasak, suka lari2…(alesssaaaan). Oiya, ternyata bener lo jalan ke rumah gw diperbaiki Pemda, sekarang udah mulus lumus. Jadi pesan moral ke-4 : ga ada salahnya berharap pada pemerintah setempat, hehehe. Eniwei, gw mengimpikan rumah tropis beratap segitiga seperti House of Shallomnya bikinan Mario Andretti atau rumah art deco.

Gw ingin memakai jasa arsitek untuk itu, tapi katanya biaya arsitek itu muahal?? Ah moga2 cepat terwujud yak 🙂