Posts Tagged ‘harga terjun payung di puncak’

Selain menginap di Pesona Alam Resort (reviewnya bisa dilihat disini), pengalaman baru yang saya dapatkan di liburan kali ini adalah TERJUN PAYUNG :D. Duluuu memang sering melihat orang terjun payung di Puncak, tapi saya mikir itu TNI lagi latihan hahahaha. Setelah baca Naked Traveler, barulah saya ngeh, owalaaahhh itu tuh dibuka untuk umum toh? Bisa tandeman pula sama ahlinya. Maulah kita coba kalau begetooo. Berapa tarifnya? 350rb? Berapa lama terbangnya? (*biasa, perhitungan). Oh 15 menit..jadi 1 menit dihargai sekian puluh ribu wkwkwkkw. Karena merasa masih sanggup bayar, jadi pengen nyoba. Namun apa dikata, tiap ke Puncak e lupa bawa sepatu kets. Terus jamnya ga cocok. Terus kelewat mulu lokasinya. Belum diitung suami cemas jadi larang2. Akhirnya gagal again, gagal again. Nah pada kesempatan kali ini saya bersikeras alias maksa. Masa 3 tahun ke Puncak, gagal mulu?

Lokasi Terjun Payung alias paralayang ini ada setelah Mesjid Atta’wun. Jadi begitu melewati Puncak Pass dan ada mesjid di sebelah kanan (dari arah Jakarta), berjalanlah agak pelan sedikit sambil longok2 ke sebelah kanan. Longok2 ini penting adanya karena seringkali saya kelewatan. Nanti akan kelihatan plang bertuliskan “Bukit Gantole”. Jalannya mendaki, susurin saja sampai ke parkiran bagian atas. Untuk naik ke atas, ada retribusi. Kalau ga salah kemarin 1 mobil isi 3 orang kenanya 35rb gitu deh. Dari parkiran, sambil jalan kaki mendaki jalan yang tidak begitu lebar, kami melihat ada banyak warung2 makanan di kiri kanan jalan. Kebetulan bulan Januari itu sudah musim penghujan, jadi sebentar saja langit mulai mendung padahal sebelumnya cerah. Saat kami sampai di atas, yang mana masih sekitar jam 11-an, ternyata sudah ramai sajaaa. Mau daftar, sudah ditolak. Pendaftaran akan dibuka lagi jam 1 siang.

20160103_104843

Ramee. Dari anak-anak sampai orang dewasa ada. Insya Allah tempatnya aman, yang penting anak kita dijaga. Walau ga terjun payung, kita tetap boleh datang kesana untuk melihat-lihat 🙂

Akhirnya kami memilih melihat2 dulu. Ada banyak wisatawan juga yang mau terjun. Bisa terjun atau tidak, sangat dipengaruhi oleh kondisi angin saat itu. Saya lihat orang2 yang terjun itu membawa tongsis :D. Ternyata boleh loh berfoto2 sembari terbang. Belum lama kami melihat2, eeeh turunlah hujan. Mau ga mau paralayang dihentikan sampai cuaca kondusif. Saya, suami dan Alif terburu2 turun ke bawah dan akhirnya mampir ke warung2 tadi. Kami memesan menu yang berbeda2, dan harus saya akui, pssttt psssttt rasa makanannya agak kurang cocok. Better kalau makan disini order mie instant saja kali ya. Lalu Alif tiba-tiba pengen pipis pulaaak. Cilakanya toilet cuma ada di parkiran yang nun jauh di bawah. Akhirnya berhujan2lah kami kesana karena sepanjang jalan tidak ada atap yang bisa meneduhi. By the way, toiletnya cukup bersih, ada 4 toilet saja. Kami putuskan untuk datang kembali besok pagi. Hari ini tampak tidak akan kebagian giliran.

Naaaah besoknyaa, tepatnya hari Senin jam 9, kami bertiga sudah nongol kembali di bukit ini. Alhamdulillah, tindakan yang tepat sekali karena cuaca lagi seger2nya, terus yang antri belum terlalu banyak. Daftar langsung diterima, langsung tanda tangani surat perjanjian (semacam surat pernyataan bahwa bila terjadi resiko ini itu, ya tanggung sendiri), dan tak berapa lama saya dipanggil untuk meluncur. Sudah saya utus suami untuk bersiap mengambil foto2 keren saya sebelum meluncur. Saya pilih parasut warna merah, sayangnya ga dikabulin (*ya eyalah, siapa loo?). Terus saya tandeman sama instruktur yang lebih muda dari saya. Setelah dipasangkan tas gede di punggung, saya disuruh lari menuruni pelataran yang tak sampai 20 m itu..

“Lari Mbak, lariiii!”, kata instrukturnya. Iyaaa ini aku sudah usaha Mas, tapi gak maju-majuu. Lah mau lari gimana? Angin kencang menghantam kita jadi walau perasaan udah lari kencang tapi kok masih di situ2 saja :p. E tiba2 payungnya mengembang dan instrukturnya udah nenggek di belakang saya. Owalaah, saya sudah mengudara toh ^^. Apa perasaan saya saat di udara? Ah biasa saja. Seperti naik motor kencang di jalanan gunung yang sepi. Jadi yang terasa adalah dinginnya angin yang membelai2 pipi kita. Syahdu dan tenang, sambil memandang pemandangan kebun teh, jalan, dan rumah2 di bawah sana. Takut ga? Engga. Dan saya jamin teman2 juga gak akan takut kok soal tenang dan santai sekali. Masnya bilang, “Mbak bisa foto2 kok. Keluarkan saja kameranya.” Sayapun lalu mengambil HP dan mulai jeprat jepret.

gantole1

gantole2

Sampai pada suatu ketika….Masnya nanya.

“Sudah Mbak ambil fotonya?”. Sudah Mas. “Oke mau terbangnya begini terus, atau mau manuver?” Manuver doong, bosan kalau gini2 aja mas (*sombong). “Oke…”. Lalu dengan sekali sentakan, payung kami langsung berputar ke kiri, ke kanan, ke kiri, ke kanan dengan tajam. Huwaaaaaaaa, aaaaaa!!! Tidaakkkkkkk! Jangan, udah Maaasss!! “Oh udah? Beneran?” Iyaaa benerrr, nanti hp saya jatuh, saya rugi Masss T-T.

E asli, langsung pusing dan mual. Selama manuver yang tidak sampai 10 detik itu, saya ga berani membuka mata. Rasanya seperti naik roller coaster dan saya benar2 takut HP saya jatuh karena tangan ini langsung gemeteran saking mualnya. Samsung S4 melayang sia2? Aaaaak, janganlaaah. Saya buru2 masukkan HP ke dalam tas, lalu siap untuk bermanuver lagi namun sayangnya ga bisa karena jarak kami sudah terlalu dekat dengan landasan. Sayapun mendarat dengan mulus ga pake baset2 di landasan rumput ^^. Alhamdulillah. Masnya bilang, pernah dalam sesi terjun payung, kabut tiba2 menebal sehingga landasan ga kelihatan, akhirnya mereka mengawang2 dan mendarat di Jonggol. Ampun dah, seberani apapun saya, kalau sampai ngalamin peristiwa kayak gitu keknya ga mau jugaaa.

gantole2

gantole3.jpg

Suami ikut terjun juga (*setelah saya bujuk2, eym)

Setelah melepas semua peralatan, saya menuju tenda. Disana sudah ada foto2 kita saat mau mendarat yang diambil oleh para pemotret. Bila mau diambil, harganya 25rb/buah. Lalu untuk kembali ke Bukit Gantole tadi, disediakan angkot. Saran saya, langsung tanya ke orang disana dimana angkotnya jadi bisa segera berangkat. Kalo kita diam2 saja, maka yaaa ga berangkat2 :p. Karena dikirain kita masih betah istirahat di bawah

Kesimpulannya, terjun payung itu asiiiiiikkkk banget. Recommended. Btw, suami saya ikutan terjun, dan dapat manuver juga. Cuma manuvernya beda. Diajak terbang pelan namun berputar2, lama2 jadi pusing. Nah, anda dapat manuver yang seperti apakah? Cobain yuuuukkk.

IMG-20160104-WA0029

 

 

 

 

 

Advertisements