Archive for the ‘Muhasabah Diri’ Category

Pernahkah Engkau ke Rumahnya?

Posted: October 3, 2016 in Muhasabah Diri

Saya punya seorang asisten pulang pergi, sudah bekerja 4 tahun lamanya. Suatu ketika ia mengajukan cuti setahun, karena 1.5 bulan lagi mau melahirkan dan ingin fokus mengurus bayinya. Sebagai rasa tanggung jawabnya, ia mencarikan asisten pengganti. Ia panggil saudaranya dari kampung, yang dirasanya cukup bagus untuk menggantikannya, sehingga saya tak perlu lagi repot mencari. Walau ia tak bekerja lagi, kontak tetap terjalin.

Asisten saya ini memang kesayangan. Kerjanya bersih, cepat dan tanggap. Sekali dibilang, ia ingat dan besok2nya langsung diaplikasikan. Tak banyak mengomel, tak suka bergosip. Ia punya suami, seorang penjahit keliling yang mana juga sering saya pergunakan jasanya. Permaknya selalu rapi dan harganya murah.

Sudah 4 tahun bekerja bersama saya, belum pernah sekalipun saya mengunjungi rumahnya loh. Bahwa saya adalah wanita bekerja Senin-Jumat, pergi jam 5 pagi pulang jam 6 sore tampaknya terlalu lebay kalau dijadikan alasan 4 tahun ga pernah berkunjung ya L. Apalagi kediamannya itu bisa ditempuh dengan jalan kaki 10 menitan dari rumah saya. Duluu sekali saya pernah bersama mama berjalan2 ke area kontrakannya, tapi sampai disana, saya temukan kumpulan rumah petak itu sepi. Lalu kami menduga2, kemungkinan ia menyewa rumah petak paling depan karena itulah yang paling tampak rapi. Bukankah selama ini ia selalu bekerja dengan rapi?

Kali ini, ketika akhirnya ia melahirkan, rasanya kalau saya masih juga tak datang ke kediamannya, terasa amat memalukan. Sayapun datang kesana bersama suami dan anak. Bayinya lahir prematur. Niatannya datang ke Puskesmas untuk cek tekanan darah (kebetulan ia pengidap tekanan darah tinggi), kok berujung mules2, eeee tak sampai 2 jam bayinya lahir disana, tanpa bidan dan dokter, dan suami pun sedang tak ada. Untungnya bayi seberat 1.7kg itu tetap sehat, menangis dan menyusui dengan kencang, alhamdulillah.

Jadi kami pun kesana menggunakan motor. Ke kumpulan rumah petak paling ujung, jalan buntu, yang di depannya adalah jurang kecil. Lingkungannya tidak bisa dikatakan safety dan bersih. Ternyata, rumah petaknyapun bukanlah yang paling depan seperti sangkaan saya dulu, melainkan yang paling ujung. Kami kesana, dan di teras kecilnya ada begitu banyak kain2 berserakan. Kain2 yang harus dipermak suaminya yang berprofesi penjahit itu. Suaminya yang kebetulan ada di teras menerima kami dengan senyuman dan mempersilakan kami masuk ke dalam.

Ruangan dalam yang sempit dan agak pengap, karena udara tidak mengalir dengan leluasa. Dimana2 ada barang berserakan. Dindingnya kusam dan banyak coretan. Tidak ada kipas angin. Sukses membuat kami seketika itu juga mengucurkan bulir2 keringat. Ia kaget dan menyambut kami. Menunjukkan bayinya yang sedang tidur nyenyak di atas sehelai kasur yang tipis, diselimuti seprai yang tampak belel.

Saya tercenung. Motif seprei ini…saya tampak hafal. Ya Allah, ini kan seprei saya dulu. Saya ingat saya merasa seprei itu warnanya sudah pudar. Saya letakkan di tempat barang afkiran, dimana asisten2 saya boleh mengambilnya, atau memberikannya pada orang lain, atau kalau tidak ada yang mau bisa dibuang. Ternyata ia mengambilnya dan ini….ini sudah pudaaaar sekali warnanya. Masih ada ya orang yang mau memakainya? Saya diam dan kami mulai berbincang tentang kondisi bayi. Alhamdulillah sehat, sudah naik 1 ons dalam seminggu, walau sampai sekarang belum boleh mandi. Namanya.. Muhammad Agam Abdillah, semoga ia menjadi anak yang sholeh.

Sambil berbicara saya melempar pandangan ke sekeliling, lalu saya temukan ada handuk yang tergantung. Deg! Lagi2..saya tampak kenal handuk itu. Itu kan handuk mandi saya yang saya afkirkan karena ada yang sobek. Dan sekarang itu ada disini. Saya jadi penasaran dan mulai curi2 pandang lagi, siapa tahu ada lagi mantan barang afkiran saya disini, tepat di saat Alif bilang, “Bu aku kepanasan..”. Aduh anak ini, terlalu terbiasa di ruang ber-AC kali ya, atau saya yang ga pernah melatihnya untuk ngomong bisik2, malu deh saya L. Tapi untuk saya yang tipikal penyuka udara hangatpun, ruangan ini memang termasuk panas. Kami tepuk2 Alif untuk bersabar, lalu karena memang sudah agak lama disana, kamipun sekalian pamit.

Dalam perjalanan menuju ke rumah saya berpikir panjang. Saya tahu, bahwa asisten saya tingkat ekonominya di bawah saya. Tapi tidak pernah terlintas sampai sebawah itu. Saya tahu mereka orang yang membutuhkan tapi tidak terpikir bagi saya bahwa mereka memang sebutuh itu. Alhamdulillah, kami menggaji mereka dengan amat baik dan kamipun bukanlah majikan yang rewel, tapi tetap saja saya seperti merasa ditampar. Saya selama ini berpikir bahwa mereka kehidupannya lebih baik daripada itu, padahal ternyata belum.

Saya ingat asisten saya bercerita bahwa di rumah petaknya suka kekurangan air dan pemilik kontrakan tampak tidak peduli. Bahwa tanah di belakang rumah petaknya sudah tinggi dan kalau hujan airnya akan merembes masuk ke sela2 dinding mereka yang retak. Saya dengar dan ingat ceritanya tapi tidak pernah terbayang seperti apa kondisinya. Kebanyakan naik mobil, kebanyakan jalan ke mall, kebanyakan makan di café dan restoran, kebanyakan membeli baju bagus, kebanyakan keliling2 hanya di tempat2 yang berpemandangan indah rapi dan bersih, telah membuat sense saya terhadap lingkungan sosial ekonomi menurun. Lupa bahwa ada banyak orang yang tidak bisa mengecap semua hal yang saya anggap normal dan lazim itu.

a

Pengalaman ini seperti peringatan Allah bagi saya, dengan cara-Nya yang halus.  Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban…maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan? Masihkah engkau mengeluh dengan kondisimu sementara ada begitu banyak orang yang ingin sekali menjadi dirimu saat ini?

Maka merasa cukupkah engkau bersedekah selama ini?

Maka apakah engkau merasa harta yang kau tumpuk2, kemewahan yang kau nikmati lebih berharga daripada senyum “kecukupan” di wajah mereka? Semoga Allah menjadikan kita sebagai ahli syukur, aamiiiin.

*gambar diambil dari Google

 

Advertisements

Bebas Riba (3)

Posted: July 18, 2016 in Muhasabah Diri

Setelah KPR BSM lunas, kami langsung memfokuskan untuk melunaskan KPR Panin. KPR Panin dianggap lebih penting untuk segera dilunaskan daripada HOAP kantor dengan alasan: (1) HOAP kantor tidak ada bunganya :D, maklum fasilitas dari kantor. (2) Menurut ustadz yang ditanya, bila tidak ada bunganya maka tergolong hutang non riba.

Alhamdulillah rezeki tak terduga yang datang dari suami kemarin masih ada lebihnya. Ditambah dengan jumlah yang berhasil kami tabung setiap bulannya, maka per akhir Juni 2016 kami sebenarnya bisa melunasi KPR Panin tersebut. Jumlahnya hampir sama besar dengan hutang mobil kami.

Namun pelunasan kali ini tidak selancar yang sebelumnya. Dikarenakan Lebaran, pelunasan terpaksa dimundurkan. Lalu Mbak Wita (contact dari Panin untuk masalah KPR saya) sering ga aktif telvonnya. Lalu dicek, yang harus dilunaskan sekian. Belakangan…ternyata ada lagi biaya lainnya, jadi 2x deh proses transfernya. Butuh alasan yang kuat untuk pelunasan (perasaan waktu melunaskan KPR BSM ga perlu alasan apa2, yang penting disiapkan uangnya). Udah siap semua, eee petugas bagian pelunasannya ditugaskan ke luar kota. Dan sertifikatnya ternyata diambil di Serang yang oh jauhnya :(. Yaa memang udah resiko sih kenapa dulu juga kami ambil KPR dengan KCU Panin Serang ya, heu.Tapi alhamdulillah, pinjaman ini lunas juga di minggu ketiga Juli. Leganyaa.

Apa kali ini beneran sudah selesai semua hutang2? Sebenarnya belum. Masih ada hutang HOAP kantor dan hutang ERP S2 yang harus dilunasi kalau saya berniat resign. Total jumlahnya setara dengan hutang mobil saya kemarin (alhamdulillah hutang ini tidak ada bunganya). Yaa..berhubung saya tidak beniat sama sekali untuk kerja lama2 di kantor, karena Alif udah masuk usia untuk dididik secara tegas, dan juga calon adiknya akan lahir, apalagi ayahnya juga ditempatkan di luar kota, kadang terlintas di pikiran apa ya saya resign saja. Salah satu resikonya kalau resign adalah kudu melunasi hutang di atas. Yah, jadi atau tidak kemungkinan itu, kami siapkan saja uangnya untuk jaga2. Insya Allah, akhir tahun ini bila Allah mengijinkan, dananya sudah terkumpul.

Lalu kalau hutang tanpa bunga itu juga sudah lunas, apa benar2 kami sudah lepas dari riba? Ya…belum tentu juga :(. Sejauh ini masih belajar dan menjauhi sebisa mungkin. Jadi rencananya saya akan membeli buku ini, kebetulan lagi diskon :D. Kata teman saya, isinya bagus. Semoga bisa menjadi panduan untuk transaksi syariah sehari-hari. Bila ada kesempatan dan isinya memang bagus, akan saya share di fb atau blog ini.

buku

Adakah hadiah dari Allah, kemudahan darinya terkait kami yang berusaha mati2an untuk melepaskan riba ini? Ada. Rezeki dari Allah selalu datang, dalam bentuk apapun, tidak harus dalam bentuk uang :). Belakangan ini saya lihat anak saya, Alif, semakin sholeh..sampai kadang saya berpikir “Alif kesambet apa ya.” :D. Tiba2 saja sholatnya mau di mushola. Sholatnya 5 waktu dan di awal waktu. Mau dhuha dan yang mengejutkan, kadang Alif tahajud atas keinginan sendiri. Saya saja hampir tidak pernah tahajud. Bersyukur sekali rasanya, karena anak yang sholeh adalah permata bagi orang tua. Semoga Alif istiqomah dan melakukannya dengan ikhlas.

Sekian share dari saya. Semoga bisa menjadi inspirasi teman2 untuk menjauhi riba ya. Jangan takut miskin karena melunasi hutang. Ingatlah harta itu hanya titipan. Harta kita sesungguhnya adalah yang sudah kita pakai/makan/gunakan, dan yang kita sedekahkan. Sementara yang kita simpan2, bisa diambilnya kapanpun Ia mau.

Bebas Riba (2)

Posted: July 11, 2016 in Muhasabah Diri

Setelah 1 hutang mobil lunas, tanpa istirahat, kami niatkan lagi untuk melunasi hutang rumah. Rumah yang mana dulu yaa? Ada KPR BSM, KPR Panin, dan HOAP kantor. Kalau melihat isi buku KTKN (Kembali Ke Titik Nol) yang ditulis oleh Saptuari Sugiharto, beliau menyarankan, mulailah melunasi dari yang paling mudah secara jumlah, namun cukup besar dalam cicilan/bulannya.

Suami menyarankan KPR Panin, karena (1) cicilannya lumayan besar dan (2) Panin adalah bank konvensional jadi ribanya lebih besar sementara BSM adalah bank syariah. Tapi saya lebih merasa berat ke KPR BSM dengan alasan (1) cicilannya sama besarnya dengan Panin, (2) bunga ribanya besar sekali. Padahal selama 4 tahun sudah dicicil menggunakan HOAP kantor, tapi saat dipindahkan, dengan tenor kembali ke 15 tahun eee jumlah cicilan yang dibayar malah lebih dari 2x lipat waktu di kantor, (3) namanya saja yang bank syariah tapi cara kerja sistem KPRnya mirip dengan konvensional. Disini kami beradu pendapat tapi berhubung suami ga suka ribut dan ribet :p, akhirnya kami putuskan akan fokus ke pelunasan BSM. Jumlah yang harus dilunasi seharga mobil Ertiga.

Uangnya dari mana? Dari menabung tiap bulan. Alhamdulillah, sejak bekerja di oil company, lifestyle selalu kami tekan jadi bisa menabung cukup besar. Selama ini pengeluaran banyak di liburan. Semenjak suami bekerja di luar pulau, otomatis dana liburan tidak terpakai jadi bisa ditabung. Saya berpikir sekitar September 2016 kami bisa melunasinya. Kan ada THR juga ya.. Bismillah, semangat.

Tapi disinilah lagi2 Allah menunjukkan kuasa-Nya. Ternyata memang benar loh, teman2. Ketika kita berniat kuat untuk mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan turunkan kemudahan untuk kita. Suami tiba2 mendapatkan rezeki besar dari kantornya. Rezeki itu cukup bahkan berlebih bila digunakan untuk membayar hutang KPR BSM ini. Rasanya ingin menangis T-T, bersyukur sekali pokoknya. Kami jadi bisa melunasi hutang ini dengan cepat. Terhitung bulan Mei akhir 2016, hutang KPR BSM bisa kami lunaskan. Alhamdulillah wa syukurillah…begitu mudah semua dijadikan oleh Allah. Allah hanya mengatakan “Kun!”, maka 8 bulan yang saya prediksikan diubah dengan sangat cepat menjadi 1.5 bulan saja.

Jadi teman2, pelajaran yang bisa saya ambil adalah…tidak perlu ragu melangkah bila itu untuk mendekati-Nya. Karena Allah maha kaya dan maha kuasa. Apa yang kita pikirkan sulit, adalah mudah bagi-Nya. Dan apa yang kita rencanakan mati2an, bisa diubahnya dengan mudah dalam sekian detik saja. Semoga semakin menginspirasi teman2 dalam melunaskan hutang riba, aamiiin.

*bersambung

Bebas Riba (1)

Posted: July 11, 2016 in Muhasabah Diri

Kira2 sejak pertengahan tahun 2015, saya mulai bermuhasabah. Lupa juga apa pemicunya, yang jelas dapat hidayah untuk terus memperbaiki diri. Saya mulai memperbaiki ibadah-ibadah wajib dan menjalankan yang sunnah. Waktu itu ibadah wajib yang saya perbaiki adalah ketepatan waktu dalam sholat. Selama ini kalau sholat waktunya suka mundur, yang penting masih masuk waktunya, nah sekarang setiap azan langsung ngibrit segera sholat.

Itu yang wajib. Sementara untuk sunnah, saya memantapkan diri untuk mendaftar umroh. Walau suami masih ragu mau umroh kapan, langsung saya daftarkan saja :p. Sholat sunnah rawatib saya jalankan. Dhuha juga saya kerjakan, yang 6 rakaat (*pernah baca dimana gitu, kalau 6 rakaat bertujuan untuk melancarkan rezeki). Lalu Quran yang sebelumnya hampir tidak pernah saya sentuh, khatam pertama dan terakhir itu pas SMA, mulai saya buka lagi. Saya instal aplikasinya dan saya baca saat di kereta. Sedekah saya perbanyak.

Berkaitan dengan itu, entah kenapa sifat saya juga mulai berubah. Biasanya saya agresif kompulsif, akhirnya menjadi lebih kalem dan tidak banyak bicara. Saya hentikan ghibah dan stop sama sekali melihat berita/siaran yang tidak bermanfaat. Efeknya adalah hati menjadi lebih tenang, masalah apapun rasanya terlihat lebih mudah daripada biasanya. Saya menjadi tidak mudah marah/menangis/baper/tersinggung/kecewa, andaikanpun terjadi, waktunya tidak akan lama. Sembuh alhamdulillah dengan lebih cepat.

Sampai pada suatu ketika di bulan Januari 2016 saya mengenal apa itu dosa riba. Postingan tentang itu telah saya bahas disini. Saking takutnya, tanpa babibu saya meminta izin suami untuk berazzam melepaskan diri dari dosa besar ini. Kami memiliki hutang mobil, dan 3 hutang rumah. Total hutang itu bila angkanya disenggol sedikit bisa mencapai nilai M, jumlah yang menurut saya amat sangat banyak (*herannya kenapa selama ini tidak pernah terasa banyak 😦 ).

Hutang terberat menurut saya adalah hutang mobil, karena cicilannya mendekati gaji Oriflame saya. Jadi jumlah cicilannya disesuaikan dengan gaji Oriflame saat itu, dengan maksud agar terpecut untuk bekerja lebih keras di Oriflame (*ceritanya ada disini). E ga taunya saya malah resign :p (*ceritanya ada disini). Mau ga mau kan akhirnya cicilannya dibayar dari gaji. Mulailah terasa beratnya behehehe, tenornya 5 tahun pula. Akhirnya hutang itu menjadi target utama untuk segera dilunaskan.

Setelah ditanyakan ke pihak leasing, yang harus kami lunasi jumlahnya setara HOAP kami zaman dulu. Udah DP dan cicil selama setahun, ternyata kurangnya ga seberapa loh. Memanglah mengerikan sekali bunga riba itu ya. Dihitung-hitung, simpanan kami ternyata mencukupi jadi kami lunasilah hutang mobil itu di pertengahan Maret 2016. Alhamdulillaaah, rasanya hati menjadi lapang. Ga menyangka, ternyata..ternyata bisa loh membayar hutang mobil segitu banyaknya.

Yang menjadi luar biasa adalah, action kami untuk melunasi hutang mobil secepatnya tanpa pakai menunda itu, ternyata langsung dibalas oleh Allah dengan rezekinya. Seminggu setelah pelunasan, saya positif dinyatakan hamil. Masya Allah, rasanya benar-benar ga percaya. Bayangkan, anak pertama saya bahkan usianya sudah hampir 8 tahun. Saking lamanya saya sampai lupa rasanya hamil. Kadang selentingan masuk ke kuping saya yang berkata, “Udah, jangan ditunda2. Buat dong anak ke-2. Kapan Alif dikasih adek?” Wkwkwk, dia kira buat anak itu kayak niup balon? Atau dia kira saya ini orangnya anti hamil? Tapi dijawab juga buat apa, mending disenyumin saja :).

Tapi ini memang mukjizat menurut saya. Saya serumah tiap hari dengan suami tapi gaaa kunjung hamil. Lalu kenapa pas akhirnya suami dipindahkan ke Sumatra, datang ke rumah 2-3x sebulan, itupun hanya 2-3 hari, akhirnya malah menjadi hamil? Rasanya ga masuk akal, tapi kuasa Allah mana ada yang mustahil. Yang jelas rasanya bersyukur sekali, sampai takut, jangan2 testpacknya salah nih :D. Jangan2 bakal keguguran.. Tapi positive thinking saja, semua takdir dari Allah pasti ada maksudnya. Semoga rezeki ini menjadikan keluarga kami semakin berkah hidupnya aamiiin.

Jadi bagi yang saat ini belum dikaruniai anak, saya menyarankan cobalah berazzam untuk melunasi hutang riba anda karena Allah sangat membenci riba dan memerangi riba. Insya Allah akan dikabulkan doanya, aamiiiin.

*bersambung

Sok Tahu Sekali, Sih.

Posted: June 26, 2016 in Muhasabah Diri

Sebagai seorang kolerik yang hampir mendekati murni 100%, saya orangnya cenderung sok tahu, sok pandai, sok analis, sok merasa paling benar, dan berbagai sok2 lainnya. Di usia 30-an ini saya menyadari betapa dulu sejak SMA sampai…yah sampai sekarang juga sih, saya benar2 kolerik parah namun bangga dengan sifat2 negatif itu.

Sebut saja kejadian waktu SMA. Seorang senior menanyakan dengan lembut dan sopan. Kapan saya akan memakai jilbab? Saya langsung jawab dengan sengit. TIDAK AKAN! Dia tertawa, dan dia jawab,”Belum..bukan tidak akan.” Bukannya manut, saya balas lagi, “Memang TIDAK AKAN!!” (*sambil dalam hati berkata, sok tau sekali sih :p). Kenyataannya? Usia 32 tahun saya memakai jilbab dan bahagia telah memutuskan untuk memakai jilbab.

Seorang guru Aqidah di SMA menasehati saya untuk tidak pacaran (*3 tahun di SMA, 3 orang juga pacar saya). Katanya, “Buat apa masih muda pacaran. Toh kamu belum tentu menikah dengan pacarmu itu.” Saya diam saja. Diam yang melawan karena dalam pikiran saya berkata,”Lihat nanti akan kubuktikan aku akan menikah dengan  pacarku.” Kenyataannya? Baru juga bimbel kuliah, pacar sudah saya putusin.

Banyak amat contohnya, tapi ini contoh paling anyar. Seorang rekan kantor saya, senior, wanita, mengatakan bahwa sebagai seorang muslim tidak boleh memilih pemimpin beragama lain (*ini terkait isu paling gres tahun itu di Jakarta, yaitu A**K). Oh, saya yang sudah usia 30 tahunan ini sekarang koleriknya semakin menyusut walau tidak juga menjadi 50% ya :D. Sekarang lebih banyak diam menyimak, tidak melawan lagi. Namun mendengar senior saya berkata begitu, dalam hati saya berpikir “Tapi, apa gunanya memilih pemimpin Islam kalau kita tahu ia tidak bagus? Bukannya mendingan memilih pemimpin non Muslim tapi yang sudah jelas prestasinya?” Walaupuuun…saya kan tinggal di Depok ya. Tidak akan memilih juga hahaha. Tapi beberapa bulan ke depannya, saat saya sedang membaca Quran sekaligus terjemahannya, saya ketemu dengan ayat ini.

QS. 3. Aali ‘Imraan : 2 …….Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara  diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”

Dan masih banyak surat lainnya yang isinya kurang lebih sama. Kalau sudah Quran yang berkata, Allah sendiri yang bicara, saya ini mau sok pintar gimana lagi sih :)? Ilmu cetek begini, mau mendebat Allah yang Kuasa?

Berdasarkan banyak kejadian itu, saya bermuhasabah..
Febrie…kolerik itu bagus kok. Orangnya gigih, pantang menyerah, selalu mencari peluang, inilah, itulah…tapi kamu kan juga tau apa sifat negatifnya. Ya yang negatif itu diperbaiki, jangan malah bangga dan menjadikan itu sebagai “identitas diri”. Jangan malah demen ngomong “Gw kolerik, ya inilah gw.” Kalau orang lain menasehati, segimana kamu ga terima dia ngomong begitu, coba diam dan simaklah. Pikir dengan jernih. Dengan objektif. Siapa tahu isinya benar dan bermanfaat. Siapa tahu memang kamu yang ilmunya belum cukup. Udah ga zaman lagi melihat isi nasihat dari like/dislike personelnya. Malu sama umuuuur T-T. Jadi manusia mbok ya semakin maju, semakin dewasa, semakin jadi panutan. Anak udah gede, kalau sifat masih ngeyelan ga jelas, mau didik anakmu seperti apa?

Cekluk (*nelen air ludah). Iyaya…semua perdebatan yang terjadi selama ini, dari muda dulu sampai seumur ini, setelah lama ditelisik kembali, ternyata banyak juga yang memang disebabkan saya sok tahu padahal mah gatau apa2. Tapi soknya udah muncul duluan. Astaghfirullah…semoga bisa memperbaiki sifat ini. Aamiiiin.

 

Kalau mengenang Oriflame mah gada habis2nya hehehe, Rasanya setiap kejadiannya berkesan. Sekarang mau bahas tentang Would I Follow Me? Maukah aku mengikuti “Aku”?

Di Oriflame, setiap orang dididik untuk menjadi leader dan mengembangkan jaringan. Ketika jaringan stuck atau turun, maka kami akan diminta untuk mengevaluasi diri. Tanyakan ke diri sendiri. “Would I Follow Me?” Sebelum salahkan downline, cek diri sendiri dulu. Sudah benar, belum? Sudah merekrut belum? Sudah tupo belum? Sudah membina dengan benar belum? Sudah benar2 ikhlas membantu downline untuk naik level belum? Atau malah malas2an, bisanya hanya nyuruh, koar2 minta tupo? Bayangkan andaikan kita jadi downline, memang mau punya upline malas yang jago merintah2 doang?

Nah dulu setiap sesi evaluasi diri, saya selalu berkata “Yes, I would follow Me.” Karena saya merasa, apa yang saya kerjakan sudah benar. Tupo selalu awal bulan, Rekrut 5-17 orang/bulan. Bina jalan terus. Belajar rajin. Apa yang kurang? Gak ada. Memang belum ketemu sama coreteam yang tepat aja, makanya stuck. Tapi seiring waktu, terus berpikir. “Mana ini coreteam yang tepat kok ga datang2? Aku harus merekrut berapa puluh orang lagi agar bisa menemukan seseorang yang mirip aku?”

Sekarang, setelah berhenti selama 6 bulan, melihat Oriflame dari dunia luar sebagai penonton bukan sebagai pemain, saya baru menyadari suatu hal. Bahwa andai join kembali, saya TIDAK AKAN MAU memilih orang dengan sifat seperti saya sebagai upline :(. Saya baru menyadari ternyata saya punya banyak kekurangan, parahnya bahkan saya membenci beberapa sifat saya yang dulu tidak saya sadari.

Ternyata saya orangnya nyinyir. Status2 saya pedas, tajam, melukai hati. Sok, belagu, merasa benar, orang lainlah yang salah. Walaupun tidak merujuk secara personal, walaupun yang saya bicarakan adalah downline secara keseluruhan, tapi tetap saja tersirat bahwa disana saya sedang nyinyir. Saya jauh dari kerendahhatian dan kesederhanaan.

Ternyata saya orangnya sok pandai. Merasa sudah bisa ini itu karena start belajar lebih dulu. Merasa cepat mengerti karena seorang lulusan S2, bukan SMA. Merasa di “atas” karena aslinya saya seorang karyawan dengan gaji amat cukup. Oriflamers lain walau titelnya sama dengan saya yaitu Director, bisa jadi tidak sepandai saya, tidak secepat saya dalam menganalisis.

Ternyata saya tidak seikhlas yang saya kira. Saya pikir saya 100% ingin downline saya sukses dan naik gaji. Kenyataannya adalah saya lebih peduli pada gaji saya sendiri. Saya tidak begitu perhatian dengan impian mereka. Saya hanya berpikir bahwa tugas saya mengajarkan, kamu bisa atau tidak itu adalah urusanmu. Kalau cepat, ikut saya. Kalau lambat, saya tinggalkan.

Ternyata saya memandang downline hanya sebagai partner bisnis. Setiap ada pertemuan, setiap ada chat dan telvon, hanya bisnis yang dibicarakan. Ketika mereka sakit, anak sakit, terkena musibah, terkena masalah, saya sulit berempati. Hanya mengerti seadanya dan cenderung menganggap itu sebagai excuse mereka untuk tidak giat bekerja saat itu.

Dan ternyata saya melupakan teman2 fisik saya. Saking euforianya dengan Oriflame, saya sampai lupa bahwa sayapun punya teman2 fisik. Saya terlalu sibuk melihat HP. Berjalanpun saya tidak memandang ke depan lagi, tapi ke HP. Setiap saat saya mengetik keyboard HP. Kepala saya selalu menunduk dan tidak peduli lagi dengan keberadaan teman2 di sekitar saya.

Saya tunda sholat karena ingin membina. Saya jamak sholat karena tuponas. Saya bersedekah dengan pamrih mengharap hasil.

Saya ada di sebelah anak saya. Fisiknya ada tapi pikiran saya tidak disana. Setiap anak saya bertanya saya hanya mengomentari “Iya ya? Hebat yaa? Wah, kamu pintar. Oke. Boleh.” Sungguh sangat tidak asyik untuk diajak berdiskusi.

Saya merasa malu sekali T-T. Saya senang mengerjakan Oriflame tapi ternyata saya belum tahu bagaimana mengerjakannya dengan benar. Saya belum tahu bagaimana mengerjakannya dengan hati. Saya tidak mengembangkan bisnis ini sebagai bisnis Berkah Berlimpah Manfaat. Saya hanya fokus dengan hasil tapi belum menghargai proses, Allah, dan keluarga. Siapa yang sudi menjadi downline seorang SAYA? Dih, sayapun ogah.

Would I Follow Me…? .

Sekarang saya terus berbenah. Berusaha memperbaiki diri sembari menunggu saatnya tiba. Tetapkan bahwa tujuan bisnis ini adalah untuk menebarkan manfaat. Untuk membantu orang mencapai impian. Ini demi kamu. Demi kalian. Demi mereka. Memberi-memberi. Sehingga dengan demikian, Allah dan keluarga tidak akan pernah terlupakan lagi.

 

 

Dulu saya ga ngerti apa itu RIBA. Taunya LABA wakakakak (*memang dasar otak ekonomi :p). Saya tau riba tahun 2015 sih. Pernah kami bahas di grup Arisan Murakabhi tapi tidak begitu mendetil. Saya baru tahu mengerikannya riba itu bulan Desember 2015, di usia yang sudah 33 tahun. Kemana ajaaaa saya selama ini?

Bermula dari chat di grup SM-UP Oriflame. Member bernama Fenny Febrian dan Risa Hananti mengatakan bahwa akan ada webinar gratis dari Saptuari Sugiharto, membahas tentang bukunya yang berjudul “Kembali ke Titik Nol”. Buku ini berisikan tentang riba, bahayanya, dan perjuangannya untuk lepas dari riba. Namapun saya sedang lagi getol2nya bermuhasabah, memperbaiki diri yaa jadi chat riba ini terlihat lebih berkilau di mata saya ketimbang chat promo2 Oriflame di grup saat itu :D. Karena sudah ketentuan di grup bahwa kami hanya akan membahas Oriflame, jadilah saya japri saja ke Fenny. Fenny pun memberikan link webinarnya ke saya ^^.

Saat saya dengarkan webinarnya, saya jadi kaget banget. Ternyata dosa riba yang terkecil itu seperti menyetubuhi ibu kandung sendiri. Jedeeerrrrr!!! T-T. Haaah? Serem amaat?

Memakan Riba Lebih Buruk Dosanya dari Perbuatan Zina

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dosa Memakan Riba Seperti Dosa Seseorang yang Menzinai Ibu Kandungnya Sendiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya).

Riba ternyata masuk dalam dosa besar. Lalu di webinar itu dibeberkan apa2 saja yang termasuk riba. Diantaranya adalah bunga yang didapat dari hutang kartu kreditlah, hutang mobil lah, hutang KPRlah, hutang ini itu pokoknya hutang yang berbunga itu riba. Yang terkena dosa riba adalah pemakan riba, pemberi riba, saksi-saksi, dan penulisnya. Ada lagi bentuk riba yang lain tapi kebetulan yang berkenaan dengan saya adalah bagian hutang. Waduuuh, hutang saya kan buanyaak? Langsung mules :(.

Interest-Riba

 

Lalu Saptuari menceritakan bahwa demi lepas riba, ia bertobat, kemudian menjual aset2nya sampai hutangnya lunas. Apa sekarang Saptuari hidup menderita? Ternyata enggak juga. Malah sekarang dia punya 2-3 usaha baru yang semuanya didirikan tanpa perlu berhutang. Ia jelaskan bahwa jika seseorang sudah berniat untuk keluar riba dan bertekad sepenuh hati untuk melunaskan hutang2nya maka Allah akan mendatangkan rejeki dari arah yang tak disangka2.

Kita sebenarnya diminta untuk hidup sesuai kemampuan. Kalau belum mampu beli rumah, ya ngontrak. Kalau belum mampu beli mobil, ya pakai motor dulu. Kalau belum sanggup ganti mobil baru ya tahankan dulu pakai mobil lama. Jangan mau tergoda ingin menikmati duniawi dengan cara yang instan (*aduh jleb banget ini, lirik mobil putih saya). “Tapi kan kalau gitu kapan punya rumah Mas?” Ya itu tadi, kalau memang belum sanggup beli, ngontrak aja. Atau bisa kok beli rumah tanpa melalui perantara KPR. Zaman sekarang ini sudah mengajak kita ke sifat hedonisme yang apa2 pengennya paling baru, paling update, paling mahal. Ujung2nya beli dengan sistem cicilan berbunga (*adoooh, melirik HP Samsung S4 yang dulu saya beli pake cicilan berbunga walau kecil banget). Lagipula, kenapa maksa banget sih pengen punya rumah punya mobil? Dikira makin kaya makin dijamin masuk surga gitu? Kasian banget orang miskin kalau begitu, ga adil.

Nabi SAW bersabda, ”Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang empat perkara (yaitu):(1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan? (2) Tentang ilmunya untuk apa ia amalkan? (3)Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan? dan  (4) Tentang badannya untuk apa ia gunakan? (HR.At-Tirmidzî). Terkait no 3. Yang ditanya itu tentang harta yang ia dapatkan dan belanjakan. Harta sedikit atau banyak, pertanyaannya tetap sama (*adoooh jahatnya Mas Saptuhari ini dari tadi nohok2 hatiku). Masih banyak lagilah yang beliau bicarakan di webinar itu. Nanti kalau ada yang pengen dengar, minta ke saya aja linknya yaa lewat comment di bawah. Nah gara2 itu, saya jadi pengen banget baca bukunya. Kembali Ke Titik Nol. Sayangnya ga dijual di toko buku. Jualnya di orang2 tertentu. Harganya 129rb. Mahal amat yak. Tebalnya berapa Mas? 300 halaman katanya. Hem, setahu saya buku 300 halaman itu harganya 65-75rb. Ini hampir 2x lipatnya? — jadilah malas beli 😀 dan berpikir, gpp deh. Kan aku udah dengar webinarnya. Itu aja yang aku jalankan.

Maka saya diskusikan hal ini ke suami. Bahwa saya bertekad untuk lepas dari riba, jadi semua hutang2 itu harus wajib kudu DILUNASKAN. Iiiih, ngeriii. Pokoknya harus lepas dari riba. Untungnya suami mendukung. Sebagian asset likuid dicairkan. Sisanya dari menabung. Supaya tabungan cepat banyak yaaa kudu berhemat. Okelah, setuju! Mulailah saya potong semua kartu kredit, dan beberapa kartu diskon yang terindikasi ada praktek riba. Saya install Money Lover, sebuah aplikasi gratisan yang cakep banget. Saya bisa kontrol pengeluaran saya dengan cukup baik. Lalu ya itu tadi. Berhemat. Beli yang benar2 perlu. Gunakan sampai rusak atau habis. Menyayangi barang agar lebih awet pemakaiannya.

Alhamdulillah, mungkin karena ngotot, sekarang bisa nabung lebih banyak. Lalu per tanggal 16 Maret 2016, kami melunaskan hutang mobil yang menurut kami berat itu, baik dari cicilan maupun dari pokok hutangnya. Rasanya tuh ya, legaaaaa sekali. Seperti ada seonggok batu besar di badan yang diangkat lalu dibuang. Bersyukur banget, ternyata bisa ya bayar hutang sebesar itu (*bagi saya itu besar). Ternyata kalau ada kemauan mah bisa2 aja. Dengan demikian, bisa nabung lebih banyak karena berkurang cicilan yang harus dibayar. Nah target berikutnya adalah melunaskan hutang rumah, paling lambat September tahun ini. Lalu insya Allah, akhir 2017, kami menargetkan akan bebas riba dari hutang besar lainnya.

Setelah bebas hutang tersebut, barulah kami akan kembali fokus menyusun rencana keuangan lagi. Dengan lebih lega, tanpa beban, lebih lowong. Bismillah, semoga dilancarkan aamiiiin.