Archive for the ‘Sumatra Barat’ Category

Hari ketiga kami ke Bukit Tinggi. Ayah ingin menginap di The Hills, sebuah hotel lama yang katanya bisa melihat gunung langsung dari jendelanya. Kami pun akhirnya memesan 2 kamar disana. Saya review hotelnya dulu yaaa.

Hotelnya memang bangunan zaman Belanda. Ada poolnya juga, sayang waktu itu sedang dibersihkan jadi anak2 hanya sebentar memanfaatkan fasilitas ini. Sarapannya buffet dengan menu yang cukup lengkap, namun variasinya bila dibandingkan dengan hotel di Jakarta untuk harga serupa, akan lebih lengkap di Jakarta. Saat field trip tahun 2013, saya menginap di hotel sebelahnya, bernama Grand Rocky. Saya merasa hotel itu lebih cocok dengan saya, mungkin karena bangunan baru. Bahkan saya masih terbayang2 dengan menyenangkannya Aie Angek Cottage loh padahal ratenya bisa setengahnya hotel ini. Gagal move on tampaknya saya :D. Singkat kata, The Hills bagus kok, sayanya saja mungkin yang belum maksimal mereview.

the hills

Buka jendela, pemandangannya adalah gunung itu. Jangan tanya saya nama gunungnya yaa.

Jujur saja, liburan ini sudah mulai menguras tenaga saya. Mungkin karena selama ini kami liburan maksimal 2 malam 3 hari, sementara ini 3 malam 4 hari. Ditambah lagi full menggunakan mobil, jadi kondisi fisik saya mulai menurun. Selera makan saya juga mulai layu (*yang lain tampaknya sih masih lahap2 saja). Saya mulai mencari lauk dengan kuah2 bening dan banyak sayuran, namun agak sulit menemukannya disini.

Objek wisata yang kami kunjungi disini adalah Jam Gadang :D. Tapi mungkin karena habis Lebaran, komplek Jam Gadang kotor sekali. Banyak sampah, bahkan di beberapa tempat saya mencium bau pesing yang membuat kami ogah berlama2 disana. Suami mengabadikan foto Jam Gadang di malam hari sementara saya sudah pewe meluruskan punggung di kamar. Katanya sampai malampun banyak yang berjualan disana ^^.

Jam gadang di malam hari. Ramee.

Jam gadang di malam hari. Ramee.

Lalu esoknya kami makan Nasi Kapau di Pasar Ateh, di Uni Lies tepatnya. Kami jalan masuk ke dalam pasar, nah di tengah2 itu ada kumpulan penjual nasi kapau. Saya sukaaaa nih makan nasi kapau. Apa bedanya nasi kapau dengan nasi ramas? Nasi kapau ituu sepertinya kuahnya lebih asam dibanding nasi ramas ya. Ada yang cocok dengan rasanya, ada yang engga. Kalau saya sih suka2 saja. Sudah gitu yang unik adalah cara berjualannya. Si penjual berdiri di atas meja, memegang sendok extra panjang, lalu mengambilkan kami lauk2 dari berbagai macam panci2 besar yang mengelilinginya. Wajib coba nih Nasi Kapau kalau kesini.

Ha! Lauk yang melingkar besar tu namanya tembusu alias usus sapi isi telur. Itulah yang kami makan :D. Alif pun sukaaa, tandas sepiring.

Ha! Lauk yang melingkar besar tu namanya tembusu alias usus sapi isi telur. Itulah yang kami makan :D. Alif pun sukaaa, tandas sepiring.

Kelar itu kami mengunjungi Lembah Harau yaitu lembah yang terletak di antara 2 bukit. Wah panjang ceritanya kalau dijelaskan secara geologi. Eniwei, saya sudah pernah melihat Lembah Harau dari atas, saya baru tau ternyata bisa turun ke bawah pakai mobil. Maka kami turun ke lembahnya. Di lembahnya, ada kumpulan orang yang latihan trailing dengan motor. Sekelilingnya…lagi2 banyak sampah. Komplitlah sudah jengkelnya saya ini :p. Kami putuskan untuk pulang dan bermain di hotel saja.

Lembah Harau, dilihat dari atas. Baguuus.

Lembah Harau, dilihat dari atas. Baguuus.

Lembah Harau dari bawah. Banyak sampahnya... :(

Lembah Harau dari bawah. Banyak sampahnya… 😦

Besok paginya kami pulang kembali ke Pekanbaru. Singkat cerita, liburan ini yang berkesan bagi saya hanya di Maninjau dan Aie Angek Cottage. Sisanya yaa gitu deh. Kelihatannya salah timing hehehe jadi ketemu banyak sampah. Moga2 kali lain berkunjung ke Sumatra Barat, sudah bersih kembali ^^. Sampai jumpa di liburan berikutnyaaa.

Advertisements

Jadi malam itu saya sebenarnya bingung mau menginap dimana. Mau cari2 juga udah jam 7 malam, jalanan udah gelap pula. Tiba2 saya ingat kalau sebelum Lebaran pernah buka blog orang yang bilang bahwa impiannya menginap di Aie Angek Cottage di Padang Panjang. Cepat2 saya googling mau liat gambar2 kamarnya, eeeh lobett. Akhirnya saya berhenti di sebuah hotel Melati. Tadinya mau coba nginap disini, tapi ternyata ga ada kolam renang. Saya tanya Aie Angek, mereka ternyata tahu dan merekomendasikannya. Katanya cottage itu memiliki kolam renang dan jaraknya hanya 15 menit dari sini. Wah makasih infonya yaa uda. Kami pun melaju segera.

Berdasarkan namanya yang Aie Angek (Air Hangat) maka pikiran saya pool disini airnya adalah air hangat wkwkwk. Ternyata Aie Angek itu nama daerah. Masuk ke cottagenya agak mendaki curam, tapi begitu saya turun dari mobil…baru sampai di resepsionisnya saja, saya udah senang banget. Cottagenya sangat berseni, rapi dan lebih mirip museum. Harga yang ditawarkan sudah termasuk makan pagi. Langsung saya book 2 kamar.

Ternyata cottage ini punya Fadhli Zon (Gerindra). Kamarnya hanya 6 apa 8 buah. Bangunan sisa yang masih amat luas itu lebih diperuntukkan untuk memajang buku2, lalu karya seni, berbagai peralatan musik, dll. Sepertinya cottage ini lebih diperuntukkan untuk rumah peristirahatan ketimbang mencari untung ya. Bahkan yang saya dengar, hanya yang menginap saja yang bisa melihat benda2 seni yang ada di dalam cottage. Foto2 cottagenya seperti apa bisa dilihat di link ini yaa.

Orang2 di mobil langsung turun sementara porter membawakan barang2 kami yang kelelahan dengan perjalanan darat yang panjang ini. Kami menyusuri lorongnya sambil berdecak kagum :D, dan begitu lihat kamarnya juga  poolnya yang langsung ada di depan kamar, aduuuuuuhhh sukaaaa bangettt. Untuuung aja nginap disini. Bocil2 happy sekali, membayangkan esok pagi mereka bangun udah bisa langsung nyebur. Orang tua kami juga lega dan senang dengan cottage ini. Kita langsung bersih2 di air hangat dan kamar mandinya yang di dalamnya ada pajangan puisi2. Nyeni bangetlah (*tapi ga bikin serem kok). Anak2 gamau tiduur hahaha. Mereka takut kalau tidur, tiba2 bangun2 udah di dalam mobil dan disuruh jalan lagi. Duuh segitunya…enggak besok kita seharian disini kok. Saat kami bangun esok paginya, kami bisa melihat bahwa cottage ini ternyata ada di tengah sawah. Eaaaa kami jadinya sarapan sambil memandangi sawah doong. Betah bangeet.

Aie Angek Cottage ^^, recommended bangeeet

Aie Angek Cottage ^^, recommended bangeeet

aie angek cottage2

Dan yang bikin menyenangkan, di sebelahnya ada Rumah Puisinya Taufiq Ismail. Gimana suami saya yang pencinta sastra ga makin girang hahaha. Kami lalu mengunjungi Rumah Puisi yang bersih rapi tertata dan wangi itu. Suami lalu membeli beberapa buku disana yang tidak ditemukan di tempat lain. Sementara itu anak2 dan orang tua sibuk leyeh2 dan mengelilingi cottage. Asli deh gara2 cottage ini kami jadi malas kemana2. Tepat jam 1 siang baru kami berangkat menuju Bukit Tinggi.

Objek wisata yang lokasinya pas disebelah cottage.

Objek wisata yang lokasinya pas disebelah cottage.

Bagi yang datang ke SumBar dan mengunjungi Padang Panjang dan sekitarnya, saya rekomendasikan penginapan ini yaaa. Karena kamarnya terbatas sebaiknya booking dulu. Kami kemarin kebetulan dapat tempat karena bukan wiken, dan sudah masuk masa orang2 balik kembali ke kotanya masing2 setelah libur Lebaran.

Hari pertama di Maninjau sudah kelar. Kami masuk ke hari kedua. Tujuan kami hari ini adalah Istana Baso Pagaruyung dan Danau Singkarak lalu bermalam di penginapan yang belum ditentukan apakah itu.

Kelar dari Puncak Lawang kami melanjutkan perjalanan ke Batu Sangkar yang lumayan juga ya jauhnya. Ditambah lagi ternyata ada macet di Padang Panjang. Macetnya itu macettt banget. Kok bisa macet ya padahal Lebaran udah selesai. Akhirnya kami ambil jalur memutar. Menuju Batu Sangkar tidak ada restaurant yang bisa direview. Adanya rumah makan yang kecil2 maka kami pun singgah disana. Lumayan juga makanannya, walau menu terbatas tapi kami lahap bangettt saking laparnya :D. Kalau pemandangan jangan ditanya ya. Kiri kanan indah semualah pokoknya.

Perjalanan kami lanjutkan, nah sekitar jam 12an, di tengah teriknya matahari, sampailah kami di Batu Sangkar. Panasss banget, keringat langsung meleleh tapi melihat ada rumah gadang yang begitu besarnya berdiri di tengah2 sawah yang hijau itu rasanya takjub gitu ya. Cuma mau foto2 kok ya terik amaaat, akhirnya kami cepat saja masuk ke dalamnya. Sampai disana, kami ke lantai dasar dulu. Ternyata disana banyak disewakan baju adat Padang yang bagus2 kualitasnya untuk digunakan berfoto. Waaahahahha, siapa yang mau melewatkan kesempatan ini wkwkwk. Bahkan Alif pun sangat bersemangat karena merasa dirinya berbusana ala raja Padang hahaha. Berapa ya sewa bajunya? Eym, mungkin 50rb kali yaaa sementara fotonya…mungkin 25rb. Saya lupa juga. Suntingnya imitasi kok jadi ga berat tapi dipakai rada lama ya pegal juga. Tadinya pengen foto di lantai 1 sampai 3, apa daya ternyata panas juga pake baju ini, udah gitu sunting saya saking tingginya suka nyangkut di pintu kalo lagi lewat :D, akhirnya hanya foto di lantai 1 saja. Kalau istana ini dipasang AC tampak menyenangkan tapi mungkin jadi berkurang nilai seninya yaa.

Istana besar ini ada di tengah sawah hijau, di belakangnya ada bukit2. Bagus banget ^^

Istana besar ini ada di tengah sawah hijau, di belakangnya ada bukit2. Bagus banget ^^

Alif senang banget disini, kayak

Alif senang banget disini, kayak “raja” katanya. Terus itu ayah ibunya kenapa jadi foto nikah gituu hahahah. Dicobain ajalah semua yang ada disini, ketawa2 sendiri lihat fotonya 😀

Ya marilah kita lanjuuuuttt. Tak terasa sudah jam 4 sore. Menuju Danau Singkarak menurut waze memakan waktu 1 jam. Wah bisa2 kesorean doong padahal…saya sudah janji ke bocil2 kalau mereka akan berenang di Danau Singkarak. Mama soalnya udah cerita bahwa di danau ada tempat yang kita bisa duduk sambil membenamkan kaki, dangkal, lalu ikannya berenang2 di antara kaki kita. Airnya jerniiih sekaliii. Tentulah anak2 senang mendengarkan cerita itu jadi mereka sudah membayang2kan bisa berenang di danau sejernih itu, bukan? Mereka sudah banyak bersabar di perjalanan panjang dalam mobil ini demi mengejar berenang di danau yang jernih.

Demi mengejar waktu, kemudi akhirnya diambil oleh papa. Papa kan supir travel wkwkwk jadi pasti nyetirnya lebih cepat ketimbang suami saya yang safety, dengan resiko yang duduk di belakang siap2 aja bakal mual. Eh beneranjadinya bisa nih sampai dalam 45 menit saja. Tapi mana siiih tempat yang airnya jernih dan ikan menari2 di antara kaki kita itu? Mama lupaaaa T-T. Jadilah kami telusuri saja ke kiri. Luruuuusss udah 5 menit berlalu, tiada tanda2 muncul lokasi itu. Lalu mama bilang, “Ehhh, kayaknya bukan ke arah sini deh. Kita berlawanan arah, harusnya tuh ke arah sanaaa.” Haaah? Apaaaa? Oke, kita mutar lagii, buruaaan udah jam segini nanti airnya dingin. Maka kami pun putar haluan 180 derajat dan menelusuri ke arah yang berlawanan.

Selang 10 menit kami berjalan, dengan kecepatan 60km/jam, tidak juga muncul tanda2 lokasi yang dikatakan mama itu. Lalu mama bilang, “Maaaf, kayaknya memang benar jalan yang sebelumnya deh. Kita putar balik saja, mungkin tadi kita kurang jauh makanya ga ketemu.” —- Hedeeeeeh, ini yang benar kemana siii arahnya Ma? Kasian anak2 udah nanya2 terus, kita udah janji ke mereka (*saya mulai ga sabar). Iya, kayaknya yang tadi. Ayo kita putar balik! Maka kami pun putar balik, jadi perhatikan sudah berapa menit tuh kami bolak balik seperti setrikaan disana.

Ternyata setelah ditelusuri 5 menit tetap saja ga ketemuuu. Akhirnya kami mengambil pantai apapun yang terlihat dan kami turun karena 2 anak ini sudah cuap2 ingin berenang. Kasian kalau ga dituruti. Kami pun lalu berhenti dan turun ke pantai namun pantai yang saya lihat sungguh menyedihkan. Hilaaaang sudah semua bayangan pantai jernih pasir putih dan dangkal dengan ikan yang menari2 di antara kaki kami. Pantai yang kami lihat penuh sampah, di airnya itulah sampah mengambang, agak bau, pasirnya hitam, namun yang lebih menyedihkan adalah…Alif tetap ingin berenang T-T. Sudah saya katakan bahwa pantai ini kotor, tapi dia ga mau mendengarkan. Katanya Alif sudah menunggu terlalu lama, Alif bahkan maksa ambil baju renangnya dan mau tetap berenang.

Bagus yaa. Di belakang danau ada perbukitan. Cuacanya sejuk. Tapi gambar kanan bawah, itu pantainya ada sampah. Itu baru 1 foto dan kebetulan bukan yang sampahnya banyak. Sedih deh :(

Bagus yaa. Di belakang danau ada perbukitan. Cuacanya sejuk. Tapi gambar kanan bawah, itu pantainya ada sampah. Itu baru 1 foto dan kebetulan bukan yang buanyakk sampahnya. Di air danaunya juga banyak sampah mengambang. Sedih deh 😦

Saya sediiiih banget :(. Sedih kenapa kami ga menemukan tempat itu. Sedih kenapa banyak orang yang tidak peduli dengan kebersihan dan sedih karena harus melihat Alif main disana. Ga ikhlas rasanya. Tapi untunglah karena sudah sore, anginnya dingin, Alif hanya sebentar saja disana. Alhamdulillaaah. Saya langsung menjanjikan bahwa malam ini kami akan menginap di hotel yang ada kolam renangnya, dan Alif serta Nayla bisa berenang sepuas hati disana. Jadi jangan sedih yaaa Nak. Iyaaa, kata Alif. Oooh, anakku. Sabar yaaa sayang.

Danau Singkarak

Papa dan mama ikut menemani Alif di pantai. Alhamdulillah cuma sebentar mainnya karena dingin..

Kami lalu segera tancap gas menuju Padang Panjang. Kami sempatkan makan di Sate Mak Syukur yang terkenal itu. Review saya tentang sate ini adalah…1 porsinya banyak banget bo dan saat bayar saya baru tau kalau ternyata bisa beli setengah porsi eaaa. Saran saya nih, beli setengah porsi aja. Asli kalau 1 porsi kekenyangaan. Seporsi kalau ga salah harganya 35rb apa ya. Isinya daging semua, kotak2, lalu kerupuk jangeknya besar banget tapi rasa sate ini menurut saya sebenarnya biasa saja, maaf :p. Walau bagaimanapun, makan disini tetap puasss. Taulaaah sekarang yang namanya Sate Mak Syukuuurr ^^.

Lalu dimanakah kami menginap malam ini? Ga disangka, penginapan yang saya pilih dengan spontan ternyata menjadi penginapan paling recommended selama kami liburan di Sumatra Barat iniiii. Lihat reviewnya di link yang ini yaaa.

Sejak field trip S2 ke SumBar tahun 2013, saya selalu terkenang2 dengan propinsi itu saking indah pemandangannya. Udah minta2 ke ayah agar liburan keluarga berikutnya ya jangan Jawa lagi tapi sekali2 ke Sumatra gitu loh :D. Kampung aden..kampung aden wkwkwk. Permintaan itu baru terkabul tahun 2015 ini. Jadi di Lebaran tahun ini kami berdua sengaja cuti lebih panjang dari tahun2 biasanya. Kami sebentar saja di Pekanbaru, lalu akan liburan ke SumBar. Karena dekat, katanya katanya cuma  8 jam, maka moda transportasinya diputuskan pakai mobil. Kita pakai Innova, muat 8 orang dan dipepetin habis2an. Yang berangkat adalah saya, suami, Alif, bou (mertua), ipar, dan anaknya Nayla (2 tahun lebih tua dari Alif). Berangkat dengan hati riang 😀 :D.

20150726_065221

Yang nyetir suami. Kami berangkat jam 7 pagi. Perjalanan lancar jaya. Alhamdulillah, bocah2 walau dalam mobil yang sempit mampu untuk bertahan dan ga banyak ngomel. Kami membawa snack2 yang ternyata langsung habis dalam 3 jam perjalanan pertama, eaaa :(. Dari Pekanbaru menuju SumBar tak begitu banyak tempat makan yang bisa ditemukan jadi baiknya memang menyiapkan bekal. Satu2nya tempat pas yang kami temukan untuk istirahat sejenak adalah Bandrek House :D, setelah 5 jam perjalanan. Tempat peristirahatan ini lumayan luas, berisi kursi dan meja (jadi bukan ngemper), pemandangannya ke arah hutan. Makanannya lumayan banyak. Disini kami memesan makanan ringan seperti bakso, pisang goreng dan teh panas dan beristirahat lumayan lama. Sengaja ga makan berat soalnya pengennya nanti makan di Kelok 9 sambil liat pemandangan. Eniwei, toiletnya juga bersih kok, enaklaah buat santai2 sejenak.

Bandrek House. Hutan itu pemandangannya. Menu disini ga banyak, ga sampai 10 macam tapi cukuplaaah. Kisaran harganya? Lupaaa hahaha soal ini kan bulan Juli ya yang saya tulis postingannya bulan Oktober. Wajar kan kalo lupaa

Bandrek House. Hutan itu pemandangannya, segerrr yaa. Menu disini ga banyak, ga sampai 10 macam tapi cukuplaaah. Kisaran harganya sepertinya 20-25ribuan.

Setelah itu kami lanjutkan lagi perjalanan yang ternyata tak berapa lama sampai deh di Kelok 9 yang tersohor itu. Langsung ketemu banyak warung2 yang berjualan di pinggir jembatan Kelok 9. Ini dia stopsite kami untuk makan siang. Kami turunkan rantang2 kami gyahahaha dan makan di warung itu. Jadi disana kami hanya pesan teh panas saja dan jagung bakar (*hemat). Sembari makan mulailah saya sibuk memperhatikan sekeliling. Kelok 9 ga bisa dipungkirilah bagusnya. Bersyukur banget ya ada jembatan ini, dibangun oleh putra Indonesia. Kuat kokoh, baguslah pokoknya. Yang bikin benci itu adalah orang2 yang makan di warung ini membuang sampah ke lembahnya. Jadinya kotoorrrr banget, ih sebelll. Bagaimana Indonesia mau maju kalau buang sampah aja masih ngasal. Warung2 disini tidak bisa saya katakan bersih bahkan ada bau sedikit masam dari sampah yang terkena hujan. Jadi saya pribadi paling kalau kesini lagi hanya akan makan jagung bakar deh, ga bisa lama2. Kebetulan juga warung ini hanya bertahan seminggu ke depan. Berikutnya akan dipindah ke Kelok 9 yang lama. Semoga ke depannya pengelolaannya semakin bersih.

Alhamdulillah bocil2 makannya tetap banyak. Di warung bahkan tetap bisa main silat2an hahaha.

Alhamdulillah bocil2 makannya tetap banyak. Di warung bahkan tetap bisa main silat2an hahaha. Bagus banget ya jembatannyaa. Sampahnya sengaja ga difoto biar ga ilfil.

Kamipun lalu melanjutkan perjalanan ke Danau Maninjau sekitar 2.5 jam. Nuansa Maninjau Resort saya pilih sebagai tempat menginap di hari pertama :D. Saya sudah googling2 niih apa penginapan paling oke di sana. Berdasarkan blog yang saya baca (*lupa pula linknya), ada penginapan bernama Maninjau Resort yang caem banget deh. Jadi kalau jalan2 di area hotelnya, tanpa sadar saat kabut menipis (*maklum disana dingin berkabut), kita akan melihat Danau Maninjau terhampar begitu dekat dan itu begituuu indahnyaaa. Ooooh membaca ulasan blognya saya langsung terpikat dan membayangkan kira2 mungkin beginilah kenampakannya.

Bahwa ada semacam area misalnya jembatan atau restaurant terbuka dimana kita bisa langsung melihat danau Maninjau dengan kabutnya yang semakin menipis (*di blog itu dia bilang begituuu)

Inilah yang saya bayangkan. Bahwa ada semacam area misalnya jembatan atau restaurant terbuka dimana kita bisa langsung melihat danau Maninjau dengan kabutnya yang semakin menipis (*di blog itu dia bilang begituuu)

Tapi ternyata setelah saya sampai ke resortnya jam 4.30 sore T-T, lokasi Maninjau Resort itu masih sekitaaar 40km (cmiiw) lagi kakakkk ke danaunya. Jadi ternyata resortnya bukanlah berada tepat di atas danau seperti ulasan blog itu, tapi ada di bukit yang salah satu viewnya menghadap ke danau, masih terhalang sedikit hutan (gini nih kalau malas nyari info). Pun saya cari2 best view menghadap danau, tetap juga ga dapaaat sehingga pusing juga saya dimana sebenarnya pemandangan yang doi bilang di blog itu. Tak menyerah, dirikupun bertanya kepada penjaga resort, dimana best view untuk melihat danau disini. Penjaganya mengatakan area restaurant saat sarapan, dan area di sebelah resort. Waktu itu kami ga bisa masuk restaurant maka kami segera ke area sebelah resort yang ia katakan. Dan tetap saja bukan view yang bagus yang kami dapatkan. Jadi intinya saya kecewa. Bisa jadi ini bukan salah si blog, bisa jadi saya yang misinterpretasi hohihohi, tapi sudah keburu koar2 nih ke papa mama dan bou bahwa di resort ini bisa lihat pemandangan luar biasa indah. Eeeeh, taunya ga dapett hikksss .

Itu tentang pemandangannya. Bagaimana resortnya sendiri? Cakepppp. Saya memesan villa dengan 2 kamar (1 kamar double bed, 1 kamar lagi twin bed), 1 kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Lalu memesan extra bed. Ratenya semalam bisa dilihat di link Maninjau Resort di atas ya. Bisa minta diskon2 corporate gitu :D. Lalu udah dapat makan malam dan sarapan untuk 5 orang karena kami juga pesan extra bed kan. Nuansa Maninjau Resort sendiri luas banget, taman2nya rapi dan bagus. Ada permainannya, ada poolnya. Anak2 seperti biasa di cuaca sedingin itu tetap pergi berenang. Kita sibuk menurunkan muatan, eh itu bocil berdua udah buka baju dan pasang baju renang terus cuinggg!!! Ilang dan tiba2 teriak jebar jebur di pool. Heran deh, padahal dingin loh jam segitu.

Villanya sendiri saya lumayan sukaaa. Ga perlu AC lah disini yaaa. Cuma karena kamar mandi hanya 1 sementara kami berdelapan, masya Allah ya ngantrinya hahhaha terutama pas subuh tuh disaat semua orang rasanya ingin pup. Eniweiiiii, untuk makan malamnya nih. Kami sudah ke resto, nuansanya agak gelap dikarenakan lampunya kuning dan tak begitu banyak, Makanannya prasmanan dengan lauk ayam, daging, sayur, lalap, buah. Standar saja, tidak seperti hotel2 di Jakarta yang banyak pilihannya tapi menurut saya cukup kok. Nah yang tidak mendapatkan tiket makan gratis sebaiknya memesan menu perorangan karena harganya sekitar 30-40rb sementara kalau ikut nebeng prasmanan nanti ditagihnya 80rb/orang padahal menurut saya kenyangnya sama aja.

Alhamdulillah, villanya sesuai dengan harapan :)

Alhamdulillah, villanya sesuai dengan harapan 🙂

Esok paginya kan sarapan. Kami udah ga sabar tuh segera sarapan di resto demi melihat pemandangan yang sudah dijanjikan. Nyatanya saat kami datang, danau tertutup kabut, olalalaaaaa sedihnya. Jauh2 menginap disini, sedetikpun ga bisa liat pemandangan yang diimpikan. Bener loh, menginap di Maninjau itu sebenarnya anti mainstream, biasanya orang2 kan menginap di Bukit Tinggi atau di kota Padang. Nah kami sudah sengaja nih kesini demi danau hahaha. Untuk sarapannya, variasinya lebih banyak ketimbang makan malam. Ada roti, nasi goreng, mie goreng, dll. Karena hari ini kami mau check out jadi kami membawa banyak roti dan selai (*ups).

2 anak berdua ini akuuur banget. Main apa2 bareng. Apa nanti kalau udah dewasa bakal seakur ini juga ya :D

2 anak berdua ini akuuur banget. Main apa2 bareng. Apa nanti kalau udah dewasa bakal seakur ini juga ya 😀

Banyak2 pajang foto keluarga buat dokumentasi :D

Banyak2 pajang foto keluarga buat dokumentasi 😀

Selama di Maninjau Resort kami senang karena resortnya yang bagus, apalagi anak2. Tapi kalau sengaja menginap disini karena ingin melihat danau dari atas, rasanya kurang tepat. Itu saja. Pengen banget nih kami turun ke Maninjaunya tapi bila melihat petanya yang ternyata keloknya berjumlah 44 (*omaigod, peta di waze menunjukkan ada jalan keriting seperti cacing panjang uget2…nah itulah si Kelok 44) dengan jarak puluhan km, mmmm…kasian anak2. Nanti pada muntah, terus kayaknya waktunya ga ngejar juga. Jadilah Maninjau kami tinggalkan dengan rasa gimanaa gitu. Tapi Mama kemudian maksa nih minta ke Puncak Lawang, sekitar 15 menit dari sana. Katanya bagus banget, jadi kami ikuti saja.

Ternyata Puncak Lawang memang bagus bangeeeet. Disinilah seharusnya tempat yang cocok untuk memandang Danau Maninjau dari atas. Sayangnya waktu itu masih lumayan berkabut tapi pemandangan ini jauuuh jauuuh lebih bagus ketimbang dari resort tadi. Ada hutan2nya juga dan kalau ga salah ada outbondnya apa ya. Sayang kami ga bisa lama disana soalnya next target kami adalah Istana Pagaruyung, harus sampai di penginapan maksimal jam 5 sorelah. Jadi kelar foto2 kita langsung cuss. Tapi tempat ini recommended yaa untuk didatangi apalagi kalau cuacanya cerah, pasti spektakuler banget ^^.

Jadi :D. Ini karena waktunya sedikit, jadi memilih untuk mengabadikan orang2 ketimbang pemandangannya. Walhasil tiba2 danaunya sudah ketutup kabut saja. Puncak Lawang itu adalah tinggian, dibawahnya lembah, nah lembah itu adalah Danau Maninjau yang luas banget. Sayang aja belum sempat terfoto. Kalau cuacanya cerah, pasti cantik bangettt.

Jadi :D. Ini karena waktunya sedikit, jadi memilih untuk mengabadikan orang2 ketimbang pemandangannya. Walhasil tiba2 danaunya sudah ketutup kabut (yang seperti asap putih2 itu adalah kabut). Puncak Lawang itu adalah tinggian, dibawahnya lembah, nah lembah itu adalah Danau Maninjau yang luas banget. Sayang aja belum sempat terfoto. Kalau cuacanya cerah, pasti cantik bangettt.

Lanjut ke hari kedua yaaa, Istana Baso Pagaruyung ^^ ^^ ^^