Archive for the ‘Belitung’ Category

Pada suatu hari Yustin teriak di OCS grup arisan Murakabhi. “Aku bosaaaan. Aku pengen liburaaaannn.” Gak biasanya ini anak bilang bosan hahahah, tapi ide liburannya itu langsung mendapat sambutan meriah. Secara niat sih udah dari dulu banget tapi ga kunjung dilaksanakan. Kali ini, apa salahnya kalau kami benar2 mewujudkannya?

Opsi mulai dari Bali, Lombok, Pulau Seribu, Krakatau, dll bermunculan tapi singkat cerita kita sepakat memilih Belitung karena banyak yang belum pernah kesana. Agar rencana ini benar2 berjalan, kami segera membeli tiketnya hahaha. Jadi kan ga mungkin dibatalkan tuh, sayang dong duitnya :p.

Tadinya yang berangkat adalah saya (Febrie), Yenita, Yayat, Esthi, Ditha, dan Yustin. Tapi alhamdulillah belakangan nambah Era dan Evi. Total 8 orang wiii seruuu. Kami menggunakan jasa Pak Buyung, guide yang dulu pernah saya gunakan jasanya. Kita menyewa mobil Toyota Heace yang panjang agar leluasa selama di perjalanan. No diet, colorful clothing, dan wajib narses pake gincu menyala adalah peraturan selama liburan ini hakshakshaks.

Belitung Trip participants

Belitung Trip participants

Seperti apa liburan kami selama disana?

Udahlah susah diceritakan. Pokoknya seru banget karena perginya rame2. Kita menyewa 4 kamar di Hotel Sentral City. Nentuin roomiesnya pakai undian. Sengaja pilih hotel yang biasa aja biar ga mubazirrr duitnya, toh seharian bakal di luar ini. Terusss selama di perjalanan kan bakal singgah2 ke tempat wisata tuh. Nah tiap masuk mobil pasti deh kita ganti posisi tempat duduk. Agar adil, temennya ganti2, dan bisa ngerasain yg dekat AC dan tidak.

Untuk tempat wisata yang dikunjungi, berhubung ga mau rugi jadi semuanya kita kunjungi yaa demi foto :D. Secara umum, tempat wisatanya hampir sama dengan stop site yang saya dan suami kunjungi di 2012. Tapi kami menambahkan Rumah Bu Muslimah (guru di SD Laskar Pelangi), tempat tinggal Bupati Ahok, Bukit Samak, dan karaoke. Yang mana menurut saya hanya rumah Bu Muslimah dan karaoke sajalah yang lumayan menarik :p.

Karena Belitung adalah daerah pantai jadilah kita selalu dibawa ke makanan berlauk ikan. Lama2 bosan juga hahhaha, pengen juga makan nasi ma telur dadar gitu ya, atau nasi sama lele. Alhamdulillah sih ada Warung Es Es dekat hotel jadi lumayan tersalurkan.

Pak Buyung yang 3 tahun lalu menjadi guide saya sekarang kena asam urat :(, jadi tidak bantu menemani. Yang diutusnya adalah karyawannya. Nah mas utusan beliau ini kurang okelaaah untuk ambil foto hahaha, adaaa aaja salahnya. Untung kami bawa tongkat narsis :p. Tapi si Mas lumayan menyenangkan soal ga bosan sama kita cewek2 yang cerewet dan banyak mintanya ini wkwkwk.

Untuk pengeluarannya kira2 seperti ini.

pengeluaran belitung

Di bawah ini adalah foto2nya. Kali ini gak ada foto pemandangan. Sengaja demi mengenang moment kebersamaan :D.

1 petik dulu di bandara hananyudiin ^^

1 petik foto di bandara Hananyudiin ^^

1 petik di SD Laskar Pelangi :D

1 petik foto di SD Laskar Pelangi 😀

Bersama Bu Muslimah yang asli. Siapakah Bu Muslimah? Baca dulu bukunya yaa.

1 kolase foto bersama Bu Muslimah yang asli, guru SD yang ada di novel Laskar Pelangi. Buu..kami dari Medco looh.

1 petik foto di mercusuar Pulau Lengkuas

1 petik foto di mercusuar Pulau Lengkuas

1 petik foto di Museum Kata, Andrea Hirata

1 petik foto di Museum Kata, Andrea Hirata

1 petik foto di rumah adat

1 petik foto di rumah adat Belitung.

1 petik foto di bebatuan island hop

1 petik foto di bebatuan island hop

1 petik foto snorkeling

1 petik foto snorkeling. Ini kegiatan yang paling menguras tenaga menurut saya, soal kudu bopong teman2 yang takut laut. Badannya seperti kayu, kena air langsung kaku. Mereka hanya menitipkan pesan, “Bawalah aku bersamamu…kemanapun aku akan ikut…”

Dan berikut adalah kolase pic teman2 yang menurut saya bagus 😀 😀

belitung

belitung2

So see you at the next girls days out ;-).

~Febrieeka

-me and the sea-

-me and the sea-

Apa saja yang patut dicoba dan dicemal-cemil disini?

Mie Belitung

Salah satu wisata kulinernya adalah Mie Belitung. Entah kenapa tiap buka blog orang tentang Belitung, mestiiiiii makan mie-nya di Mie Atep, Jl Sriwijaya. “Kenapa Pak Buyung? Apa karena bisnis antara tempat makan dan pihak travel, atau memang saking enaknya, atau?” (bertanya kepada guide). Ternyata Mie Atep emang pedagang mie Belitung tertua disini. Mie Belitung sendiri sebenarnya mie biasa, ada kuahnya dengan rasa manis. Di dalamnya ada potongan kentang, tahu, timun, udang dan emping. Menurut gw rasanya…ehm, biasa aj. Tidak terlalu istimewa. Ditambahkan sambalpun..tetap tidak jadi istimewa. Tapi nyoba kan gpp yah. Mie ini per-porsinya dihargai 10 ribu rupiah saja.

Es Jeruk Kunci

Rasanya agak beda, dan segar. Lumayan suka sih gw. Warna airnya bening, beneran ga ya air jeruk? Hehehe. Tapi ada taburan biji jeruknya tuh yang seolah mempertegas bahwa ini benar dari buah jeruk! Satu gelas harganya 5000 rupiah dan dapat dijumpai langsung di Mie Atep tersebut.

Warung Kopi Ake

Beuu..suami gw suka banget kesini, ampe didatangin 2x!. Warung Kopi Ake memang warung kopi tertua di Belitung. Sering didatangin oleh pejabat2 yang mampir ke Belitung. Kalau dari kedainya sih amat biasa, namun menurut suami gw, rasa kopinya ngalahin starbuck. Secara gw ga minum kopi, ya gw hooh2 aj :D. Suami nyobain kopi hitam dan kopi susunya, semua enak. Gw nyobain es teh tariknya, memang enak sih. Ga terlalu manis dan..pas aj rasanya. Semua minuman dihargai 5000 rupiah.

Gangan Ikan

Nah!! Ini dia makanan yang paling enak banget sedunia muwana. Gangan adalah jenis masakan ikan seperti kuah kuning, namun ada campuran nenas di dalamnya. Rasanya segar dan selalu bikin kita pengen nambah, lagi dan lagi. Katanya, ikan yang paling enak di-gangan adalah ikan katoap, setelah itu baru deh ikan bulat. Waktu itu gw makan di RM. Mabai, Tanjung Tinggi. Menu yang dipesan adalah gangan ikan, ikan bakar, dan sayur tumis kangkung. Untuk bertiga cukup pesan ikan yang masing2 beratnya 0.5 kg saja. 1 kg ikannya plus masak bisa mencapai 120 ribu rupiah. Perorang kira2 kena 50rbuan lah. Semua terasa enak, gatau deh apa karena lapar apa engga, tapi mulut ga mau berhenti mengunyah. Ikan gangannya enak. Ikan bakar, dicampur kuah gangan dan sambal Belitung juga enaaak. Tadinya gw pikir RM Mabai udah top markotop banget dah, ternyata katanya yang lebih enak lagi adalah RM Pendaunan yang letaknya tidak jauh dari RM Mabai. Sayangnya Pendaunan buka hanya waktu week-end. Ah gpplah, Mabai juga sudah sedaaaap!! (happy kalo makan makanan enak). Nih fotonya.

Eh sori..ini mah foto makanan waktu udah ludes :p. Ini nih foto gangan-nya!

Empek-empek Belitung

Belitung ternyata punya empek2 juga ya.. :D. Untuk empek2, gw icipin di Empek-empek Mama Riyo, Jl Kampung Damai. Rame banget disana padahal bukan hari libur. Rasa ikannya lumayan tapi tetap ga bisa menandingi Empek2 Candy di Palembang yang jadi fave gw. Tapi kalau mau dibawa buat oleh2, empek2 Mama Riyo patut dicoba. Pemesanan bisa 1 malam sebelumnya. Macamnya hanya ada lenjer, kapal selam, dan kulit. Jadi ga ada adaan. Waktu itu gw bungkus yang empek2 kapal selam, per buahnya seharga 10 ribu. Besarnyaa?? Setelapak tangan yang dikembangkan, dijamin super kuenyang!

Waktu di Belitung gw nyobain itu doang. Bagi yang tau kuliner Belitung lainnya, silakan ditambahi :).

Apa wisata Belitung itu cuma wisata pantai doang? Oh ya tidak donk. Berikut adalah tempat wisata recommended lainnya.

Penambangan Timah

Sebenarnya di sepanjang perjalanan kita bisa melihat berbagai macam bekas penambangan timah. Ada yang dangkal karena penambangannya tidak besar, ada juga yang dalam banget. Bila sudah ditinggalkan, bekas penambangan ini akan diisi oleh air hujan sehingga warnanya menjadi coklat. Kami sempat singgah ke bekas penambangan kecil yang kebetulan dilewati dan diceritakan sedikit tentang proses penambangannya. Lumayan buat tambah ilmu kan? :D. Btw, kita bisa juga datang ke penambangannya yang besar dan bisa masuk ke dalam lubang galiannya (open pit), asal kuat aja sih. Tapi apakah aman? Gw ga tau tuh..karena ga sempat kesana. Sampai sekarang masih ada pemuda Belitung yang mencari timah secara kecil2an. Lumayan, katanya bisa dapat sekitar 200-300 ribuan/hari. Selama disana, gw hanya melihat penambangan timah yang kecil saja. Fotopun tidak ada yang representatif jadi ga bisa ditayangkan deh :(.

Danau Kaolin

Tadinya asal dengar nama Danau Kaolin otomatis telinga gw nge-set ke Danau Shaolin (loh kok?). Ternyata dinamakan Danau Kaolin karena danau ini tercipta akibat penambangan kaolin. Apa sih kaolin? Kaolin itu semacam mineral yang salah satu penggunaannya adalah sebagai bahan dasar bedak. Karena warna mineralnya putih, Danau Kaolin menjadi indah sekali sebab dikelilingi oleh tebing putih kaolin dan  diisi oleh air yang berwarna biru. Kalau airnya kurang biru, artinya tempat penambangannya kurang dalam atau bisa juga kaolinnya belum terpadatkan sempurna sehingga larut ke air danaunya. Cantik sih cantik, tapi jangan pernah berpikir untuk berenang disini karena konon lumpur di dalamnya menghisap badan kita. Penambangan Kaolin ini dalamnya bisa mencapai puluhan meter dan tebingnya juga rentan longsor sehingga tidak disarankan untuk didatangi oleh anak kecil maupun berfoto dengan jarak yang terlalu dekat ke bibir tebing. Bila dilihat dari atas (pesawat), wajah Belitung seperti rupa bulan yang capuk-capuk luka yang tidak diobati (metafora apa ini?). Capuk2 ini akibat penambangan timah dan kaolin tersebut.

Vihara Dewi Kwan Im

Vihara ini menjadi terkenal karena merupakan vihara tertua di Belitung (dan mungkin juga yang terbesar?). Bila waktu Imlek dan sembahyang kuburan tiba, vihara ini rameeee sekali. Gw sendiri baru pertama kali mengunjungi vihara. Warnanya merah dan secara sepintas, displaynya memang menarik mata. Menuju vihara terdapat ratusan anak tangga yang dibuat dengan bentuk zigzag sehingga sama sekali tidak melelahkan menaikinya. Aroma dupa tercium walau tidak begitu kental. Gw masuk ke dalam vihara dan music cina terdengar sayup2 berkumandang. Orang2 berdoa dengan menggenggam hio di katupan tangannya. Di dindingnya tertempel banyak lukisan, salah satunya Dewi Kwan Im yang berdiri di atas naga ini.

Kabar dari blog tetangga, ada peramal jago yang bermukim disini. Maka gw pun jadi penasaran dan pengen tau metode meramalnya (tsah!). Peramal alias penjaga vihara kemudian menanyakan nama dan topik apa yang pengen diramal. Gelagapan karena bingung, akhirnya gw jawab seadanya, “Kesehatan, Koh.” Kemudian ia mengambil semacam kumpulan bandul berbentuk kotak, berdoa, lalu bandul itu dilempar ke atas meja. Sepertinya ia kemudian membaca arti lemparan bandul, lalu mengambil kotak hio. Kotak hio berisi kumpulan lidi itu diguncangnya berkali2 sehingga salah satu lidi keluar. Di lidi itu sepertinya ada tulisan, ia baca tulisan itu, kemudian…ia ulang metode tadi dari awal. Hal ini terus dilakukan sampai 5x (kalau ga salah). Kenapa cuma 5x dan bukan 3x or 10x, gw ga tau.

Nah! Pada pengulangan yang ke-5, keknya lidi yang keluar udah memenuhi persyaratan. Ia baca tulisan di lidi dan segera pergi menuju ke kumpulan kertas berwarna kuning yang tergantung di dinding. Ia ambil secarik kertas yang sesuai dengan no yang tertera di lidi, itulah hasil ramalan gw! Satu sisi adalah bahasa Cina, sisi lain adalah terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Bahasanya seperti kata mutiara sehingga kening gw spontan jadi kerut merut dalam memahami isinya. Tapi lagi2 menurut penerawangan gw, kemungkinan artinya adalah : SEBENTAR LAGI REJEKI ANDA AKAN BERLIPAT GANDA. Huahahahahaaa!! (*penerawangan seenak jidat, jelas2 tadi mintanya tentang kesehatan). Btw, jangan lupa sisihkan uang untuk dimasukkan ke dalam kotak sumbangan ya, seikhlasnya saja.

Replika Laskar Pelangi di Gantong, Belitung Timur

Bagi yang udah baca bukunya dan atau menonton filmnya, pasti tau dengan SD Muhammadiyah Gantong tempat Laskar Pelangi menuntut ilmu. Di dalam buku dan film dikisahkan bahwa saking ringkihnya, bangunan sekolah ini harus disangga dengan pohon kelapa agar tidak rubuh. Kenyataannya bangunan SD itu sekarang sudah tidak ada lagi secara itu kisah pribadi Andrea Hirata berapa puluh tahun yang lalu ya? Mungkin bangunannya memang sudah rubuh beneran atau Laskar Pelangi benar2 murid terakhir di sekolah itu, gw ga tau pasti. Tapi untuk kepentingan film, akhirnya dibuatkanlah replikanya. Nah replika yang sekarang kami kunjungi itupun ternyata bukanlah tempatnya yang asli sesuai syuting filmnya. Tempatnya yang asli sekarang sudah dijadikan ruangan kelas untuk sekolah yang ingin memperluas bangunannya. Akhirnya replika tersebut dipindahkan ke tempat yang sekarang (yang gw ga tau nama pasti tempatnya), namun oleh Pemda Belitung pondasinya dicor agar lebih kokoh.

Sekarang replika itu berdiri kesepian karena di sekelilingnya benar2 tidak ada bangunan apapun, hanya pasir putih dan pepohonan hijau. Tampak terasing sehingga gw jadi kasihan..padahal kisah Laskar Pelangi bisa dikatakan berhasil membuka mata nasional bahkan internasional akan keindahan Belitung. Wisatawan mau menempuh 1.5 jam dari Tanjung Pandan hanya untuk melihat yang manakah SD Muhammadiyah itu, namun replikanya sendiri sekarang tidak terurus dengan layak. Melihat bangunan ini langsung bisa membayangkan Laskar Pelangi belajar disana. Memang pengaruh film itu kuat sekali ya :), salut buat Andrea Hirata yang berhasil mengemasnya menjadi begitu apik. Mumpung disini sekalian gw lihat yang mana Sungai Linggang, yang mana toko kapur Manggar tempat cinta Ikal bertunas.

Museum Belitung

Tempat yang tak diduga-duga membuat kami tertahan cukup lama ternyata adalah sebuah museum. Apa yang ada di benak lo begitu mendengar kata museum? Well, kalo gw sih ga gitu tertarik. Begitu dengar kata museum, yang terbayang adalah bangunan tua yang diisi oleh benda2 yang tak kalah tuanya :p. Seperti itu jugalah kurang lebih Museum Belitung. Wajar kalo begitu datang gw langsung menghela nafas dan segera menggelesor ke bagian Pertambangan Timah. Lumayanlah, disana ada maket2 yang menggambarkan bentuk2 penambangan timah.

Namun the best-nya museum ini ternyata adalah ruangan “Harta Karun”. Pertama, lantai di ruangannya udah diganti dan dindingnya sudah dicat ulang sehingga suasananya menjadi lebih terang. Kedua, ada banyak foto atau gambar2 besar yang ditempel di dinding, yang banyak menjelaskan tentang harta karun. Ketiga, ada Pak Salin, penjaga museum yang menerangkan buanyaaak hal sehingga gw merasa menjadi sungguh excited. Oh Pak Salin, harusnya bapak berdiri menyongsong begitu kami datang sehingga tidak banyak waktu habis hanya untuk plongak plongok isi museum tanpa tahu artinya.

Topik harta karun sendiri selalu mengingatkan gw ke Tintin-harta karun rackham merah :p. Cerita dikit yak, hehehe. Jadi dalam jalur perdagangan, pelayaran kapal tidak selalu mulus. Ada saja yang mengganggu entah karena kesalahan nahkoda, atau musim yang tiba2 berganti, atau diserang perompak? Hii. Karena faktor2 di atas akhirnya kapal  karam bersama barang bawaannya. Tentu saja bayangan gw harta karunnya berupa emas batangan berkilo2 beratnya (ngarep) tapi kebanyakan isinya ternyata adalah barang dagangan contohnya adalah porselen dari Cina. Memang Cina dari dulu terkenal sekali dengan porselennya yang halus. “Pak Salin, kenapa barang yang ada disini pada pecah semua sih?” Ternyata begitu harta karun ditemukan, sudah ada pembagiannya masing2. Sekian persen buat negara yang nantinya akan dilelang lagi (kayaknya ini kualitas terbagus), sekian persen buat ditaruh di museum Jakarta, sisanya baru deh ke museum daerah. Makanya wajar kalau kualitas yang didapat rada2 mengecewakan soal yang bagus2 udah diambil duluan :D.

Itu ada foto gw en suami bersama kuali yang terbuat dari baja. Eit itu bukan kuali biasa ya. Itu adalah contoh kuali dari ribuan kuali yang terdapat pada bagian bawah kapal. Kuali2 ini berantai satu sama lain. Jadi ceritanya begitu kapal mengarungi sungai maka rantaian kuali akan bergerak seperti rantai motor, mengeruk endapan di bawah sungai yang mengandung timah. Ini masih yang ukuran kecil. Kuali2 itu ukurannya bisa sampai 4x kuali yang di foto ini.  Bayangkan kalo yang dikeruk itu endapan manusia.. (#kenapa malah ngebayangin ke sana??). Oiya, kalau mau liat buaya artis alias buaya gede yang hadir di film Laskar Pelangi, silahkan kunjungi kebun binatang mini yang masih berada 1 kompleks dengan museum.

Pantai Pendam

Bagi lo yang suka dengerin live music, atau nonton bola bareng, atau karaokean, silakan datang ke Tanjung Pendam. Di tempat ini ada banyak kafe berderet yang menyediakan fasilitas2 di atas tadi. Jam operasionalnya 19-23 malam. Karena kami datang di hari Selasa, jadinya tidak begitu ramai. Tapi menurut Pak Buyung, tempat ini ramai sekali di hari Sabtu dan Minggu. Gw en suami kemarin memilih ke Kafe Unique karena kita dengar live music dari sana. Tadinya kita agak underestimate dengan penyanyinya (maaf ya..) soal kita pikir palingan bawa lagu2 Melayu seperti ST 12, Kangen Band atau D’Bagindas tapi ternyata salah sama sekali. Lagu2 yang mereka bawakan berkualitas dan memiliki vokal yang tinggi seperti Celine Dion, Whitney Houston, Mel Sandy, dll dan suaranya…perfecto!! Layak deh masuk Indonesia Idol. Suami gw yang mantan vokalis, tadinya mau nyumbang lagu eh jadi malu hati sendiri dan lebih memilih untuk mendengarkan, hehehe. Menu makanannya sendiri bermacam2 dengan kisaran harga 25 rb-an tapi rasanya kurang memmorable. Mending pesen camilan aj semacam kentang goreng. Kami yang tadinya hanya ingin lihat2 situasi ternyata betah duduk manis dengerin live music selama 3 jam. Hmm..not bad :D. Foto? Ga ada soalnya malam sih..efek cahaya jadi kurang bagus :p.

Demikian resume dari tempat wisata yang kami kunjungi. 3 hari 2 malam sudah sangat puas disana, mungkin kalau sempat mengunjungi Belitung Selatan bakal lebih maknyus lagi ya. Silakan bagi yang udah pernah ke Belitung, ditambahin lagi list tempat wisatanya.. :).

 

Belitung dikenal dengan wisata pantainya. Pantai disini sangat bersih, airnya jernih. Pasirnya halus dengan ukuran lempung-lanau (bahasa apa ini?), mirip bedak tapi lebih kasar dikit (makin ga jelas). Yang bikin pantainya unik adalah adanya batu-batu granit berukuran raksasa dengan berbagai bentuk di pantainya. Ukurannya bisa sampai 1 rumah. Batu-batu itu juga nongol dari dalam lautnya. Darimana datangnya batu2 ini? Dari mata turun ke hati? Well, ada yang bilang ini berasal dari letusan Gunung Krakatau zaman purba. Ada juga yang bilang bahwa batu2 ini adalah basement dari pulau Belitung itu sendirii yang sekarang tersingkap. Pusing kan? Cuekin aj, nyok kita lihat apa aj yang patut dikunjungi di Belitung.

Tanjung Tinggi

Pernah nonton Laskar Pelangi? Kan ada tuh adegan Laskar Pelangi duduk di batu2 tepi pantai sambil nunjuk-nunjuk. Naaah lokasi syuting itu ada di Tanjung Tinggi. Biasanya di hari pertama orang akan mengunjungi Tanjung Tinggi karena selain paling dekat dengan Tanjung Pandan, kayaknya Tanjung Tinggi ini sudah jadi icon pintu gerbang wisata Belitung :p. Begitu sampai, nih mulut otomatis membuka sambil bilang, “Waaaah….”. Pantainya sepi dan airnya yang jernih bikin kita pengen nyebur dan berenang. Langitnya biru dengan laut yang tak kalah birunya. Panjatlah batu tertinggi disana, maka anda bisa menyaksikan pemandangan ke laut lepas yang luar biasa indah dengan timbulan batu di sana sini. Abadikan moment dengan berfoto ala Laskar Pelangi disini, wkwkkwk :D. Di sepanjang pantai juga banyak tempat makan. So habis berenang, cape, terus makan gangan kuliner Belitung, pasti sedap banget.

Hopping Island

Apaan tuh Hopping Island? Hopping Island adalah kegiatan mengunjungi pulau2 kecil di sekitar Belitung dengan menggunakan perahu. Jangan sampai melewatkan kesempatan ini karena inilah inti dari traveling Belitung. Startnya bisa dari Tanjung Tinggi. Disana disewakan perahu. Ada yang pakai atap ada juga yang ga pakai atap. Yang pakai atap full seperahu harga sewanya kisaran 350 rb. Yang ga pake atap…ga tau, eheheh. Saya sarankan untuk Hopping Island start di jam 8 karena langit masih cerah dan terang. Panas? Biarin, wisata pantai kok takut panas. Kan ada sunblock ma kacamata item. Buat cewek, jangan pakai kaos warna terang ntar kalo masuk air keliatan pakaian dalamnya. Bawa snack dan air putih ke perahu karena tidak ada makanan dan minuman yang dijual disana. Pulau yang dikunjungi biasanya ada 4 yaitu Pulau Pasir, Pulau Lengkuas, Pulau Burung, dan Pulau Babi. Lama wisata ini bisa seharian.

Dinamakan Pulau Pasir karena ia belum resmi menjadi pulau. Pulau Pasir hanya terlihat kalau laut belum pasang. Luasnya mungkin kurang dari 200m2. Di tempat ini kita bisa menemukan banyak bintang laut. Bukan berarti bintang laut banyak tergeletak begitu saja di pasirnya ya tapi kita bisa minta ke mamang perahu agar dicarikan bintang laut. Kemarin si mamang dapat 3 buah, lumenjen buat foto2. Tidak lama kami berada di sini karena air yang pasang menyebabkan luasnya tinggal 20m2 saja. Kami pun cabut.

Kenapa dinamakan Pulau Lengkuas? Tidak ada seorangpun yang tau jawaban pastinya. Pulau ini menarik dikunjungi karena ada mercusuar disana. Mercusuar ini didirikan tahun 1882, jadi usianya udah 130 tahun tapi sangat terawat dan bersih. Di tengah pulau ia berdiri layaknya sebuah pion putih di tengah papan catur. Tinggi mercusuar ini 18 lantai tapi jangan karena takut cape kamu jadi malas menaikinya. Karena rasa lelahmu (lagian ga gitu capek kok sebenarnya) akan terbayar dengan bagusnya pemandangan yang bisa kamu saksikan. Di atas sana kamu bisa melihat Jakarta loh (hoax). Btw, demi menjaga kebersihan mercusuar, gw sampai disiramin sama air oleh penjaganya karena baju gw penuh pasir pantai. Biasalah, eke kalau motret sampai gulang guling padahal hasilnya biasa aj :D. Tapi keliatan banget kan pentingnya arti kebersihan disini? Tarif masuknya 5ribu/orang. Disana juga ada penangkaran penyu. Bayi2 penyu itu begitu lucuk-lucuknya sampai pingin kumakan saja rasanya, grauk! Pulau Lengkuas nyaman untuk snorkeling karena terumbunya lumayan banyak. Berhubung gw agak panik sama air, jadi ya gw mengambang sajalah menatap langit. Ternyata mengambang doang tetap enak karena bisa menyaksikan langit, pulau plus mercusuar putih itu diiringi suara ombak di telinga. Sungguh perpaduan yang syahdu, gw hampir ketiduran saking nyamannya.

Disebut Pulau Burung karena bentuk batunya yang seperti burung yang mau mengepakkan sayapnya. Tapi gw perhatikan dengan saksama sampai keliling2 pulau, masih ga nemu juga dimana kemiripan si batu dengan burung. Mata gw picek kali yee..Selain Lengkuas, Pulau Burung adalah pulau favorit gw karena ada spot disini yang sangat indah. Ada batu besar yang menonjol dari dalam lautan yang terletak di dekat pantai. Laut di antara pantai dan batu tersebut cukup dangkal sehingga kita bisa berenang disana. Jika air surut, kita bahkan bisa mencapai batu raksasa tersebut hanya dengan berjalan kaki. Enak kali ya terjun dari atas batu itu, langsung ke laut (eh..aman ga ya :p). Mercusuarnya Pulau Lengkuas masih terlihat dari sini.

Apakah dinamakan Pulau Babi karena ada batu yang menyerupai babi disini? Tettooot…anda salah! Dinamakan Pulau Babi karena dulu di pulau ini banyak terdapat babi. Sekarang sih udah ga ada. Pulau ini kepunyaan pribadi. Mungkin karena namanya yang kurang komersil, akhirnya diubah menjadi Pulau Kepayang. Sayang kami sampai disana mendekati sunset time jadi udah gelap. Di Pulau Babi terdapat cottage yang dinamakan Kepayang Cottage. Ratenya sekitar 200-300 ribuan. Cottagenya bernuansa alami, dari kayu gitu. Pemandangan depan cottage langsung ke laut lepas. Nuansa sekitarnya adalah nuansa hutan. Biasanya bule suka nih suasana kayak gini, hutani..Bagi kamu yang suka nuansa hutan, boleh dicoba. Lampu2 dihidupkan mulai jam setengah 5 sore. Ada outboundnya juga loh dan bisa ngadain acara api unggun juga. Waktu kesana, ada 2 cottage besar yang sedang dibangun dengan teras luas dan kamar mandi yang juga luas. Karena belum kelar jadi rate-nya belum dipublish tapi menurut penerawangan gw sekitar 500rb-an (sotoy ala Mama Loren). Katanya sih snorkeling disini juga bagus tapi kami ga bisa nyoba karena kadung gelap. (*maaf ga ada foto karena kamera sudah habis baterai T-T)

Sekian wisata kami yang edisi pantai. Sekedar info, toilet hanya ada di Tanjung Tinggi, Pulau Lengkuas, dan Pulau Babi. Waktu datang, fasilitas di Pulau Burung masih dalam tahap pembangunan. Berhubung gw ga ke Belitung Selatan, jadi ga bisa cerita apa2 tentang panorama disana T-T.

Pada akhir April, gw en suami berencana untuk menjajal tanah Belitung. Tadinya gw sempat ga semangat karena kami cuma berdua dan wisatanya pun kebanyakan wisata pantai. Takut bosan di tempat, tapi ternyata syak wasangka gw salah sama sekali. Belitung itu cocok dikunjungi oleh pasangan, untuk bareng sama teman-teman, maupun sendirian.

Berhubung cuma berdua, untuk menghemat pengeluaran kita ga menggunakan jasa tour & travel. Kita putuskan untuk menyewa mobil saja lengkap ma drivernya. Driver ini menjadi penting bukan karena kita malas nyetir ya..(Belitung gitu loh, bukan Jakarta) tapi lebih kepada peran gandanya nanti sebagai guide. Yah, apalah artinya mengunjungi tempat indah kalau tidak tahu apa maknanya? Seperti kata pepatah ciptaan gw sendiri : The beauty of a journey is what you see outside and what you know inside.

Info tentang guide sekaligus driver kami peroleh dari teman kantor. Tersebutlah nama Pak Buyung, seorang berdarah Padang namun tinggal lama di Belitung. Tak dinyana, ternyata beliau adalah pemilik dari tour & travel Pantai Timah sekaligus hotel Pantai Timah yang sedang dibangun. Itinerary rancangan gw yang gw pikir udah lumayan padat, ditambahin lagi olehnya sehingga semakin banyak saja tempat2 yang bisa kami kunjungi. And lucky us, selama di-guide oleh Pak Buyung kami mendapat banyak diskon. Loh kok bisaaa, gimana ceritanya?

Sudah menjadi rahasia umum kalau pihak travel menjalin kerja sama dengan hotel/tempat wisata/souvenir dan oleh2. Sebut saja nama travelnya adalah travel A. Jika travel A membawa tamunya menginap di hotel X, maka harga kamar yang berlaku di hotel X akan didiskon (sebut saja) 20% dimana uang tamu sebesar 20% itu akan menjadi komisi bagi si travel A. Namun oleh Pak Buyung, komisi berupa potongan harga itu tidak diambilnya tetapi dikembalikan lagi kepada tamunya. Kalau tamunya cuma 2 orang mah ga gitu ngefek ya 20%-nya. Tapi kalau tamunya rombongan company gathering sebanyak 50 orang? Silakan itung sendiri. Bagi para backpacker yang kesulitan keuangan, Pak Buyung juga ikhlas bila rumahnya ditumpangi. Jangan takut rumahnya ga nyaman karena rumah beliau lebih buesaaar dari rumah gw sendiri (jadi malu eke). Yang berminat silakan hubungi Pak Buyung (081-36-7799-714), moga2 no-nya masih sama :p.

Singkat cerita, inilah itinerary dari perjalanan kami.

Bandara di Pulau Belitung ada di kota Tanjung Pandan. Ada 2 maskapai yang melayani rute ini dari Jakarta yaitu Sriwijaya dan Batavia. Batavia hanya 1x penerbangan sementara Sriwijaya 3x penerbangan. Harga tiket di hari kerja berkisar dari 300-450 rbu untuk 1x penerbangan. Jika weekend menjadi 500-600rb. Jika sudah musim liburan atau hari besar bisa lebih dari 1 juta. Termasuk mahal karena lama perjalanan hanya 45 menit. Bandingkan dengan tiket Jakarta-Jogja dengan waktu tempuh yang sama. Semoga saja tahun depan semakin banyak maskapai yang melayani rute ini sehinggai harganya akan lebih bersaing. Belitung Selatan belum sempat kami kunjungi padahal konon keelokannya sama dengan Belitung Barat. Bila ingin mengeliling pulau ini dengan lengkap, datanglah dengan penerbangan pagi, dan minimal pulanglah lusanya dengan penerbangan malam.

Ada lumayan banyak penginapan disini mulai dari homestay sampai hotel bintang 4. Untuk hotel kebanyakan pemiliknya adalah Chinese dan pengusaha dari Jakarta. Waktu datang, hotel Aston setinggi 8 lantai sedang dalam tahap pembangunan. Kebanyakan hotel ga punya website jadi susah kalo mau liat fasilitas dan rate kamarnya, harus telvon langsung. Untuk info no telv penginapan di Belitung, silakan lihat di blog ini.

Kami sendiri menginap di Jl Pattimura tepatnya di Hotel Pondok Impian 2, Executive Room. Luas kamarnya sekitar 30 m2, AC, TV, kamar mandi dalam dengan air panas dan sarapan pagi 1x untuk 2 orang. Fasilitas lainnya adalah karaoke, meja bilyar, dan laundry juga dengan harga yang tidak mahal. Tidak ada kolam renang. Untuk semua itu rate-nya adalah 375 rbu namun kami cukup membayar 300 rbu saja karena diskon yang saya sebut di atas tadi :D. Menu sarapan tidak banyak, opsinya hanya mie rebus instan/mie goreng instan/nasi goreng. Hotel ini menghadap ke pantai walaupun pantainya tidak terlalu bagus tapi karena suasananya enak jadi tidak begitu ngefek. Hotel yang lain juga tidak kalah bagusnya. Di sepanjang jalan ini ada hotel Grand Pelangi, Hotel Bahamas, Hotel Pondok Impian 1, dan hotel2 lain yang sedang dalam tahap pembangunan.

*wah, kebanyakan masang foto hotel, ntar disangka promosi lagi :p.

Jalanan di Belitung tidak ramai, hingga nyaman saja rasanya jika kita matikan AC dan menikmati anginnya. Penduduknya sekitar 200 ribuan orang dan kriminalitas mendekati 0. Tampak banyak pembangunan di sana sini, sepertinya Laskar Pelangi membuat kota ini semakin berbenah :). Sampah?? Tidak ada, dan bagi kamu yang datang kesini, jangan sampai membuat sampah ya! Orang2nya ramah dan sopan. Belitung paling nyaman didatangi di bulan Mei – Oktober. Selain itu adalah musim hujan, apalagi kalau sudah dekat Imlek. Must bring item? KAMERA, SUNBLOCK, dan KACAMATA HITAM BUAT GEGAYAAN :p.

Di bawah ini garis besar pengeluaran kami. Karena cuma berdua jadi jatuhnya rada mahal. Jika anda datang berombongan, gw sarankan memakai travel karena jatuhnya bisa lebih murah. Tapi kalau kurang dari 5 orang, sewa mobil+driver aj biar lebih nyaman. Motor bisa digunakan untuk keliling kota Tanjung Pandan. Tapi jangan gunakan motor untuk datang ke pantai2 tersebut karena percayalah, itu…sangat…jauh…

  • Tiket pesawat PP Sriwijaya Air untuk 2 orang : Rp 1.880.000,-. Karena kami berangkat di hari kerja jadi jatuhnya lebih murah deh.
  • Penginapan di Pondok Impian 2 selama 2 malam+laundry = Rp 635.000,-. Harga asli per malam sebenarnya 375 rb tapi karena ada diskon dari Pak Buyung menjadi hanya 300rb. Terus kita ngelaundry disana, lumayan banyak juga, ada 6-7 pieces. Kena 35rb.
  • Sewa mobil Avanza+driver selama 2.5 hari : Rp 700.000,-. Sebenarnya harga sewa mobil+driver 350rb/hari. Kebetulan pas hari kepulangan, pesawatnya jam 11 siang jadi kami minta diantar wisata kuliner dan beli oleh2, baru deh ke bandara. Kami pikir kenanya menjadi (350rb x 2.5 hari)+tips tapi ternyata Pak Buyung hanya mau menerima Rp 700.000,- saja. Sisa uang kami dikembalikan deh. Katanya,”Kalau anak buah saya yang antar gpp, Mas Mbak. Tapi ini saya sendiri yang antar, jadi tidak usahlah dilebih2kan begini. Tidak enak saya.” Hiiiiih..tengsin!! Tengsin tapi lucky. Lucky tapi tengsin :p. Terima kasih ya Pak Buyung, semoga usahanya makin maju jaya!.
  • Bensin : Rp 200.000,-. Di Belitung kalau ga salah bensin dipasok 2x yaitu pagi dan sore. Kadang di Tanjung Pandan, bensin cepat sekali habis. Mobil2 pada mengantri di pom bensin. Jadi kebanyakan kami beli ketengan. Lalu lintas Belitung termasuk sepi, dalam jarak pandang sepertinya hanya mobil kami yang lewat (apa krn work-days ya?) sehingga kecepatan mobil stabil di 80 km/jam.
  • Sewa perahu untuk hopping island : Rp 350.000,- Sebenarnya ada biaya sewa peralatan snorkeling juga tapi kami digratisin oleh Pak Buyung. Again.. *mesem2
  • Sisanya adalah wisata kuliner dan beli oleh2. Wisata kuliner akan dibahas sendiri sementara oleh2 yang bukan makanan bisa dibeli di Galeri KUMKM. Galeri ini mengumpulkan semua kerajinan dari Belitung. Lumayanlah *wink

So? Let’s visit Belitung!