Archive for the ‘Financial Plan’ Category

Eh beneran loh, setelah kejadian itu akhirnya saya merenung panjaang. Iyaya, saya salah fokus nih. Takut kehilangan 65rbnya udah kemana2 duluan, padahal resikonya toh masih bisa saya tanggung. Akhirnya saya mengubah strategi, dari swing trader menjadi positioner. Mungkin swing trader belum cocok untuk saya yang masih pemula. Kalau swing trading memiliki masa trading 3-5 harian, positioner masa tradingnya 2-4 minggu. Nah saya coba diamkan sahamnya selama 3-4 minggu. Yah kalaupun setelah jadi positionerpun ujung2nya tetap sahamnya turun banyak, tinggal ubah saja strateginya dari positioner ke investor hahaha.

Akhirnya saya beneran agak cuek dengan trading saya. Saya beli saham, saya pasang rule di IPOT ATM, lalu saya tinggal. Diliat tiap hari sih, tapi walau turun naik saya acuhkan saja. Ternyata hati menjadi lebih tenang dan tidak panikan. Hasilnya pun mengikuti. Dulu2 kalau turun, pasti saya jual deh. Sekarang begitu turun saya diamkan, dan eh benar, akhirnya naik juga tuh. Naiknya pun lumayan besar, didukung oleh kenaikan IHSG juga sih. Tapi alhamdulillah, yang tadinya saya rugi 11% dari modal, per postingan ini dibuat, saya sudah untung 15% dari modal. Padahal masih ada bulan September, Oktober, November, dan Desember. Masih ada 4 bulan lagi untuk terus belajar menciptakan profit :D.

hasil tahap 2

Sudah banyak ijonya yaa, artinya sudah mulai banyak trading yang menghasilkan profit. Warna kuning artinya saham tersebut masih saya keep.

Profit ini bisa jadi didukung oleh kenaikan IHSG juga belakangan ini. Berhubung sekarang IHSG sedang dalam kondisi puncak2nya, jadi walau hasrat untuk trading masih tinggi (*maklum baru belajar, jadi semangat banget untuk repetisi), tapi logika harus tetap jalan. Situasi sekarang agak berbahaya karena potensi masa bearish semakin jelas. Maka saya mantapkan hati untuk tidak trading dulu sampai muncul sinyal2 yang bagus untuk kembali aktif. Bagi peserta training Ellen May, jangan cemas :D, karena Ellen May selalu mengirimkan kita pesan 2x sehari, setiap pagi dan sore tentang analisa dan rekomendasi saham darinya. Analisa ini sangat membantu bagi saya yang tidak sempat untuk menekuni berita2 ekonomi sedangkan untuk rekomendasi saham itu dikembalikan kepada kita. Mau kita ikuti ya monggo, tidak juga tidak apa2. Yang jelas segala loss/profit menjadi tanggung jawab kita masing2.

kopi pagi

2x sehari Ellen mengirimkan hasil analisanya kepada para peserta training. Informasi ini sangat membantu kita.

Beberapa orang menggunakan trading saham untuk hidup. Artinya, keuntungan dari saham ini ia gunakan untuk melanjutkan hidup. Saya punya teman di dunia maya yang diberikan uang belanja terbatas oleh suaminya. Uang itu beneran hanya cukup untuk makan keluarga dan sedikit kelebihan lainnya. Sementara ia ingin sekali membeli benda2 bermerk. Akhirnya dari sisa uang belanja tersebut, ia sisihkan untuk arisan. Ketika ia menang arisan, uangnya ia gunakan untuk trading saham. Hasilnya lumayan menurutnya, ia bisa memenuhi apa yang ia inginkan selama ini. Sementara saya, menggunakan trading saham ini lebih ke investasi. Yang saya masukkan adalah uang dingin. Saya tidak berniat menjadi seorang intraday trader yang kudu pelototin saham dari detik ke detik. Saya hanya ingin memantau. Untuk apa? Untuk dana pendidikan anak dan dana pensiun saya dan suami di masa depan. Udah minimal 2 itu saja dulu.

Saya lalu membandingkan hasilnya dengan deposito dan reksadana saham yang dulu pernah saya ikuti. Wedeeeeh, beda jauhlah returnnya. Ternyata benar ya, kalau kita mau belajar ilmu baru, mau melek finansial, mau belajar bertanggung jawab atas pengelolaan harta kita sendiri, hasilnya akan JAUH BERBEDA ketimbang kita selalu berpendapat sulit sulit sulit dan mempercayakannya semua kepada orang lain. Bayangkan…untuk dana pendidikan S1 anak saya, berdasarkan hitung2an dulu, saya harus menabung tiap bulannya 1 juta. Artinya setiap tahun secara rutin saya harus menyisihkan 12 jt dengan asumsi return yang saya dapatkan per tahunnya sekitar 20%. Tapi dengan saham? 8 bulan sudah 20%, kalau setahun bisa berapa %? Itupun saya masih pemula, masih banyak salahnya. Kalau sudah semakin berpengalaman seperti teman saya, setahun bisa dapat berapa % coba?

Memang tidak ada jaminan untung 20% per 8 bulan itu akan selalu saya terima. Namanya juga pasar, bisa kondusif, bisa juga resesif tapi setidaknya saya memiliki peluang untuk lebih memaksimalkan dana yang saya punya untuk mendapatkan pertumbuhan yang lebih baik ketimbang metode2 konvensional selama ini. Saya masih pemula, masih hijaaaau banget. Teman saya dulu belajar sampai 5 tahun lamanya untuk benar2 menguasai kondisi pasar. Saya baru 8 bulan, apalah saya ini :D, terlalu cepat kalau mau berbangga sekarang. Insya Allah saya akan lanjutkan proses pembelajaran ini. Bila ada info penting tentang update2 berikutnya, akan saya posting di blog ini, siapa tahu bisa menginspirasi teman2 semua yaa.

Sekali lagi, saya hanya seorang emak2 biasa yang sedang belajar trading. Bukan profesional, bukan praktisi berpengalaman banyak, tapi hanya orang yang sedang belajar.  Bagi saya, sepanjang halal, saya suka mengerjakannya, dan hasilnya ada….akan saya pelajari dan eksekusi :). Semoga postingan ini bermanfaat.

 

 

Setelah training tersebut, saya memberanikan diri untuk segera action. Tepat bulan Januari 2016, 1.5 bulan setelah training, saya membuka akun di Indopremier. Saya pilih Indopremier karena termasuk 3 sekuritas terbaik tahun 2015. Pembukaan akunnya sangat mudah, via online saja, dan gratis. Tinggal masukkan data lalu kemudian di hari itu juga petugas dari Indopremier datang menemui saya di kantor untuk menandatangani beberapa dokumen. Kelar prosesnya dalam waktu tak sampai 15 menit.

Oiya, saya memilih untuk membuka akun syariah agar terhindar dari riba. Bisa dibaca di link ini yaa, apa bedanya akun syariah dan yang tidak. Bila saya memilih akun syariah, otomatis tidak semua saham bisa saya beli. Tapi tak mengapa karena saham2 syariah sendiri sudah lebih dari 300 buah, itu aja udah cukup bikin keliyengan :p. Ellenpun menganjurkan agar pemula sebaiknya memiliki saham tak lebih dari 3 macam.

Sekarang modal. Modal berapa ya yang akan saya masukkan untuk coba2 belajar ini? Pertama saya masukkan 4 jt. Niat masuknya sebagai swing trader dengan lama trading tak sampai seminggu. Saya batasi kerugian di angka 3%. Kenapa 4jt? Karena 4 jt adalah resiko yang bisa saya terima jika nanti ternyata uang itu hilang semuanya. 4jt itupun saya ambil dari sisa2 gaji saya di Oriflame hehehe, jadi benar2 uang dingin dan tidak mengganggu kas tabungan sama sekali.

Ternyata saham yang saya pilih harganya mahal2. Saya cari aman, jadi memilih saham2 bluechip yang harganya rata2 minimal sudah ribuan. Uang 4jt rasanya kurang pas untuk membeli 2 macam saham apalagi 3 macam. Akhirnya saya masukkan lagi dana 5jt. Jadi total modal saya adalah 9jt. Sayapun siap untuk praktek trading :D. Ada ga pemula yang mulai trading dengan 50jt? 100jt? Tentu saja adaaaaa, tapi itu bukan saya :p. Prinsip saya adalah, mulai dari nominal yang kecil dulu. Rugi dan untung, akan saya terima. Ga boleh pundung, namanya juga belajar, mana mungkin langsung untung dan selalu untung kan? Yang penting saya temukan trik2nya, saya buktikan bisa profit minimal 20% di akhir tahun, baru tahun depan dicoba dengan modal yang lebih besar.

Banyak orang yang takut trading karena takut uangnya amblas lenyap begitu saja. Tipikal seperti ini adalah tipikal penjudi, yaitu orang yang terlalu euphoria dengan keuntungan sehingga lupa daratan, atau bisa juga orang yang kemarin rugi besar lalu balas dendam dengan berasumsi di trading berikutnya dia harus untung. Padahal mana bisa begitu, pasar kan tidak bisa dipaksakan. Ellen May melarang kami untuk berjudi. Trading harus dengan pengetahuan yang baik dan suasana hati yang tenang. Selalu saja di setiap trading kami diminta untuk membuat rencana terlebih dahulu, yaitu akan beli berapa lot, akan dijual di harga berapa untuk profit, dan akan dijual di harga berapa bila rugi. Karena masih pemula, level kerugian saya tetapkan di angka 3%. Itu setara dengan 65rb. Artinya, setiap saya trading dengan modal 2-3jt di setiap sahamnya, saya hanya akan menerima kerugian maksimal 65rb. Lebih dari itu, akan saya jual. Jadi tidak akan pernah ada cerita uang saya habis :p.

Tapi ternyata…berkali2 trading, saya rugi melulu bahahaha. 65rb kalau dikali 10x trading kan jadi 650rb ya? Lumayan menohok rasanya, kan yaaa? Tapi sekali lagi, namanya juga belajar. Di training kami diminta untuk menganalisa, kenapa bisa gagal. Temukan kesalahannya agar jangan terulang lagi di kemudian hari. Setiap trading, saya selalu catat kenapa saya gagal dan kenapa saya untung. Alhamdulillah, catatan ini sangat membantu proses pembelajaran saya.

pic saham

Warna oranye artinya rugi. Warna hijau artinya profit. Jadi ketahuan ya, 7x trading dalam 2 bulan pertama hasilnya seperti apa hahahaha.

Kelihatan kan ya dari tabel itu kalau saya rugi melulu wkwkwk. Masih labil gituh. Itu baru 2 bulan trading padahal. Total kerugian saya setelah 3 bulan trading mencapai 1jt. Angka itu menurut saya besar, jadi saya stop trading untuk menenangkan diri dan introspeksi. Mencari tahu, kenapa sihh saya kok rugi melulu? Lalu ketahuan deh jawabannya.

Ternyata saya belum menguasai psikologi trading. Mentalnya masih mental cemen alias takut rugiii. Baru aja rugi 65rb saya udah kayak cacing kepanasan. Cepat2 dijual, daripada ruginya makin besar jadi 100rb misalnya. Akhirnya beneran saya jual deh dan rela menerima rugi 65rb. Eee ternyata habis itu harganya naik lagi bahkan lebih besar ketimbang harga saya beli. Kalau saya sabar menunggu 2 harian lagi, ternyata malah jadi untung 100rb. Ih, sakitnya tuh disini hahaha, gara2 takut rugi 65rb doaang. Padahal apa ya arti 65rb bagi saya? Sepertinya saya sering deh makan siang di Yoshinoya atau Richeese atau Pho 24 dan habisnya juga setara itu. Gak takut tuh, gak panik. Lalu kenapa rugi segitu di saham rasanya panik amat ya? Wkwkwwk.

*bersambung

Setelah memutuskan berhenti (untuk kemudian join kembali) di Oriflame, saya menjadi underload. Underload itu adalah waktu di rumah menjadi berlimpah-limpah. Di rumah alhamdulillah ada 2 asisten, yang rela saya bayar dengan maksud agar sampai rumah saya tidak mengerjakan apa2 lagi. Tinggal bercengkerama dengan keluarga. Lalu istirahat yang cukup 😀 biar awet muda. Tapi memang dasarnya saya suka sibuk, akhirnya malam hari perlahan mulai merasa hampa kurang kegiatan.

Walhasil saya mulai mencari2 kegiatan. Apa ya kira2 yang bisa dikerjakan tapi loadnya ga begitu tinggi? Eee dijawab sama Allah. Seorang teman kantor bercerita bahwa dia baru saja mengikuti training trading saham. Teman kantor yang bernama Haekal ini berencana akan sekolah ke luar selama 1 tahun. Jadi rencananya sebelum pergi ia akan invest di saham, lalu pas pulang dia tinggal melihat seperti apa progressnya.

Uwooww, saham?? :O. Wahana investasi paling canggih (*menurut saya ya) yang pernah saya kerjakan adalah reksadana saham. Itupun sudah mulai saya tinggalkan karena bisnis Oriflame saya menghasilkan lebih banyak pemasukan. Tapi kalau saham…wah kok sepertinya menarik. Memang pada dasarnya saya suka belajar hal baru. Tapi tunggu, halal ga ya trading saham itu? 😦

Akhirnya karena penasaran saya googling dan alhamdulillah, trading saham sudah dinyatakan halal oleh MUI sejak 2011. Berkurang satu keraguan, saya jadi mantap untuk mulai mencari info. Sayapun akhirnya mengikuti training saham yang disarankan oleh Haekal pada bulan November 2015. Nama trainingnya Trading Profits, dibawakan oleh Ellen May. Biayanya kalau ga salah 5jt, untuk training selama 2 hari, bonus software. Mulai dari jam 8-17. Dananya didapat dari hasil merayu2 suami untuk pakai uang tabungan hohoho. Yaa suami yang memang udah ngerti sifat istrinya ini langsung oke2 saja.

ellen may

Maka datanglah saya ke training itu dengan semangat. Tempatnya di hotel kecil di Jakarta Barat. Waktu datang ke training tersebut saya agak kecewa dengan hotelnya. Ruangannya kecil untuk peserta berjumlah hampir 80 orang. Tiap orang bawa laptop, jadi ngetiknya ga bisa leluasa. 1 meja diisi oleh 3 orang. Snacknya kurang sedap. Air wudhu di musholanya asin dan kamar mandinya tidak bersih. Saya punya banyak list complaining sebelum kemudian menyadari bahwa untuk harga 5jt, memang inilah kualitas akomodasi yang bisa saya dapatkan. Selama ini training2 dari kantor memang diadakan di hotel bintang 5, di Bali/Bandung/Jakarta/Lombok dengan snack dan makanan yang enak, belum dihitung bonus tas dan printilan lainnya. Sekelas itu harga trainingnya minimal 20jt. Jadi saya langsung merasa malu pada diri sendiri. Saya sanggupnya hanya bayar 5 juta tapi mengharapkan fasilitas 20 jt? Tentu saja tidak bisa :). Jadi akhirnya saya diam dan menerima.

Terlepas dari masalah hotelnya, trainingnya sendiri sangat memuaskan! Ellen May logatnya medok dan ramah. Menjelaskan dengan cepat, tanpa banyak muter2. Sepertinya kalo saya tinggal ke toilet sebentar saja, saya akan kehilangan banyak ilmu. Akhirnya saya tahan2 pipis deh T-T, menderita. Untuk batch kali ini pesertanya kebanyakan cowok, usia 35 ke atas. Banyak chinese juga dan sepertinya cuma saya deh yang paling cupu… Yang lain rata2 sudah pernah trading, minimal sudah punya akun untuk trading. Saya? Buat akunnya aja belum tahu bagaimana caranya :p.

Kami kemudian diajarkan apa kelebihan investasi di saham. Lalu apa yang membedakan penjudi dan trader. Siklus2 saham. Trend dan pattern2 saham. Cara menganalisanya. Lalu ada juga mentor lain (cowok) yang spesial mengajarkan manajemen modal dan manajemen psikologi dalam trading. Seluruh materinya menarik bagi saya, tapi dijejali ilmu begitu banyak selama 2 hari berturut2 ya rasanya kram otak juga hehehe. Untung ada buku panduannya. Sayapun kemudian bertekad untuk segera mempraktekkan ilmu ini. Ceritanya akan saya bahas di postingan berikutnya yaa.

Oiya…bagi yang ingin mengikuti trainingnya bisa lihat jadwal trainingnya di web ini ya. http://www.ellen-may.com/

 

 

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Dibeli untuk Menolong

Posted: November 7, 2015 in Financial Plan

Pada suatu ketika, tabungan kami sudah terkumpul lumayan banyak. Waktu itu kami menabung dengan rencana hendak digunakan untuk…hmm…apa ya, saya pun sudah lupa :D, tapi tampaknya untuk dana darurat. Intinya sedikit lagi sajalah waktu itu rencana akan terwujud, lalu tiba2 saya ditelvon. Kira2 begini percakapannya.

“Feb..ini Mama Mawar (sebut saja begitu namanya). Mau Febrie beli tanah Mama Mawar? Tolonglah Feb, Mama Mawar butuh sekali uangnya. Mama Mawar sedang membangun rumah di xxx, mau pindah kesana ternyata uangnya kurang Feb… Kurangnya bukan untuk cantik2kan bangunan, tapi benar2 agar bangunannya bisa berdiri ajalah. Bisa Febrie beli? Papa Mama tau tu nyo dimana tanahnya. Kami dulu kan beli rame2 Feb, deketan saja semuanya tuu. Bagus potensinya, yakin Mama Mawar dia akan berkembang. Dekat dengan bandara Feb, dekat juga dengan kompleks perumahan developer dan jalan raya besar pun udah dibangun disana…”

Panjaaangnya lah telvon Mama Mawar sampai saya bingung harus ngomong apa dan cuma bisa ooo oooo. Saat ditutup, langsung bilang isi telvon tadi ke suami. Mama Mawar ini adalah orang penting bagiku :), kakaknya Mama, sangat dekat denganku. Semasa kecil di Pekanbaru dulu, saya dan adek sering menginap di rumah sepupu dan Mama Mawar yang jago masak itu memasakkan banyak makanan :D.

Ternyata suami langsung setuju, karena demi menolong keluarga. Pun setelah dikroscek dengan Papa Mama, memang dekat sekali dengan tanah mereka jadi mereka tau betul kondisinya. Saya percaya saja dan tidak pakai lama, kami pun membelinya. Tak terasa sayang sedikitpun dana darurat terpakai untuk itu. Kami beli cash.

Tanah itu masih girig dan masih perlu disertifikasi. Pengerjaan sertifikasi dipercayakan pada Papa Mama. Kelar membeli tanah itu (yang tanpa perlu dilihat kondisinya dulu itu), perasaan kami entah kenapa lega sekali. Ini pasti penggunaan yang tepat :). Walau harus menabung lagi dari awal.

*saat Lebaran kami cek tanah tersebut, alhamdulillah memang bagus lokasi dan kondisinya ^^. Semoga tanah ini membawa kebaikan dan manfaat aamiiiin.

October 2015

Mungkin ada yang bertanya apa itu “Dana darurat”? Bisa dibaca di postingan saya yang ini ya. Itu postingan tahun 2009. Sekarang tahun 2015 :D. Jadi saya butuh 7 tahun untuk mengumpulkan dana darurat itu 😀 (*mencicilnya sejak 2008). Lama yaaa (makanya jangan ditiru), tapi alhamdulillah banget sudah terkumpul. Legaa rasanya.

Kami kebetulan ga terlalu fokus jadinya memang lamaa banget terkumpul. Jujur aja, grafik dana darurat dari tahun 2008-2013 sebenarnya hampir bisa dikatakan stuck di angka segitu2 aja. Kalaupun naik, engga banyak. Naik pesatnya itu baru 2 tahun terakhir ini aja. Itu juga setelah melalui proses pembenaran di sana sini.

Kesimpulannya adalah: ternyata walau udah baca buku berkali2, tetap saja kaminya ndableg hehehe (*saya terutama hehehe). Sudah jelas2 di buku disebutkan bahwa kumpulkanlah dana darurat, baru berinvestasi, masih juga kami melawan. Kami sambi mengumpulkan dana darurat dengan investasi ke pendidikan anak, juga properti. Kami bahkan bela2in renovasi rumah yang lumayan menghabiskan banyak dana. Maka itulah menjadi lama, coba *_*.

Bagaimana hitung2an mudahnya untuk mengetahui kita perlu berapa lama mengumpulkan dana darurat? Pertama harus lihat dari basicnya dulu. Menurut yang saya pelajari, sebagai manusia dengan financial plan yang baik maka kita itu seharusnya bisa menabung minimal 10% dan maksimal 30% dari pemasukan kita. Kurang dari 10% artinya kita boros. Lebih dari 30% bisa jadi artinya kita pelit. Misalkan saja kita bisa menabung sebulan 10%. Dan sebut saja kita adalah suami istri dengan 1 anak yang berarti dana darurat adalah 9x pengeluaran sebulan. Pengeluaran sebulan itu sendiri meliputi apapun itu termasuk sedekah dan cicilan2.

Contoh. A adalah karyawan dengan gaji 15jt. A punya 1 istri dan 1 anak. Setiap bulan A bisa menabung 10% dari total gajinya yaitu 1.5 jt rupiah. Itu berarti pengeluaran sebulannya adalah Rp 15.000.000- Rp 1.500.000 = Rp 13.500.000,-. Maka dana darurat yang harus dikumpulkan oleh A adalah 9 x Rp 13.500.000,- yaitu Rp 121.500.000,- Berapa lama A bisa mengumpulkannya bila kemampuan menabungnya adalah Rp 1.5jt/bulan? Adalah 121.500.000 / 1.500.000 = 81 bulan alias hampir 7 tahun.

Kelihatannya lama banget yaaa. Sudah gitu kalau melihat angkanya rasa besar banget, ga mungkin tercapai. Nah dulu waktu saya hitung2 juga rasanya hopeless hehehe. Terus mengambil excuse dan berpikir “Memangnya harus ya aku mengumpulkan beginian? Itu kan dana nganggur yang ga diapa2in, apa bukannya jadi mubazir? Memang nanti cuma makan tahu tempe? Ga sedekah? Ga umroh or daftar naik haji? Macam budak uaaang saja kumpul2kan uang melulu.”

Yaa mari dibahas satu2 yaa.

  1. Bisa jadi memang butuh selama itu, bila kita menabungnya 10% per bulan. Tapi sebenarnya kalau lifestyle kita tidak berfoya2 alias hidup sesuai kemampuan maka umumnya kita akan bisa menabung 20% per bulan. Kalau ga bisa, artinya memang lifestylenya belum sesuai kemampuan (*demikian kata buku).
  2. Bagi karyawan kan ada uang THR, uang cuti, uang bonus, mungkin ada uang perdiem, uang jalan2, dll. Kalau mau fokus, itu sebenarnya bisaaaa banget digunakan full untuk dana darurat. Dijamin dana daruratnya bakal jauh lebih cepat terkumpul. Perbaikan rumah, pagar, carport, tiap saat ganti gadget, atau apapun yang sekiranya tidak mendesak sekali bisa menunggu nanti.
  3. Biasanya gaji akan naik terus. Kita upayakan lifestyle naik namun tidak sebesar kenaikan gaji.
  4. Andaikan pun ternyata sudah menerapkan lifestyle sesuai kemampuan (*penerapan yang jujur yaa, bukan pembenaran) namun tetap terkumpulnya 7 tahun…ya gapapa. Memangnya kenapa..? Kan yang penting kita menjalankan dengan benar dan tidak merampas hak2 orang lain.

Memangnya aku ga makan biar dana darurat terkumpul? —> Makan kok, makanlaah. Cuma kebanyakan dari kita suka jajan. Nah tiap wisata kuliner itu bisa habisnya banyak sekali padahal kalau dipikir2 ga semuanya worth it. Ga mesti juga kita harus makan tahu dan tempe setiap hari (e tapi tahu tempe sehat kok :D), tapi makan masakan rumah insha Allah akan jauh lebih hemat dan sehat. Saya pribadi juga boros banget di wisata kuliner iniiih, soal doyan sekali makan. Udah gitu sekali wisata kuliner saya bisa coba 2-3 menu *_*. Benar2 deh.

Memangnya aku ga usah sedekah apa? Memangnya aku ga ngasih ke ortu? —> Cara kita supaya bisa menabung lebih banyak bukanlah dengan mengurangi sedekah atau meniadakan uang untuk ortu tapi dengan menekan lifestyle kita dan mengurangi belanja yang tidak perlu. Apa iya sedekah harus dikurangi sementara begitu gadget baru keluar pasti kita beli? Apa iya jadi ngurangi kiriman uang ke ortu sementara jalan2 ke luar negeri makin sering?

Memangnya aku ga umroh? Gak naik haji? —> Jangan mengaitkan aktivitas menabung dengan ibadah. Ibadah adalah ibadah. Menabung ya menabung aja. Semua yang bersifat penting dan mendesak harus dilakukan sesegera mungkin. Tinggal kita yang mengatur apa2 saja yang masuk dalam kategori penting dan mendesak. Kalau memang niat ibadah, pastilah umroh dan haji akan masuk ke hal mendesak yang tidak bisa ditunda. Kalau masih bisa ditunda2 artinya memang belum kita anggap mendesak. As simple as that.

Khusus untuk poin no 2, akan saya bahas lebih panjang. Kita semua sebenarnya bisa mengumpulkan dana darurat lebih cepat dengan menjalankan poin no 2 saja. Yaitu FOKUS. Semua tabungan yang terpencar dimana2, disatukan saja dengan judul “DANA DARURAT”. Lalu dana2 seperti THR dan kawan2 itu, yang angkanya lumayan besar ya teman2, yang selama ini selalu digunakan untuk membeli furniture (dengan alasan rumah masih kosong), untuk renovasi rumah (atas berbagai macam alasan yang setelah ditilik harusnya ga perlu sebesar itu), untuk investasi baik dana pendidikan (dengan alasan makin awal diinvest maka akan makin mudah) maupun properti (dengan alasan kalau beli nanti2 harganya akan naik berlipat2), itu begitu dapaat langsuung dimasukkan dalam kas Dana Darurat. Selain itu supaya lebih cepat, tambahkan juga dengan menabung tiap bulan. Menabungnya di awal – bukan di belakang, langsung sat set transfer ke rekening yang ATM dan buku rekeningnya disimpan di rumah sehingga malas untuk ngecek. Sehingga akhirnya lupa udah berapa. Sehingga pas ngecek jadi kaget, “wah alhamdulillah sudah segini :D”. Cara di atas lumayan manjur.

Lalu, sebenarnya seberapa penting dana darurat ini? Dulu saya juga merasa apa sih gunanya dana darurat. Di buku sih ditulisnya untuk jaga2 kalau ada PHK, kecelakaan, kematian, dll yang mengerikan. Kebetulan pikiran saya masih ga nyampe ke hal2 mengerikan itu. Maksudnya adalah, saya merasa sepertinya tidak mungkin hal mengerikan itu terjadi pada kami. Sampai suatu ketika harga minyak dunia mulai turun :D. Mulai muncul berita PHK dan MAT disana-sini. Iya sih memang ada pesangon tapi setelah dihitung2 uang pesangon bila dihabiskan dengan lifestyle seperti biasa maka hanya cukup untuk sekian bulan dan bukan untuk bertahun2. Jadi was2 juga, maka apa salahnya kami juga persiapkan sesuai saran di buku.

gambar diambil dari google

gambar diambil dari google

Setelah dana darurat ini terkumpul, sekarang rasanya lega. Berikutnya terjadi apapun udah lillahi ta’ala yang penting kan sudah ikhtiar nih menyiapkan serep, bukan “apa yang terjadi, terjadilah” hahaha. Selanjutnya bisa lebih fokus untuk dana pendidikan anak dan investasi ^^. Saya yakin ada banyak orang2 di luar sana yang lebih bijak dalam mengumpulkan dana darurat keluarga mereka, termasuk mungkin anda yang membaca postingan ini :D.

Semoga postingan ini bermanfaat yaa. Aamiiin.

*oiya, jangan lupa. Kalau dana darurat kita someday terpakai, harus segera diisi ulang lagi yaa. Dan juga..tiap tahun kan harga barang naik sehingga pengeluaran bulanan juga akan naik. Maka dana darurat juga nominalnya pasti naik. Jadi tiap tahun selalu cek and ricek, apa yang dikumpulkan sudah sesuai dengan rumus apa belum. Happy saving! ^^

Saya dan mantan pacar dulu ketemunya pas kuliah di Jogjakarta, seangkatan dan sekelas. Lalu kami pacaran. Tak disangka ternyata awet hahahaha. Tak disangka juga ternyata diterima di kantor yang sama *o*. Perusahaan yang bergerak di industri migas.

Menjadi pegawai di perusahaan minyak saat itu (2006) adalah pekerjaan yang bergengsi. Ada banyak fasilitas yang alhamdulillah bisa kami dapatkan. Salah satu fasilitas yang sangat saya syukuri adalah HOAP, yaitu kredit kepemilikan rumah. Kantor akan memberikan kami pinjaman untuk membeli rumah dan kami bisa mencicilnya selama 15 tahun, TANPA BUNGA. Woooow!! Fasilitas itu bisa diambil setelah 2 tahun bekerja, tepatnya tahun 2008.

Besar pinjamannya…lupa juga hitung2annya yang jelas kami diizinkan untuk membeli rumah dengan range harga 250jt. Bagi kami yang anak bau kencur alias baruuu lulus kuliah dan keterima kerja, jumlah itu sangat besar, tambah lagi punya rumah sendiri dengan status SHM. Wooooowww!! Langsung saya dan mantan pacar cari2 senior untuk diajak diskusi. Kemanakah kami harus membeli rumah dan apa saja yang perlu kami pertimbangkan dalam membeli rumah? Bagaimana tips dalam membeli rumah sudah dibahas disini.

Senior kami namanya Bondan Brilianto. Badannya besar, kulitnya gelap, suaranya keras dan orangnya bersemangat. Salah satu info penting yang ia ungkapkan adalah bahwa kalau ada fasilitas dari kantor maka HARUS SEGERA DIMANFAATKAN karena fasilitas itu kapan saja bisa dihapuskan. Oke Mas, siyap!! (*terbukti di tahun 2013 kalau ga salah fasilitas ini sudah dicabut). Lalu beliau juga menyarankan bahwa sebelum kami menikah maka kami harus ambil HOAP dulu. Jadi dapatnya kan 2. Sementara kalau sudah menikah, maka dapatnya hanya 1 HOAP. Haaaahhh? Gitu yaaa? Oke Mas, siyappp!!

Maka jadilah saya memakai HOAP saya untuk membeli rumah di Depok yang ceritanya ada disini :D. Lalu calon suami beli dimana? Ketimbang membeli rumah sebelahan agar nanti ke depannya bisa digabungkan supaya menjadi lebih besar, calon suami saya saat itu memilih untuk membeli rumah petak dengan tujuan investasi. Letaknya di jalan kecil saja, seperti menyuruk (*sembunyi). Ada tanah dengan 2 sertifikat, yang total luasnya mencapai 450m2. Di atasnya berdiri 2 rumah petak, masing2 luasnya 60 m2. Saat itu, sewa si rumah petak masing2nya Rp 450.000,- itu di tahun 2008. Pemilik butuh menjualnya dengan segera. Dikarenakan istrinya meninggal, lalu seperti kisah yang biasa sering kita dengar, anak2nya rebutan warisan. Maka semua aset hendak dijual dan dibagikan karena sang suami ingin segera lepas dari urusan2 semacam ini. Ya Allah, semoga keluarga kami ke depannya dihindarkan dari hal2 semacam ini aaamiiiiin.

Lokasinya tidak jauh dari rumah saya, naik motor hanya 5 menit. Menurut saya pribadi, walau lokasinya di jalan yang kecil,, tapi potensi disana bagus untuk disewakan. Melihat tanahnya yang luas terhampar itu, pening juga saya membayangkan berapa biaya yang harus dikumpulkan untuk mengembangkannya menjadi beberapa rumah petak yang full dan solid. Rumah petak yang sekarang sudah lumayan sih, tapi karena saya wanita pasti pengennya yang lebih resik. Semacam ada tamannya. Ada tempat sampahnya. Ada lahan jemurannya. Ada tempat cuci motornya. Ada pagarnya. Dan ada tembok pembatas dengan tetangga. Bisa dibangun 4 rumah petak lagi, belum kalau ditingkat. Ondeh mandeh…sakit kepala den, sudahlah yang penting dibeli dulu mumpung ada fasilitas ini.

Lalu sekarang tahun 2016. 8 tahun berlalu dan apa kabar si rumah petak? Sekarang harganya sudah naik lebih dari 5x lipat. Belum ada penambahan apapun di rumah tersebut hehehe, kecuali tembok sekeliling (*itu juga karena saya paksa2) soal si mantan yang akhirnya jadi suami ternyata tidak terobsesi untuk membenahi aset. Berapa uang sewanya? 500rb :). Sudah selama itu berlalu dan uang sewanya cuma naik 100 rebu? Ya itulah suami saya. Katanya, gapapa. Ga papa ayang, ga papa. Iya deh ayah, gapapa :).

Suami sudah resign dari perusahaan lama, lalu pindah ke perusahaan baru. Ketika resign maka HOAP yang dulu bebas bunga serta merta akan berubah menjadi KPR biasa. Tapi tetap bersyukur, karena kalau ga ada HOAP dari kantor pertama waktu dulu itu, mungkin aset ini tidak akan pernah terbeli. Makasih yaaa kantorkuu :*.

Semoga investasi ini bermanfaat banyak ke depannya, aamiiin.

Update: alhamdulillah kami sudah bebas riba. Di 2016 kami melunaskan pinjaman ini dan rasanya legaaa sekali lepas dari hutang :D.

Kejaaaam, memang KEJAM. Dulu waktu SD, SPP gw di bangsa 15 ribuan. Waktu SMA tahun 1997, SPP-nya udah kisaran 2 juta, uang masuknya 20 jt. Waktu kuliah di Jogja, SPP-nya kisaran 450rbuan, sekarang udah non subsidi, dengar2 per SKSnya aj udah 80 rebuan.

Biaya pendidikan naiknya kadang melebihi inflasi, ga pakai ati nurani. Gw sekarang aj suka terkaget2 denger berapa total biaya yang harus dikeluarkan untuk kuliah di kedokteran UI. Lebih dari 250 juta juragaaan. Kecekek ga dengernya tuh. Mending langsung sekolah di luar negeri deeh.

Well, gw menjalani hidup ini dengan santai. Tapi untuk urusan pendidikan anak, gw ga bisa santai2. Sekarang sih enak, pekerjaan gw dan suami masih layak dan terbilang bisa untuk menangani biaya pendidikan anak di level menengah. Tapi roda ini berputar. Hidup ini penuh ketidakpastian. Suatu hari bisa saja kami kena PHK, kena musibah, mendadak sakit parah, everything can be happened.

Apakah anak gw juga harus kena getahnya? Janganlah ya. Hak anak gw adalah untuk bisa mengecap pendidikan yang layak tanpa harus ternodai dengan carut marut keuangan keluarga. Karena itu gw dan suami sudah dari jauh hari mempersiapkan biaya pendidikan untuk anak. Dari sejak Alif lahir, emaknya langsung menghitung prediksi biaya SD, SMP, SMA, S1, dan nikahnya wakakakak. Beberapa rekan menghitung sampai biaya S2. Sook, monggooo. Kalau saya S1 ajalah. S2 biar nanti Alif yang urus sendiri. Kan dia udah dewasa dan mandiri..kalau mau lanjut sekolah ya harus berupaya cari ya Nak. Ada banyak cara kok, bisa beasiswa, fasilitas dari kantor, atau kalau memang ternyata jiwanya jiwa bisnis yo wis ga usah S2 sekalian ahahahah (*ibu apa ini).

Kalau biaya nikah mah memang kewajiban ortu kekekek. Apalagi nikah di Jakarta ini, masya Allah deh mahalnya. Dulu gw nikah di Pekanbaru mah modalnya cuma 20 juta, itu udah bisa undang orang sekampung, hingar bingar dari pagi ampe malam. Lah Jakarta butuh ratusan juta, undangan terbatas, jamnya pun medit amaaat. Kota opooo iki kok ya ngerasani banget tinggal disini. Tapi secara bapak ibumu gaolnya di Jakarta, yo mosok nikahan anaknya di Pekanbaru, sapa yang mau dataang? Wkwkwk.

Ini tadi mau cerita tentang apa si. Oh ya, biaya pendidikan ya.

Ok, jadi untuk mempersiapkan biaya pendidikan lebih baik dimulai sedini mungkin. Kalau saya mah sejak anak lahir langsung picit2 tuts telvon, tombol kalkulator, dan keypad kompi, urus semua itung2an biaya pendidikan. Iyaaa pake ngitung doonk karena saya ga mau sembarang nabung. Kalau kekecilan, nti kami bisa2 nombok banyak pas hari H nya. Sukur2 kalo ada duitnya, kalo kagak? Kalo kegedean, ga efisien atuh namanya, kan uangnya bisa dipake buat kebutuhan yang lain.

Jadi gimana cara ngitungnya? Ada rumus excelnya bow, horeeeee, mudaaah. Saya dapat dari temen juga si. Thx ya Fahri Usmani yang udah memberikan saya rumus ini, sedekah jariyah ada padamu.

Jadi stepnya adalah, saya kudu menetapkan anak ini rencananya mau disekolahkan di sekolah apa? Misal sekolah B. Cari tau deh disana berapa uang pangkalnya dan SPP-nya (*disini nih perlu pijit tuts telvon buat call tu sekolah enjen tanya2 berapa uang pangkal dan SPP-nya). Terusss dengan asumsi anak kita nantinya bersekolah disana, kita bisa mencari tahu berapa uang pangkal dan SPP-nya pas nti anak kita gede. Ada itu rumusnyaaaa, tinggal masupin angka aj.

Contoh. Alif sekarang usianya 4 tahun. 8 tahun lagi mau sekolah di SMP Darbi yang sekarang aj uang pangkalnya udah 22 juta. 8 tahun lagi dengan tingkat inflasi biaya pendidikan asumsi 15%, uang pangkalnya menjadi 67.298.506 alias 67.3 juta. Howeeek, gede amaaat kan?

Lalu gimana cara nabungnya? Kalo saya pakai reksadana saham. Sok atuh yang lain kalo mau pake emas, duit, deposito, properti atau asuransi, monggooo. Saya pakai reksadana saham karena bisa menerima resikonya dan memang berharap pada pertumbuhan uangnya kwkwkwk.

Jadi bila uang pangkalnya nanti sebesar 67.3 juta, maka dengan reksadana saham yang pertumbuhannya selama setahun mencapai 20% (asumsi ya. Waktu saya nulis postingan ini sih, reksadana saya pertumbuhannya di angka 30%), maka saya harus setor 288.477 alias 290rb/bulan ke reksadana saham.

Udah deeeh. Easy bangeeet kaaan? Lakukan juga hal yang sama pada SMP, SMA, S1, dan S-S lainnya. Rumus ini juga ga cuma saklek untuk biaya pendidikan tapi bisa dipake untuk membeli rumah berapa belas tahun lagi…ganti mobil berapa tahun lagi, dan sebagainya. Multipungsyon gitu looh.

Nah gimana kalo setelah diitung2 pake excel ternyata jumlah uang setorannya terlalu berat bagi kocek kita? Gampil, ubahlah tujuan sekolahnya. Ini yang namanya realita. Sesuaikan keinginan dengan keadaan. Kalo memang ga sanggup menyekolahkan anak di luar negeri, ya jangan maksa toh yoo… Jungkir balik nabung buat masa depan wong memenuhi kebutuhan masa kininya aj udah megap2. Dalam negeri juga banyak yang bagus, dan rejeki dari Allah ga kan tertutup kok. Impian ke luar negeri bisa saja terwujud walo ga dari kocek kita.

Kalo tetap keukueh mereukeuh ga mau ubah tujuan sekolah, pilihan kedua adalah ubahlah instrumen keuangannya. Nih saya kasi perbedaan jumlah setoran antara setor tabungan rencana dan reksadana saham.

Di tabungan rencana (biasanya bank banyak membuka jenis simpanan ini), pertumbuhan uangnya …berapa ya? Wanda, yang jelas ga sampai 10%/tahun. Oke, anggap aj sekitar 5% setahun ya. Maka perbandingan jumlah setoran perbulan adalah…jreng3x.

Silakan menyimpulkan sendiri kekekeke. Ga gitu keliatan bedanya antara 290rb dengan 571rb? Itu karena masih SMP. Coba kalau untuk S1 kedokteran UI yaaa, which is 18 taon lagi.

Pakai reksadana saham

Pakai reksadana saham

Pakai tabungan rencana

Pakai tabungan rencana

Giyahahahaha. Beda banget kaan? Karena waktu adalah sekutumu. Semakin lama penundaan, semakin besar kerugian. Tadi 8 tahun, sekarang 18 tahun. Tadi 22 juta, sekarang 270  jetiiiii.

Mau ambil instrumen keuangan yang pertumbuhannya sangat tinggi, mencapai 70-100%? Sok ambil saham tapi harus siap juga sama resikonya ya. Bisa2 malah terjerembab dan merugi. Semakin tinggi pertumbuhannya, semakin besar juga resikonya.

Oiya hampir lupa. Selalu revisi dan revisi tiap tahun rencana itu. Misalkan saja mulai nabung pas 2012. Berdasarkan rumus, harusnya pas 2013, terkumpul sekian juta. Kalo ternyata kurang, yooo tambahi biar genap angkanya. Namanya juga kan kita hanya prediksi ya. Dengan menggunakan banyak asumsi. Bisa saja kan inflasi pada saat itu lebih tinggi dari yang kita perkirakan. Bisa juga toooh, pertumbuhan uang kita ga setinggi yang kita harapkan. Makanya kudu terus dan terus dicek progressnya tiap tahun.

Eniwei, gw bukan pakar keuangan wakakaka, saya hanya karyawan kantor  biasa yang sedang berbicara tentang keuangan. Jadi kalau ada kesalahan disana sini, yooo maklumi wae. Kalau data reksadana saham saya lumayan memantau, tapi kalau data tabungan rencana mandiri…kekekekek, enggak tuh. Sok atuh kalo salah dibenerin ya. Yang jelas rumus excel teesbe dan reksadana saham selama ini telah sangat membantu keluarga gw untuk masalah keuangan.

Mau excelnya? Boleh banget, silakan email saya di febrie.ekaninggarani@medcoenergi.com.

Cheers,

-febrie-

 

Update terbaru: Anak saya sekarang usianya mau 8 tahun sementara saat contih itu dibuat, usia anak saya adalah 4 tahun. Saat itu (2012) uang pangkal untuk masuk SMP Darbi adalah 22jt, sementara setekah 4 tahun berlalu yaitu tahun ini (2016), uang  pangkalnya naik hanya menjadi 26jt saja. Itu berarti kenaikannya hanya 5% pertahun, bukan 15% seperti dalam contoh. Dan itu berarti untuk menabung bulanan bisa jauh lebih irit lagi. Semoga info ini bermanfaat.

Masih berkaitan dengan posting sebelumnya, tersebutlah pada suatu hari gw dan suami ingin membeli apartemen. Apartemen ini rencananya bukan untuk ditinggali tetapi untuk disewakan. Berdasar info tidak lengkap dari seorang teman, dia hanya perlu mencicil 2.5jt/bulan sementara apartemen itu bisa disewakan seharga 3.2jt/bulan. Maka bersemangatlah kami mencari apartemen sejenis itu.Benda itu kemudian kami temukan. Gw pun akhirnya pergi ke berbagai bank untuk mengajukan KPA. Memang sudah 5 tahun lebih ga ke bank buat tanya ini itu karena ga pernah ada niat melakukan pinjaman, sehingga ga tau berapa tingkat bunga sekarang. Ternyata begitu ketemu sama CS bagian KPR dikatakan bahwa bunga di 2 tahun pertama fixed di angka 8%/tahun, setelah itu akan floating dimana bunga sekarang ada di angka 12.75%.

Besarnya persen bunga masih ga masuk di otak gw saat itu, tapi begitu gw liat angkanya kalau dirupiahkan, iddiiiih…besarnya maknyooo untuk dicicil 5 tahun. Bukan karena ga ada uangnya tapi lebih dikarenakan cicilannya tidak akan tertutup oleh biaya sewa apartemennya. Buruuukkk, ini bukan hutang baik. Ini hutang burruuuk..!!

Si CS malah menjelaskan terus dengan asiknya. Dia bahkan menawarkan KTA dengan proses pencairan selama 3 hari, sertifikat tidak akan ditahan, namun bunganya 14%. Itu sudah bukan hutang buruk lagi, itu sudah keterlaluan jueleknya. Bila diandaikan dengan muka orang, itu adalah tampang nenek sihir.

Mengapa ini dikatakan buruk? Sebut saja lo membayar cicilan sekitar 8.5 juta/bulan dimana properti itu bila disewakan kembali hanya sekitar 3.5jt. Itu artinya, sisa yang 5 juta akan kamu tanggung sendiri, setiap bulan. Itu kan namanya merugi ya bukan menguntung. Oke, katakan bahwa harga sewa apartemen itu akan naik terus sehingga suatu hari nanti bisa menutup cicilanmu, tapi kapankah waktu itu? Gw tidak cukup pandai untuk memprediksinya, apa ada yang bisa tolong ajarkan bagaimana caranya? Yang ada di benak kami hanyalah, sampai saat itu tiba, kami hitungannya merugi dan merugi.

Sebentar, time out dulu. Beda2 memang definisi utang baik dan utang buruk bagi tiap orang. Ada yang bilang utang buruk adalah utang yang ga bisa kita bayar sesuai kemampuan kita. Misalnya utang kartu kredit, saking banyaknya lo cuma bisa bayar jumlah minimumnya aj. Ada yang bilang utang buruk adalah utang konsumtif seperti utang untuk beli mobil, utang untuk dana liburan (terlepas dari fakta bahwa kita sanggup membayarnya atau tidak), pokoknya selama untuk kegiatan konsumtif adalah buruk, tuituiikkk!! Nah kalo gw lebih tinggi lagi cutoffnya. Utang buruk adalah utang yang cicilannya tidak bisa ditutupi dari hasil investasi utang tersebut. Jadi kalo KPR untuk beli rumah buat ditinggali, masih masuk utang buruk. Soal kan buat ditinggali..bukan buat disewakan. Looo tapi kalau ga KPR kapan punya rumahnya donk? Ya gpp, KPR aj. 1 utang buruk lebih baik daripada banyak utang buruk kan, lagian rumah masuk kebutuhan primer ini :D.

Ehm, lanjut lagi ya ke si CS. “Lalu kalau bunganya setinggi itu, apa kelebihan KTA ini Mas?” (*masih positif thinking). Oh segi positifnya adalah sertifikat kan sudah di tangan ibu, jadi itu bisa dijadikan jaminan agar ibu bisa melakukan pinjaman lagi..(*dengan senyum manis). Bagooos… dan hidup gw akhirnya ga akan pernah lepas dari hutang, kalau begitu. Akhirnya dia saya tinggalkan.

Memang suatu kealpaan dari kami, ketika saat apartemen itu dilaunching, kami masih belum melek finansial. Masih sibuk berkutat dengan pengeluaran bulanan, masih ingin settle yang nyaman, masih ingin senang2 sehingga opportunity sebesar itu terlewatkan begitu saja oleh kami. Harga apartemen itu saat dilaunching hanya sekitar 140 jt. Saat pondasi dibangun menjadi 200jt. Kami baru mulai ngeh saat harganya sudah 300jt. Basiiiii kaleeeee.

Wajar saja teman saya bisa mendapatkan hutang baik, karena dia jeli memanfaatkan momen itu. Wajar saja kami ketinggalan, wong kami masih sibuk dengan diri kami sendiri. But again, no regret. Ga bisa sekarang, bisa nanti. Ga papa telat, yang penting belajar. Kesempatan selalu datang berkali2. Sudah bagus rasanya kami disadarkan sekarang daripada nanti2.

Jadi sampai opportunity berikutnya tiba, simpan saja uangnya dalam investasi saya yang biasa. Kalau datang saatnya, baru digunakan. Insya Allah akan lebih siap..

Seminggu yang lalu gw ngobrol dengan seorang teman (sebut namanya Bunga, eh..cowok ding, Bimbim aj) yang berhasil membuat hati ini terinspirasi begitu mendalam. Kami rekan kerja sekantor. Bedanya, saya double gardan, dia single gardan. Obrolan sebenarnya dilakukan di waktu yang tidak tepat, yaitu..jam meeting dengan partner!! Ealaah..akhirnya kami kena tegur deh, secara juga gw begok banget – saking excitednya punggung gw tuh membelakangi layar presentasi boo! Mana ada cerita pegawai baik sopan berintegritas tinggi melakukan hal seperti ituu?

Akhirnya demi kemaslahatan bersama, dan demi nama baiknya si Bimbim juga, obrolan kami lanjutkan pas jam istirahat. Singkat cerita, hal yang membuat gw terperangah adalah sebagai berikut. Berdasarkan statement dari Ligwina Hananto, seorang newbie minimal bisa mengasingkan 10% pendapatannya untuk ditabung. Seorang biasa minimal 20%, dan seorang advanced minimal 35%. Ini juga berlaku untuk si join-income.

Karena dari dulu gw suka yang advanced2, maka gw mengejar angka 35%. Dan kami berhasil mencapainya. Dan gw merasa bangga karena udah advanced. Penghematan yang kami lakukan meliputi berbelanja di pasar tradisional, tidak mengganti mobil begitu cicilannya lunas, menghemat biaya listrik dan telvon, menghemat biaya transportasi dengan menggunakan motor dan shuttle, serta dana hedonisme yang secukupnya aj. Kami juga punya buku anggaran lengkap dengan amplop2 untuk tiap pos pengeluaran agar lebih terkontrol.

Ternyataaa teman saya ini sodara2, dengan statusnya yang single gardan, dia bisa membiayai 2 dapur, mencicil apartemen, mencicil HOAP, mencicil mobil, plus menabung jugaaak!! Gimana gw ga shock. Kebanggaan gw langsung luntur berganti kekaguman pada dirinya. Kok gw ga bisa kayak dia? Kalau gajinya jauh lebih tinggi dari gw sih, dengan mudah gw akan meng-excusekan diri. Tapi ini gajinya ga beda jauuuh..!

Ternyata jawaban utamanya ada pada lifestyle. Walau berhemat di beberapa pos, faktanya gw boros di pos lainnya. Sebut aj: cicilan kartu kredit gw in the name of “bunga 0%” ada 5. Dana rekreasi yang melembung kayak balon. Pakai Pertamax. Asisten rumah tangga 2 orang. Kalau wiken, sekali keluar jalan, wisata kulinernya bisa sampai 4 tempat. Dana tak terduga yang biasanya malah berubah status jadi dana hedon. Dan lain2, dan ini itu.

Udah gitu, walo sama2 berhutang, hutangnya si Bimbim itu hutang baik. Hutangnya gw itu hutang buruk. Artinya, dia memperoleh passive income yang lebih besar daripada jumlah cicilan yang harus dia bayar. Sama aj kayak ga nyicil dong, malah dapat untung. Beda ma gw yang murni memang hanya mencuicuil :D.

Jadi bisa ga hidup dari satu gaji? Harusnya bisaaa. Kalau memang kami serius untuk berinvestasi demi masa depan, maka harus dipaksakan bisa. Gaji naik dari tahun ke tahun, melebihi inflasi. Lifestyle harus tetap, tidak berubah, karena kalau lifestyle naik juga, yo wis, gagal maneh.

Apa yang akan gw lakukan? Gw akan menggunting satu credit card gw. Kami tidak akan mengambil cicilan 0% lagi, karena cicilan 0% hanya akan membuat kami mengulang cicilan lainnya. Rekreasi dipindahkan ke tempat2 yang lebih bersahabat harganya. Perbanyak makan di rumah, toh lebih sehat ini. Dan kalau terpaksa, baru deh ganti Pertamax ke Premium :(.

Gw juga berencana sedikit demi sedikit melunasi hutang buruk ini. Menambah nilai passive income kami sehingga lebih besar dari cicilan yang harus dibayar. Dan semoga bisnis Herbalifeku semakin sukses aj, so bisa dapat pemasukan dari pos lain lagi, amiiin.

Bulan depan kita mu-la-i. MU-LA-I. Berhasil atau tidak berhasil, ga bakalan tau kalau ga dicoba dulu. Cia yo, semangat, FIGHTTTT!!!!