Archive for the ‘Cerita Bisnisku’ Category

5 November 2015, saya pernah posting ini. Jadi apakah saya termehek-mehek tanpa Oriflame? Jawabnya adalah IYAAAAAA T-T. Huwaaaaaa.

Ternyata benar dugaan saya. Saya udah kadung suka dengan pekerjaan ini. Sampai hampir setahun berlalu, masih juga sering masuk ke dalam mimpi, hikkss. Suka, kangen, pengen melakukan lagi dengan lebih baik, dengan “a new me” tapi….ragu. Apa sebaiknya kembali ke jaringan yang lama atau mulai dengan jaringan yang baru? Kalau kembali ke jaringan yang lama, akankah saya akan mendapatkan ilmu lebih dari yang kemarin? Kalau gabung ke jaringan baru, saya akan memilih siapa?

Dulu saya begitu terobsesi dengan Maki (grup dBCN), sang inspirator. Progressnya sangat cepat. 2.5 tahun lalu (2014) saat saya gabung Oriflame, dia sudah 2 tahun disana (dia gabung 2011). Gajinya sudah 30 jutaan. Setahun gabung (tepatnya 2015), saya di 8.5jt, dia di 80 juta. Sekarang…saya off, dia sudah lebih dari 100jt. Heran itu orang kok ga ada stop2nya. Lariii terus kerjanya. Keknya memang beneran cinta banget dia sama Oriflame :D. Tinggalnya sama2 di Depok pula.

Seiring waktu, muncul nama Dian Endryana (grup dBCN). Levelnya lebih tinggi dari Maki karena gabung Oriflamenya juga lebih dulu dan sama2 pekerja keras. Saya kagum dengan status2nya yang rendah hati. Hampir tidak pernah pamer dan terlihat lebih fokus ke agama. Jadi pengeeen, soalnya saya juga takut ketagihan ngerjain Oriflame sampai mikirnya duniaaa terus seperti kemarin. Kalau gabungnya di jaringan Dian, mungkin saya jadi menguasai lebih banyak “Ilmu Langit”. Tapi Dian kakinya katanya udah 21 huhuhu, sementara Presiden (level tertinggi saat ini di Oriflame) adalah 24 kaki. Lah..cuma tinggal 3 kaki lagi, apa saya bisa melamar menjadi firstlinenya saat akhir tahun nanti? Bisa jadi sudah 24 dan saya akan menjadi spill over deh. Hiks, ga mauu. Pengalaman banget dulu dispill kejauhan, akhirnya mau berguru ke upline incaran, eh malah dicuekin.

Lalu sempat tertarik dengan komunitas M3 Network. Belakangan ini progress grup ini pesat sekali. Sebentar saja, kaki2 mereka naik level menjadi Diamond. Sudah begitu, untuk sekelas Director, gaji yang mereka dapatkan lebih tinggi daripada Director di dBCN (walau sama2 Director tapi gaji bisa berbeda2 tergantung berapa jumlah kaki yang kita miliki). Status2 di fbnya lebih menyoroti perubahan kualitas hidup namun bukan dalam artian “menyombong”. Jarang sekali menemukan status yang “judging”. Udah gitu mereka sering mengadakan OOM yang dinamakan Mointips. Sepertinya seruuu banget. Cumaaa…leader yang saya incar yaitu Niek Sugiarti/Surya Nanta atau Enna/Danang atau Cindy Silmina tinggalnya di Bali sampai Surabaya. Jauhnya..kalau pengen ketemu offline saya harus cuti berarti.

Lalu ada Ilnayuti Sari dari grup Simple Biznet. Orangnya tegas, keras, to the point. Kalau mau jadi downlinenya harus tahan banting dan ikuti peraturannya. Yang gaptek, yang ga pede, yang dikit2 ngeluh, dll dan ga mau berubah, udah pasti “dikeluarkan” dari lingkungan kerjanya. Statusnya selalu menohok. Tapi saya malah suka sama yang seperti ini soalnya pada dasarnya saya demen bekerja dalam kondisi under pressure. Tinggalnya dekat banget sama saya, cuma 5 menit naik motor. Waaah bisa nyambangin rumahnya kapanpun niih :D. Duplikasinya bisa lihat langsung pake mata. Sayangnya kakinya sudah penuh 24. Jika mendaftarpun, saya akan menjadi spill over.

………………………………………………….

Halah Feb, maumu itu terlalu banyak. Demanding. Pengen gabung sama leader yang begini begitu tapi ujung2nya pake kata “tapi sayangnya”, yang seakan2 semua harus sesuai keinginanmu. Belum tentu juga waktu kamu daftar ke mereka kamu akan diterima. Memang kamu siapa, Feb? Dan memang kamu yakin begitu gabung kembali bakal melesat seperti kemarin? :p

*cekluk.

Iya juga yaa….hm. Jadi pilih siapa ya? Hmm.

 

 

Advertisements

Kalau mengenang Oriflame mah gada habis2nya hehehe, Rasanya setiap kejadiannya berkesan. Sekarang mau bahas tentang Would I Follow Me? Maukah aku mengikuti “Aku”?

Di Oriflame, setiap orang dididik untuk menjadi leader dan mengembangkan jaringan. Ketika jaringan stuck atau turun, maka kami akan diminta untuk mengevaluasi diri. Tanyakan ke diri sendiri. “Would I Follow Me?” Sebelum salahkan downline, cek diri sendiri dulu. Sudah benar, belum? Sudah merekrut belum? Sudah tupo belum? Sudah membina dengan benar belum? Sudah benar2 ikhlas membantu downline untuk naik level belum? Atau malah malas2an, bisanya hanya nyuruh, koar2 minta tupo? Bayangkan andaikan kita jadi downline, memang mau punya upline malas yang jago merintah2 doang?

Nah dulu setiap sesi evaluasi diri, saya selalu berkata “Yes, I would follow Me.” Karena saya merasa, apa yang saya kerjakan sudah benar. Tupo selalu awal bulan, Rekrut 5-17 orang/bulan. Bina jalan terus. Belajar rajin. Apa yang kurang? Gak ada. Memang belum ketemu sama coreteam yang tepat aja, makanya stuck. Tapi seiring waktu, terus berpikir. “Mana ini coreteam yang tepat kok ga datang2? Aku harus merekrut berapa puluh orang lagi agar bisa menemukan seseorang yang mirip aku?”

Sekarang, setelah berhenti selama 6 bulan, melihat Oriflame dari dunia luar sebagai penonton bukan sebagai pemain, saya baru menyadari suatu hal. Bahwa andai join kembali, saya TIDAK AKAN MAU memilih orang dengan sifat seperti saya sebagai upline :(. Saya baru menyadari ternyata saya punya banyak kekurangan, parahnya bahkan saya membenci beberapa sifat saya yang dulu tidak saya sadari.

Ternyata saya orangnya nyinyir. Status2 saya pedas, tajam, melukai hati. Sok, belagu, merasa benar, orang lainlah yang salah. Walaupun tidak merujuk secara personal, walaupun yang saya bicarakan adalah downline secara keseluruhan, tapi tetap saja tersirat bahwa disana saya sedang nyinyir. Saya jauh dari kerendahhatian dan kesederhanaan.

Ternyata saya orangnya sok pandai. Merasa sudah bisa ini itu karena start belajar lebih dulu. Merasa cepat mengerti karena seorang lulusan S2, bukan SMA. Merasa di “atas” karena aslinya saya seorang karyawan dengan gaji amat cukup. Oriflamers lain walau titelnya sama dengan saya yaitu Director, bisa jadi tidak sepandai saya, tidak secepat saya dalam menganalisis.

Ternyata saya tidak seikhlas yang saya kira. Saya pikir saya 100% ingin downline saya sukses dan naik gaji. Kenyataannya adalah saya lebih peduli pada gaji saya sendiri. Saya tidak begitu perhatian dengan impian mereka. Saya hanya berpikir bahwa tugas saya mengajarkan, kamu bisa atau tidak itu adalah urusanmu. Kalau cepat, ikut saya. Kalau lambat, saya tinggalkan.

Ternyata saya memandang downline hanya sebagai partner bisnis. Setiap ada pertemuan, setiap ada chat dan telvon, hanya bisnis yang dibicarakan. Ketika mereka sakit, anak sakit, terkena musibah, terkena masalah, saya sulit berempati. Hanya mengerti seadanya dan cenderung menganggap itu sebagai excuse mereka untuk tidak giat bekerja saat itu.

Dan ternyata saya melupakan teman2 fisik saya. Saking euforianya dengan Oriflame, saya sampai lupa bahwa sayapun punya teman2 fisik. Saya terlalu sibuk melihat HP. Berjalanpun saya tidak memandang ke depan lagi, tapi ke HP. Setiap saat saya mengetik keyboard HP. Kepala saya selalu menunduk dan tidak peduli lagi dengan keberadaan teman2 di sekitar saya.

Saya tunda sholat karena ingin membina. Saya jamak sholat karena tuponas. Saya bersedekah dengan pamrih mengharap hasil.

Saya ada di sebelah anak saya. Fisiknya ada tapi pikiran saya tidak disana. Setiap anak saya bertanya saya hanya mengomentari “Iya ya? Hebat yaa? Wah, kamu pintar. Oke. Boleh.” Sungguh sangat tidak asyik untuk diajak berdiskusi.

Saya merasa malu sekali T-T. Saya senang mengerjakan Oriflame tapi ternyata saya belum tahu bagaimana mengerjakannya dengan benar. Saya belum tahu bagaimana mengerjakannya dengan hati. Saya tidak mengembangkan bisnis ini sebagai bisnis Berkah Berlimpah Manfaat. Saya hanya fokus dengan hasil tapi belum menghargai proses, Allah, dan keluarga. Siapa yang sudi menjadi downline seorang SAYA? Dih, sayapun ogah.

Would I Follow Me…? .

Sekarang saya terus berbenah. Berusaha memperbaiki diri sembari menunggu saatnya tiba. Tetapkan bahwa tujuan bisnis ini adalah untuk menebarkan manfaat. Untuk membantu orang mencapai impian. Ini demi kamu. Demi kalian. Demi mereka. Memberi-memberi. Sehingga dengan demikian, Allah dan keluarga tidak akan pernah terlupakan lagi.

 

 

Akhirnya aku tinggalkan Oriflame setelah 2.5 tahun kutekuni. Pemicunya ada banyak hal.

Mungkin karena satu hal yang tidak bisa dipublish di blog ini :D. Atau…mungkin aku lelah? Level mandeg selama 1.5 tahun, walaupun mandegnya masih di Director (qual Gold Director ke-3) yang gajinya alhamdulillah 5 jutaan ke atas. Mungkin juga aku pengen hura2? Udah lama malam hariku diisi dengan chat bersama downline2. Aku juga rindu jalan2 lepas bersama Alif dan suami, tanpa perlu sekalipun melihat HP. Atau mungkin memang aku pengen kabur aja? Kabur dari jaringanku yang sekarang, mau pindah ke jaringan lain yang terlihat lebih solid sistemnya. Berencana untuk gabung lagi setahun ke depan dan setahun off ini akan digunakan untuk full belajar dan mengamati. Atau….mungkin sifatku yang cepat bosan? Dulu juga Herbalife 2 tahun. Ini Oriflame 2.5 tahun. Entahlah…suami dan ortu sudah tanya baik2 apa aku yakin dengan keputusan ini? Dan herannya aku menjawab mantap, YAKIN!

Ada yang bilang aku keluar karena downline2ku pada keluar. Wah kalau ini tidak benar. Sudah terlalu banyak downlineku yang pergi selama 2.5 tahun ini dan digantikan oleh orang2 baru, sehingga hal-hal seperti itu sudah tidak berefek lagi pada diriku. Tapi yang patut dicatat, aku tinggalkan bukan karena aku benci dengan Oriflamenya. Bukan juga karena aku benci upline dan downlineku.

Dibandingkan MLM ku sebelumnya yaitu Herbalife, walaupun keduanya sama2 resign, tapi aku menyatakan dengan jelas bahwa Oriflame membawaku menjadi jauh jauh lebih baik. Aku diajarkan untuk sabar, ngemong, tidak mudah panik, inisiatif, bersocial media dengan benar, rajin membaca sebelum asal jawab, punya banyak teman online, mengerti iklan FB, sadar bahwa dunia penuh dengan orang2 yang berbeda sifat dan kelas ekonomi, selalu bersyukur, motivasi, impian, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin kusebutkan satu2. Kalau ditanya jeleknya… :D. Enggak ada. Cuma mau bilang kalau kerjaannya ternyata CAPEK.

Iya, CAPEK. Jangan disangka ngerjain Oriflame itu ga capek. Mungkin karena saya juga karyawan yang bekerja 7-16. Tapi udah kudu berangkat dari rumah jam 5 pagi dan sampai rumah jam 6 sore. Rasanya semakin gede gajinya, semakin besar jaringannya, semakin cape kerjanya, semakin besar investasi waktunya. Semakin tinggi levelnya maka semakin dituntut leadershipnya untuk lebih berkembang. Semakin dituntut untuk bisa berinovasi dan berinisiatif mengembangkan sumber daya di bawahnya. Baru kusadari, berhubungan dengan benda mati tidak pernah secapek berhubungan dengan banyak benda hidup yang tiap-tiapnya punya berbagai keinginan dan perasaan. Tapi fun kok ^^, aku menyukainya. Karena rewardnya pun sepadan, dan tidak ada jilat-menjilat (sistemnya tidak memungkinkan kita untuk korupsi dan KKN soalnya).

Gaji terakhirku kemarin 7.5 juta :D. Bagiku, itu banyak. Begitu Oriflamenya kutinggal sebulan, langsung turun jadi 4.2 jt. Dan semakin lama ditinggalkan maka kemungkinan besar akan terus turun.

gaji oriflame

Jadi…aku berencana mau istirahat setahun dulu. Mau melihat, apakah aku akan termehek2 tanpa Oriflame atau life still goes on? Apakah aku akan kembali lagi karena ga bisa move on atau malah mencoba hal baru lagi? Downline2 yang kubina, ada yang rela mengikutiku, istirahat setahun juga. Namun setahun itu lama. Apa saja bisa terjadi. Mereka yang berjanji untuk terus bersamakupun bisa juga pergi. Mari kita lihat seperti apa takdir akan mengarahkanku.

So…sampai jumpa Oriflame. I have ever loved you. Semoga upline dan downline yang kutinggalkan terus sukses disini, aamiiin.

Masih ingat postingan ini, tentang halal tidaknya Oriflame menurut saya? Coba lihat kalimat terakhirnya yang bagian penutup. Atau saya copy pastekan di sini deh.

“Sayapun selalu berdoa kepada Allah. Agar kalau memang MLM ini haram mohon ditunjukkan tanda sejelas2nya, dalam mimpi juga tak mengapa. Bila itu terjadi, saya akan keluar dari bisnis ini.”

Maka, tersebutlah pada suatu hari, setelah 2 tahun Oriflamean saya akhirnya meragukan kehalalannya. Apa pasal? Karena saya merasa menerima gaji 5-7jt/bulan dengan bermodalkan ketak ketik HP itu rasanya kok ga seperti kerjaan beneran. Benarkah ini pekerjaan yang diakui? Kok rasanya terlalu mudah?

Telat memang ya, udah 2 tahun nyemplung baru galau. Saya suka dengan gajinya tapi KALAU DENGAN GAJI INI SAYA JADI MASUK NERAKA, naudzubillah yaa. Saya kan juga ingin menjadi muslim yang taat dan masuk surga. Saya kan sudah mulai nih menjauhi riba sebisa saya.

Singkat cerita, saya galau. Saya mulai googling2 semua situs di internet. Masukkan keyword “MLM haram”, beuuh keluar banyak banget sumber referensi. Semakin dibaca kepala saya semakin pusing. Tidak ada yang bilang MLM itu halal, kecuali blognya para Oriflamers sendiri! Yah, kalau yang posting bukan situs resmi melainkan hanya pendapat dan opini seseorang, janganlah dijadikan landasan.

Lalu saya tanyakan ke bunda Dency Loiciana. Beliau bilang Oriflame itu Halal, bahkan menunjukkan foto Halal Assurance Oriflame. Tapi setahu saya sertifikat Halal Assurance adalah prosedur standar suatu perusahan untuk mendapatkan label Halal di produk2 miliknya. Jadi itu adalah prosedur, bukan HALAL itu sendiri. Dan itu untuk produk, bukan untuk sistem marketing. Oriflamers tentu saja bilang Oriflame halal, karena ada konflik kepentingan, ya ga siii? Jadi kalau saya tanya ke mereka yaaaa sudah pastilah pada jawab HALAL.

Saya akhirnya bilang ke bunda Dency. Saya akan tanyakan ke ustadz. Kalau ustadz bilang HARAM maka saya akan berhenti. Bunda bilang, “Ya Mba, tanyakanlah. Nanti kalau sudah ada jawabannya, infokan ke aku yaa :)”.

Masalahnya sekarang, mau tanya ke ustadzah mana? :D. Pergi pengajian aja jarang bok hehehe. Akhirnya saya bertanya ke Mbak Mia, senior cewek yang saya tahu bijaksana. Kemana nih kira2 saya bisa bertanya tentang ini? Mbak Mia mengajukan 2 nama ustadzah yang sering mengisi pengajian di Medco. Namanya Ustadzah H*alimah Alaydr*s dan Ustadzah A*ini (sengaja mau nanya ke 2 ustadzah biar saling mengkonfirmasi).

Pertama saya tanya ke Ustadzah H*alimah. Mungkin ustadzah sedang sibuk atau apa, atau mungkin pertanyan saya kebanyakan :p, jadi beliau jawabnya pendek2 padahal saya sedang kepo berat. Tapi sepintas sih intinya bilang “Oriflame itu Halal.”

Pertanyaannya panjang banget, soal sudah disiapkan malam sebelumnya. Maklum, benar2 butuh info. Jangan sampai ada yang kelupaan ditanya :D.

Pertanyaannya panjang banget, soal sudah disiapkan malam sebelumnya. Maklum, benar2 butuh info. Jangan sampai ada yang kelupaan ditanya :D.

Cuma saya ga puas dapat jawaban gitu doang, jadi saya tanyakan pertanyaan yang sama ke Ustadzah Aini. Jawaban Ustz Aini lebih meneduhkan bahkan beliau berkenan menyediakan waktu untuk mendiskusikan hal tersebut dengan saya. Tentu saja saya mau, kapan lagii bisa nanya puas2?

aini

Pas hari H-nya, saya temui Ustadzah Aini sebelum pengajian (*takut nanti kalau habis pengajian malah ga ada waktunya). Saya beringsut2 ke depan beliau, perkenalan dan langsung to the point aja mengingatkan beliau tentang saya yang ingin bertanya mengenai MLM terutama Oriflame. Begini kira2 diskusinya.

A: Mba…memang MLMnya apa? Oriflame? Grupnya dBC N*twork bukan?

F: Iya Oriflame ustadzah. Loh kok ustadzah tau dBC N*twork?

A: Iya…banyak teman2 saya yang ikutan dan sering diskusi dengan saya juga Mba.

F: Oooo….

A: Jadi mba mengenai halal tidaknya MLM akan saya jelaskan yaa. Nanti Mba yang cocokkan dengan MLM Mba itu sendiri, dan putuskan apakah ia halal atau haram. Saya jawab pertanyaan yang kemarin yaa.

  1. Kalau dari pendaftarannya yang hanya segitu, bisnisnya tidak haram ya Mbak. Yang haram adalah ketika untuk mendaftar saja kita sudah diwajibkan membeli barangnya. Misalnya nih..Untuk pendaftaran kamu harus bayar sekian2, dan bersama pendaftaran itu kamu akan mendapatkan produk ABC –> nah itu haram Mba, karena kita dipaksa untuk membeli. Iya kalau barang itu laku kita jual, atau kita pakai dengan ikhlas. Kalau tidak kan akhirnya uang terbuang sia2 dan jatuhnya ke mubazir. Selain itu haram juga karena transaksi tadi langsung 2 akad. Alias uang pendaftaran digunakan untuk mendaftar juga langsung untuk membeli produknya (*tetiba jadi ingat MLM saya yang lama).
  2. Kalau dari poin kedua juga tidak haram. Sepanjang yang di bawah gajinya bisa melebihi yang di atas, maka jatuhnya halal. Sebenarnya intinya itu adalah bisnis itu tidak boleh zulm. Zulm itu artinya zolim (jahat terhadap orang lain).
  3. Untuk barang, kalau kita ini penjual sebenarnya kita bebas mba mau jual berapapun. Misal nih yaa..saya punya radio. Mau saya jual 100rb atau 1 milyar itu sebenarnya terserah saya. Masalahnya, ada yang mau beli gaa? Selama tidak ada pemaksaan bahwa itu harus dibeli lewat kita maka jatuhnya halal.

Wah kalau dari penjelasan ustadzah yang hanya 3 poin itu saja, maka Oriflame saya termasuk halal pastinya. Tapi saya belum puas jadi saya tanya lagi.

F: Bagaimana kalau misalnya saya bekerja mati2an sekarang. Lalu gaji saya naik dengan cepat. Lalu saya akhirnya ga kerja sama sekali tapi tetap menerima gaji. Maka itu halal atau haram? Saya mikirnya itu halal karena saya analogikan dengan saya yang punya usaha, lalu saya franchisekan, lalu saya ga kerja lagi tinggal menerima uang dari franchise. Benar ga Ustz?

A: Mbak, franchise gak bisa disamakan dengan MLM ya. Beda. Kalau misalnya si pemilik franchise memilih tidak kerja dan hanya menerima uang dari hasil franchisenya maka itu Halal saja karena usaha itu miliknya. Ia yang punya modal, ia yang dulu menjalankannya. Tapi kalau MLM kan engga. MLM itu yang punya barang kan perusahaan, nah mbanya adalah konsultan yang bertugas menjualkan. Jadi kalau Mba kerja mati2an, dapat gaji banyak, lalu habis itu stop tinggal kipas2 terima gaji maka jatuhnya Haram.

F: Baik Ustz. Di MLM saya pekerjaan itu ada 3 yaitu tupo dan rekrut dan bina. Tupo ini kalau misalnya saya tidak berjualan alias hanya membeli maka tidak terhitung bekerja saya rasa. Tapi yang namanya BINA itu harus terus kami lakukan, kalau tidak pasti lama2 kondisi jaringan akan turun. Masalahnya apakah membina ini dapat dihitung sebagai pekerjaan sehingga gaji MLM saya menjadi halal?

A: Membina itu maksudnya apa dulu Mba?

F: Membina itu artinya mengajar Mbak. Memotivasi. Mengisi training. Membuat buku. dll.

A: Kalau begitu HALAL karena memotivasi sekalipun adalah sebuah pekerjaan.

Dan….seketika itu juga dada saya menjadi lapang 😀 :D. Ternyata Oriflame beneran halal nih, alhamdulillaaah. Ternyata memang orang selama ini banyak yang salah yaa, mereka menganggap MLM sama dengan Money Game (mendapat komisi dengan merekrut). Diskusi saya dengan ustadzah hanya membahas tentang MLM saya, dan tidak berniat untuk mencari tahu MLM yang lain. Cukuplah bagi saya mengetahui bahwa bisnis yang saya tekuni ini halal.

Nah sekarang, bagaimana caranya yaa meyakinkan orang yang bisik2 di belakang bahwa saya menjalankan bisnis haram? Jawabannya adalah: andai saja mereka mau mencari kebenaran dengan bertanya pada ustadz masing2 ketimbang menghakimi hanya berdasarkan opini. Tapi mereka mau bertanyapun ke ustadz ya susah juga wong mereka gatahu sistem di Oriflame seperti apa. Bisanya kan hanya mengira2 ya. Maka jadinya ya sudahlah :D, cuekin saja. Cukup Allah yang tahu.

*sebenarnya masih panjang lagi penjelasannya, namun saya hanya ingat poin2nya. Menjadi pelajaran bahwa kalau ada hal2 penting seperti ini sebaiknya memang direkam.

Masih ingat sama postingan yang tentang dapur ini?

Nah begitu dapurnya beres, saya kembali galau mikir sebaiknya gajinya digunakan untuk apa, yang berguna dan jauh dari foya2. Niat banget untuk ditabung tapi gimana gitu rasanya kalo liat gaji nganggur2, kayak memanggil2 seakan2 bilang, “Gunakan akuuu..tolong gunakan akuuu..”. Sebenarnya untuk rumah sendiri masih banyak PRnya, tapi PRnya saya rasa memang gak akan ada habis2nya bukan ya. Jadi sudahlah, belajar merasa cukup dulu untuk rumah.

Sampai pada suatu hari tiba2 teringat. Ayah kan dari dulu ogah banget ganti mobil ke matic. Katanya mobil matic ga aman, gegara shock ngeliat mobil matic terjun dari parkiran gedung karena salah injak rem ke gas. Masalahnya, istri ga mau belajar nyetir kalau bukan mobil matic. Dulu udah pernah belajar mobil manual (yang sekarang dipakai), tapi kok ga pandai2??? Kata teman2, belajar nyetir mobil matic itu enak banget, insha Allah akan langsung bisa.

Nah saya kan pengen bisa nyetir :D, biar kalau ada apa2 ga maksa2 suami anterin lagi. Avanza kami ini umurnya sudah 7 tahun. Sebenarnya gak ada yang salah sama mobil ini, bagus2 aja kok, sukak2 aja, ga merasa ketinggalan zaman, jasanya juga udah banyak nganterin sana sini, selalu nebeng muncul di setiap foto jalan2. Dipakenya cuma kalo liburan dan wiken. Kurangnya cuma satu. Avanza kami itu manual. Maka saya niatkan dalam hati, kira2 ayah setuju ga yaaa kalau ganti mobil ke yang matic? Semacam avanza matic begitu?

Ternyata, setelah diobrolkan ayah setuju2 aja. Cuma jangan avanza karena tidak ada airbag, juga kursi belakangnya kurang lebar. Tau sendiri yaa kami kalau liburan suka bawa pasukan jadi kursi belakang pasti terisi penuh oleh manusia. Setelah cari brosur sana sini, disimpulkan bahwa mobil keluarga yang sudah ada air bag dan bisa ditanggung sama kocek Oriflame saya itu adalah Innova. Horeee, senang banget, soalnya matic hahhaha. Cicilannya dibayar oleh gaji Oriflame. Ga boleh ditambah2 dengan gaji kantor pertama, pokoke ini diupayakan 100% endorsed oleh gaji Oriflame juga.

Warnanya pilih putih, biar vintage (*teuteup). Begitu mobilnya datang, yang senang malah ayah :D. Diiiih si ayaaah, kemarin2 katanya benci mobil matic, lah ini senangnya bukan main wkwkwk. Malah istri yang pas mobil datang langsung berasa apalah2 soal tiap bulan kudu bayar cicilan bahahaha. Ternyata begini yaa perasaan gaji pas2an namun punya kewajiban bayar cicilan. Jadi mengerti perasaan downline2ku yang berani mencicil walau gaji pas2an. Perasaannya seperti dikejar harimau gitu, mau gak mau harus lari cepat biar ga dimakan T-T. Beneran harus kerja niiih, ga boleh malas agar cicilannya bisa terbayar. Tapi pas lirik2 ayah, ayah ngerti dan bilang, “Tenang sajaaaa, andai performance kerja istri menurun dan ga cukup buat bayar cicilan, ayah akan bantuuu.” —> wah langsung tenang dan langsung mikir, makasih ya Ayah. Tapi akan kuusahakan agar sama sekali gak dibantu :*.

Maka nangkringlah sudah si putih di rumah kami. Carportnya hampir ga cukup niiih hahahaa maklum rumahnya keciiiiil. Semoga mobil baru ini mendatangkan lebih banyak manfaat dan kebahagiaan di keluarga kecil kami. Aamiiiin.

Yang mengejutkan adalah, kemarin saya iseng buka2 file di folder ga jelas. Ternyata saya pernah loh membuat affirmasi 2015. Punya mobil matic, Innova putih juga, lengkap gambarnya segala udah saya crop. Bedanya di gambar itu tipe V sementara punya saya tipe di bawahnya hahaha. Tapi gpp, saya tetap senang dan semakin merasa bahwa penghasilan tambahan itu benar2 membantu ya untuk mewujudkan impian2 kecil dan besar. Alhamdulillah :).

Ini dia filenya :D :D

Ini dia filenya 😀 😀

*Dan apakah saya sudah belajar nyetir? Belum tuuuh, mungkin habis Lebaran biar afdol (*alasaan).

Alhamdulillah tahun 2014 naik level lagi jadi Director jadi dapat jatah lagi deeeh ke SemDir. Nah kali ini Semdirnya diadakan di Bandung. Di Trans Studio Expo yang megah itu wkkwkwk. Hadeh, agak malas ceritanya soal nanti disangka lebay tapi ya memang bagus mau gimana lagi :p. Hotelnya? Hotelnya macam2. Ada 5 hotel yang dibooking yaitu Papandayan, Panghegar, Hyatt dan Trans Luxurynya sendiri. Semua hotel bintang 5 kecuali Trans Luxury katanya udah jadi bintang 6 yaa? Gak tau dek wkwkwk yg jelas bagus2 hotelnya. Saya kebagian menginap 2 malam di Hyatt dan 1 malam di Papandayan. Bagussss2 tapi mau dinikmati kayak apa si hahaha secara sampai hotel selalu jam 10 malam. Datang2 langsung blek. Besok paginya mandi bangun sarapan jam 7 kurang terus ciao deeeh. Jadi benar2 cuma numpang tidur doang.

Eniweeeeiiii, saya lebih senang karena ketemuan lagii sama upline n downline tercintaaa. Ini yah kalo udah ketemuan rasanya lupak semuanya. Cekakak cekikik aja sampe rasanya pengen deh kami keluar jalan2 berlima menikmati Bandung tapiii tapiii semua acara yang disediakan Oriflame sebegitu menariknya sehingga kok rasanya rugi juga kalau ga ikuuut T-T. Jadinya kemana2 kami bareng2 deh. Susah diceritakan pokoknya asik banget :D.

semdir

Apalagi yaaa. Oh iyaaa di malam penyambutan harusnya kaan yang manggung itu adalah Noah (*ikh bete deh kalo ingat pentolannya), namun tiba2 saja dibatalkan karena Ariel sakit apaa gitu. Jadinya diganti sama GIGI deh. Nahloooh saya jauh lebih suka yang GIGI lah yaaa. Lebih macho dan setia (*teuteup). Cuma sebelnya, pentasnya itu ternyata di Transstudio.Lah pegimana iniii. Kami dikasih tiket gratis main wahana disana, plus diminta ngumpulin stamp agar dapat hadiah2 gratis,tapi juga ada pentas GIGI di depan mata. Kan bingung yaaa mau pilih yang mana *_*. Mbok ya Oriflame itu jangan terlalu kebanyakan acara gitu loh, kan saya berasa rugi ga bisa menikmati semua. Akhirnya kami lari sana lari sini deh biar bisa dapat semu acara. Sungguh lelah namun bahagia banget wkwkwkw.

welcome party

Lalu apa lagi yaa. Oh iyaaa. Saat malam rekognisi (Gala Dinner) kali ini saya boleh ajak pasangan. Dan karena misua tidak bisa datang maka mamalah yang menggantikan. Enak nih sekamar sama mama di Papandayan. Kamarnya gede banget *_*. Nah acaranya kan malam yaa jadi kita pastinya harus makeup dulu. Tak disangka karena begitu padatnya acara dan ganti2 hotel itu, kami jadi tak sempat dandan ke makeup artist yang sudah dibooking. Jadilah kami mencari salon dadakan. Lumayan nih udah dandan mirip artist tapi menuju ke acaranya kan gak ada mobil yaa. Taksi juga ditunggu di depan salon gada yang lewaaat huhuhuhu. Pengen nangis, mana ini Gala Dinner pertama lagi. Akhirnya kami berencana naik angkot hiks hiks. Eeeh alhamdulillah selangkah lagi masuk ke angkot lewatlah taksi. Fiiuuuh selamattt selamaat 😀 :D.

Inilah rekognisi saya pertama di panggung. Subhanallah ternyata direkognisi itu enak banget yaa. Selama ini diundang rekognisi di kantor cabang selalu emoh. Selain karena bentrok dengan jam kerja, juga mikir…ngapain si rekognisi? apa itu rekognisi? Nah pas Gala Dinner itu, walo kata rekognisinya segambreng dengan Director lainnya, tapi naik ke panggungnya aja udah dipegangin tangannya oleh Oriflame. Lalu difoto banyak dan terakhir disemprot apaan tuh namanya…kertas kilau2 dari langit2 itu looh sama asap dari belakang. Huwaaaah wkwkwkwkk seru banget. Mana ngerasainnya saat itu sambil gandengan tangan dengan Erawati,downline saya :).Benar2 tak terlupakan. Ingat banget waktu itu kami gemetaran, remas2an tangan sambil bisik2, “Aku mau nangis rasanya Mbak. Mbak aku mau nangis.” “Iya Ra, aku juga pengen nangis..” —- yah cengeng, pasti gitu tanggapan orang2 yang ga ngerti seperti apa perasaan kami. Tapi yaaa gpp, soal memang harus ngalamin dulu baru ngerti.

gala dinner

Di Semdir ini juga diumumkan bahwa akan ada program 90 DGP yaitu menjadi SM dalam 90 hari dan SGD dalam 90 hari. Lalu jalan2 gratis 2016 itu tujuannya ke Copenhagen & Norway. Lalu…hadiah untuk new achieve Executive Director baru selama 3 tahun ke depan boleh piliih. Mau Mercy atau rumah. Kalau saya mah pilih rumahlaaah, walau gatau kapan executivenya hahahaha. Lalu apa lagi yaaa. Oh iyaa President akan mendapatkan Cash Award 7 Milyar :D.

Thanks a bunch untuk acaranya yaa Oriflame. Kamu memang full or surprise. Kamu memang beda dari MLM lainnya. Just wonder why I didnt know you before my 30 :). Moga2 Semdir 2016 bisa dapat jatah lagi buat liburan refreshing aaamiiin.

Udah berapa lama yaa saya mengidamkan dapur dengan top table granit dan kitchen set model vintage? Lama bangettt, bertahun2 sudah. Kenapa ga dibuat2? Nganu…sayang duitnya :D. Lebih senang difokuskan untuk investasi saja demi pendidikan anak yaaa.

Namun sejak nyemplung ke Oriflame sebagai kantor kedua, alhamdulillah jadi punya penghasilan tambahan. Alhamdulillah juga lumayan dapatnya, 5-9jt/bulan tergantung performance. Pengennya sih 10 juta ke atas seperti teman2 saya lainnya, tapi yah tau diri aja. Ngerjainnya juga kudu bagi waktu dengan kantor pertama, gpp lambat asal ditekuni insya Allah akan nyampe juga ke gaji impian yaaaa.

Nah dari gaji Oriflame inilah..penghasilan bertambah. Saya senang penghasilan masuk, tapi saya selalu bingung uang tersebut sebaiknya diapakan. Tentu saja urusan zakat, sedekah dan hadiah2 sudah dituntaskan tapi diluar itu galau meraja. Bingung mau dikemanakan secara banyak banget opsinya hahaha. Rumah kosong melompong beginiii ampe gatau lagi mau mulai dari mana isinyaaaa. Lalu..lalu…saking kelamaan bengong akhirnya malah lupa. Ayah juga pas ditanya, “Yah, mau diapakan nih.” Diapakan ya? Udahlah tabung aja dulu nanti baru dipikirkan. Gitu, katanya.

Tiba2 teringatlah saya dengan impian dapur idaman. Waaah senangnya, kayaknya klop, cocok nih untuk dapur. Iyaaa iyaaa, pas banget nih, kapan lagi bisa perbaiki dapur? Dulu tahun 2009, sudah pernah renovasi dapur. Ada di postingan ini. Tapi waktu itu buatnya ke tukang biasa, jadi 4 tahun saja sudah mulai rusak :(. Ini foto kondisi dapur tersebut setelah 4 tahun berselang. Menyedihkan, menurut saya.

 

Dapur Before

Menjadi pelajaran bersama bahwa buat dapur itu memang sebaiknya ke tukang spesialis dapur, bukan tukang biasa. Maklum dulu modalnya memang terbatas juga si :D. Sebentar saja handle lacinya copot. Berikutnya, pintu lacinya yang copot. Lalu sinknya bocor. Krannya miring. Tidak ada kabinet, jadi meja dapur penuh dengan barang2. Asli, parah banget tukang yang dulu ngerjain itu.

Nah terus, saking excitednya dengan rencana ini, langsung deh saya hubungi Mas Tian, desain interior langganan (*padahal malas cari yang baru :p) untuk minta dibuatkan dapur yang kriterianya blabliblu. Mas Tian yang Jawani dan pendiamni bertemu dengan gadis (*ceileh, gadis) Sumatra yang cerewet kritis lagi banyak maunya wkwkwk. Hanya untuk sebuah dapur dengan luasan tak seberapa itu butuh waktu 4 bulan cobaaaa untuk desain. Apa ga kasian itu masnya hahahah.

Kenapa perlu 4 bulan? 1) saya akui saya galau, ubah2 desain mulu. 2) alasan utamanya sih sebenarnya karena prediksi biaya yang diajukan mas Tian yang menuruti keinginan blabliblu saya itu ternyata jauh di luar anggaran :D. Ditambah dengan ganti lantai dan elektroniknya totalnya bisa lebih dari 2x lipat tabungan Oriflame. Lah jadinya kan tekorrr. Jadi ya saya harus nabung dulu kaaan, makanya desainnya dilama2in biar gaji Oriflamenya bisa nambah lagi hahahah.

Jadi dapur yang saya inginkan adalah model vintage mengarah sedikiiiit ke shabby chic. Saya suka sekali vintage karena terkesan homy dan hangat. Dapur vintage itu syaratnya harus ada bingkai kotak gitu di pintu kabinetnya, otomatis hanya bisa pakai duco. Ini niih pengennya kayak gambar di bawah ini.

gambar diambil dari google

gambar diambil dari google

Ga tau kenapa, saya lagi suka sama warna hijau kebiruan, atau biru kehijauan. Rasa saya, warna ini sweeeeeetttt sekali :D. Untuk keramik backpanelnya memang rencana mau warna putih kotak biasa aja, mirip dapur jaman dulu. Kalau perlu malah ditambahkan keramik yang ada gambar ceretnya tapi sayang ga nemu. Ada lemarinya pula, pokoknya gambar ini udah seiya sekata bangetlah sama impian saya :D.

Susunan dapurnya juga sepertinya udah mirip dengan rumah (*mana ada. Dapur di gambar mah luas banget, dapur saya sana sini mentok tembok :p), tinggal contek aja bisa sepertinya. Pengennya pake top table warna coklat kemerahan kayak di gambar (kalau ga salah namanya red emerald apa ya), tapi ternyata stoknya susah. Bisa sih dicari kalo mau niat tapi manalah saya sempat, akhirnya diganti ke hitam deh.

Untuk sink sengaja saya pilih yang guede karena dari semua pekerjaan dapur, saya paling senang cuci piring :p (karena memang cuma bisa itu), jadi sinknya mesti mendukung. Dalamnya 25cm, bisa buat mandi bayik. Kompor juga ganti ke kompor tanam. Dua tungku ajalaah, si mba yang masak ini, lagipula mau masak apa siii selama ini 2 tungku juga cukup kok. Lalu beli cookerhood juga. Yang ini murni dibeli karena butuh (bukan buat gegayaan) soalnya dapur saya kan ga ada kontak ke taman, jadi memang perlu hood agar asap masakan ga nyebar kemana2. Lantainya diganti ke granit model parket, biar makin kerasa vintage.

Pas dapurnya dipasang, udah deg2an. Takut ga sesuai harapan. Ternyata setelah jadi, aaaakkkkk, akuuuu sukaaaa ^^. Begitu tukangnya pulang, meja dapurnya saya pelukkk kayak lagi meluk guling. Iiiih kamuuu, akhirnya jadi jugaa. Aku nabung lama niih demi kamuuu, oh bahagianyaaa 😀 :D. Ini 100% endorsed by Oriflame, gak ada campur tangan gaji kantor pertama, jadi makin terasa mengharu biru. Ternyata…aku bisa jugak yaa buat dapur dari penghasilan diluar kantor huhuhuhu.

dapur2

dapur3

Yak pic di atas itu adalah hasilnya. Yaaaa ga mungkinlah 100% sama dengan di gambar yaa. Tapi jadi begini saja saya udah senang banget looh. Berhubung dapurnya sempit, jadi fotonya ga bisa maksimal. Mentok sana sini sama dinding (keciaaan deeeh) hehhehe. Bagi saya sih, dapur ini cakep bangetttt kan sesuai selera saya 😀 :D. Disayang2 dapurnya, jangan cepat rusak yaa kamu nduk hahahaha.

Happy…happy…*lalu setelah kelar masa bahagia, maka masa galau datang lagi. Lah sekarang uangnya bagusnya digunakan untuk perbaikan yang mana yaaa (maklum rumah tua, dikit2 perbaikan :p)