Seminar Parenting Elly Risman: Peter Pan Syndromme vs Cinderella Complex

Posted: September 29, 2016 in Tumbuh Kembang Anak
Tags:

Sekolah Alif mengadakan seminar parenting bersama Bu Elly Risman dengan judul di atas. Saya langsung semangat ingin ikutan, soal jarang2 Elly Risman mengadakan seminar di Depok ehehehe. Sekalian mau ajak suami agar beliau ikut mendengarkan juga. Seminarnya diadakan di Hotel  Margo, Depok. Ini hotel belum setahun dibuka. Lumayan bangettt ballroomnya, kamar mandi eksklusif, namun sayang makanannya kurang bumbu. Secara umum saya puaslah dengan tempatnya.

fb_img_1475108166301

Eniwei, apa isi seminar ini? Saya akan share beberapa poin penting yang saya ingat saja yaaa.

*Bahwa Indonesia ternyata adalah negara no 1 di dunia dalam urusan tingkat perceraian, wohooo, untuk tahun 2016. Dalam 1 jam, ada 40 orang yang bercerai di negara ini dan 70% yang mengajukan cerai adalah…WANITA.

*Kenapa? Ternyata dari hasil penelitian, penyebab utama bercerai bukanlah tingkat ekonomi yang selama ini selalu dijadikan kambing hitam oleh negara kita :D. Penyebab utama ternyata adalah SELINGKUH. Selingkuh dengan siapa? Kalau dulu pasangan selingkuh dengan gadis/perjaka, trendnya lalu berubah ke binor dan lakor (bini orang dan laki orang), dan trend paling keren sekarang adalah dengan sesama jenis. Nnnaaaaaahhhh, jadi ibu bapak, jangan pernah santai yaaa kalau pasangan terlihat tidak tertarik dengan lawan jenis karena siapa tahu selingkuhnya dengan sesama jenis (*yang hadir pada teriak hehe).

*Mau tahu betapa gawatnya isu gay lesbi di Indonesia? Yayasan Kita dan Buah Hati menemukan ada 87 aplikasi yang bisa didownload gratis di playstore untuk mengakomodir keinginan selingkuh sesama jenis ini. Sebut saja aplikasi GRI*DR. Nyalakan aplikasi, maka ia secara otomatis akan melacak dalam radius 1km, siapa saja yang menawarkan diri untuk diajak kencan sesama jenis 🙂 (*lagi2 hadirin teriak).

*Kenapa selingkuh harus menjadi penyebab utama dalam perceraian? Jawabnya adalah…karena selama ini orang tua mengasuh anak2 dengan metode HELIKOPTER. Metode ini menyebabkan anak2 tidak fight dalam menghadapi hidup. Tidak mau berusaha mengatasi kendala dan cenderung lari bila terkena masalah. Jadi begitu ada masalah di rumah tangganya, bukannya diselesaikan, e malah lari cari orang lain.

*Apa metode asuh HELIKOPTER itu? Itu loh Pak Bu. Metode yang mudah sekali memberikan bantuan pada anak. Contoh: 1) Anak jatuh, dibujuk2 agar berdiri, cemas berlebihan bahwa si anak kesakitan. 2) Anak ada acara sekolah pergi kemping/naik gunung, ortunya khawatir luar biasa. Takut anak sakit. Takut anak kehujanan. Takut anak ga sanggup menjalaninya. Takut anak ga suka makanannya. 3) Memberikan gadget kepada anak agar anak tidak rewel. Ga bikin repot. Sehingga kita bisa nonton TV/menggosip/kerja/main gadget kita sendiri dengan tenang. 4) Menyibukkan anak dengan les, peer, les peer, les dan peer, tanpa menyadari bahwa anak butuh KOMUNIKASI dengan orang tuanya. Dan masih banyak lagi contohnya. Intinya adalah memanjakan yang berlebihan, atau ketidakpedulian terhadap pribadi anak. Tidak hadir secara fisik, baik quality maupun quantity untuk anak. Pola asuh seperti ini akan menimbulkan sindrom Peter Pan dan Cinderella Complex.

*Maksudnya gimana? Peter Pan dalam kartun adalah sosok laki2 dewasa namun bersikap seperti anak kecil. Sementara Cinderella adalah sosok wanita dewasa namun dengan angan dan impian yang terlalu sempurna. Sindrom Peter Pan dan Cinderella Complex ini ada banyak ditemukan di lingkungan masyarakat kita, yang termanifestasikan dengan perilaku “lari bila menghadapi masalah” dan “mudah stres bila impian tak sesuai kenyataan”. Coba kita lihat diri kita sendiri. Bila kita menemukan ada sifat di diri berupa mudah stres bila kena masalah, tiap bertengkar dengan pasangan langsung lari cari “kehangatan” ke pria/wanita lain, tiap ditegur bos atau merasa tidak nyaman di kantor langsung mengajukan resign dan cari kantor baru, panik mendapati kenyataan setelah menikah bahwa suami ternyata tidak seperti pria dalam impian, panik menghadapi kenyataan bahwa setelah menikah ternyata ekonomi berubah dan tidak semapan saat waktu masih bersama orang tua, dll………….nah itu adalah salah satu tanda bahwa ternyata diri kitapun memiliki sindrom Peter Pan dan Cinderella Complex.

*Padahal sejatinya kita sebagai manusia punya kewajiban besar terhadap bangsa ini, yaitu membentuk generasi yang beriman, tangguh, dan bermanfaat terhadap agama bangsa dan sesama. Tugas kita sebagai manusia (mukmin) yang utama bukanlah mencari harta lalu menitipkan pendidikan anak kita dengan cara mengimpor guru les/guru ngaji atau menitipkan anak2 kita pada guru di sekolah2 yang katanya berkualitas, BUKAN. Yang full bertanggung jawab untuk mendidik anak tentu saja yang punya sperma dan ovum :), bukan nenek/kakek/guru/dll.

*Jadi apa tugas utama kita sebagai manusia? Berikut bila diurutkan. 1) Belajar untuk menjadi mukmin sejati, 2) Belajar untuk menjadi suami/istri yang baik. 3) Belajar untuk menjadi ayah/ibu yang baik. Patut disayangkan karena tidak pernah ada kurikulum yang mengatur masalah no 2 dan 3. Selama ini kita selalu fokus bagaimana membentuk anak2 kita menjadi no 4) Belajar untuk menjadi profesional/enterpreneur yang baik, padahal pertanggungjawaban di akhirat nanti bukanlah no 4 ini melainkan no 1-3 di awal. Lanjut ke no 5) Belajar untuk menjadi pengayom keluarga. 6) Belajar menjadi pendakwah. Yang terpenting adalah ayah harus memegang peranan dalam mendidik anak. Selama ini kita selalu menganggap ayah adalah sang pencari nafkah dan ibu adalah pendidik anak. Pikiran itu salah. Ayah dan Ibu harus bekerja sama dalam mendidik anak. Untuk Ibu, jangan termotivasi untuk menjadi seorang super woman yang bisa mengerjakan segalanya. Beri ayah tugas untuk ikut “membesarkan” anak.

*Bagaimana kalau sang ayah sudah meninggal/cerai? Hadirkan figur lain sebagai ayah. Bisa pamannya, kakeknya. Intinya anak harus kenal figur seorang laki2. Nabi Muhammad pun dulu ayahnya meninggal saat ia masih dalam kandungan, namun ia akhirnya diasuh oleh kakek dan pamannya. Jadi figur laki2 tetap hadir disana.

*”Bila kau asuh anakmu dengan gaya asuh HELIKOPTER, membentuknya menjadi seorang Peter Pan dan Cinderella maka siap2 saja kau akan menghadapi perceraian anakmu, gonta ganti pasangan, berita buruk bahwa anakmu berhubungan sesama jenis, dan tidak ada yang memperhatikanmu saat kau tua nanti. Tidak akan mereka datang menjengukmu saat kau sakit. Tidak ada yang menemanimu saat liburan hari besar. Karena tidak pernah ada ikatan emosi antara kau dengan anakmu saat mereka kecil.”

*Bagaimana agar kita terhindar dari metode asuh helikopter ini? Bagaimana agar anak2 kita tidak berubah menjadi seorang Peter Pan dan Cinderella saat ia dewasa nanti? Caranya adalah : 1) sembuhkan dulu inner child kita. Akui bahwa diri kita ini terbentuk dari pola pendidikan orangtua kita waktu dulu. Bila ortu sering mencubit kita saat berbuat nakal, biasanya kitapun akan melakukan hal yang sama terhadap anak kita. Bila dulu kita hidup sangat amat susah saat kecil, maka biasanya kita akan menyediakan yang terbaik untuk anak kita saat ini padahal yang terbaik bagi kita itu belum tentu yang terbaik untuk mereka. Bertanyalah pada pasangan, apa inner child kita. Lalu infokan juga pada pasangan, apa inner childnya. Berjanjilah untuk saling bekerja sama mengingatkan dan menyembuhkan inner child masing2 karena anak tak ada sangkut pautnya dengan masa lalu orang tuanya. Maafkan ortu bila dulu mungkin salah dalam mendidik kita. 2) diskusi bersama pasangan, apa yang harus dilakukan untuk membenahi metode asuh helikopter ini. Lakukan komitmen masing2. 3) Tetap berdoa dan mohon petunjuk Allah agar keluarga dihindarkan dari hal2 yang buruk.

*Ada pertanyaan. Bagaimana kalau suami istri berkerja di luar? Apa metode yang tepat untuk mengasuh anak? Elly Risman menjawab. Siapa yang gajinya paling besar? Dialah yang tetap bekerja di luar. Siapa yang gajinya lebih kecil, dia yang berhenti. Harus ada Pak/Bu, orang yang mendidik anak di rumah karena sekali lagi, anak itu menjadi kewajiban si pemilik sperma dan ovum untuk mendidiknya, bukan nenek kakek, guru atau asisten. Lagipula, tolong jangan salah paham. Saya tidak meminta hanya salah satu yang bekerja, dan salah satu mesti berhenti loh ya. Saya bilang, berhenti bekerja di luar. Jika anda bisa mengatur waktu anda, dan tetap ingin beraktualisasi diri dengan bekerja dari rumah, silahkan saja. Bisnis online kek, jadi penjahit kek, usaha katering kek, yang jelas anak harus diutamakan —-> aduh hiks jleb2.

*Ada pertanyaan. Anak kami sudah besar. Terlambat ga ya untuk memperbaiki metode asuh helikopter ini? Elly Risman menjawab. Tidak ada yang terlambat. Yang penting terus diusahakan. Ini mudah, ini gampang. Asal mau dikerjakan.

Hmm, sebenarnya masih ada beberapa poin penting lagi dari seminar ini tapi saya heran, catatannya kok ga nemu :D. Nanti kalau ada tambahan lagi akan kembali saya share.

Di luar acara seminar biasanya akan ada stand yang menjual buku parenting keluar Yayasan Kita dan Buah Hati. Harganya menurut saya agak mahal, sebabnya adalah 15% dari hasil penjualan didonasikan untuk tenaga pendidik, kalo ga salah. Saya kalau liat buku kan seperti liat gorengan, jadi yalah, dibeli semua *_*. Tapi isinya insya Allah bagus2. Jangan lupa ajak suami anda untuk ikut membacanya yaaa.

Demikian sharing singkat dari seminar ini. Semoga bermanfaat.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s