Titit Kecil pada Anak, Bagaimana Mengatasinya? (1)

Posted: June 26, 2016 in Tumbuh Kembang Anak

Memang sejak dulu kami semua memperhatikan titit Alif ukurannya agak kecil. Tapi kita diam-diamkan saja dengan pikiran, “Ah nanti juga gede.”, “Ah mungkin karena kegemukan.”, “Ah itu pendek karena disunat“. Tapi sekarang Alif sudah 6 tahun dan tetap saja tititnya masih kecil jadi wajar yaa saya akhirnya kepikiran juga.

Saya bawa ke RS Hermina Depok, diperiksa oleh dokter anak langganan kami. Namanya dr Tri Lestari. Ternyata dokter anak tidak berkompeten menjawab ini. Beliau tetap melakukan pemeriksaan, mengukur dan menjawab pertanyaan namun untuk lebih pastinya, beliau menyarankan kami ke dr endokrin di Hermina. Nah dokter endokrin yang saya temui di rumah sakit yang sama ini adalah seorang wanita, tidak ramah, atau lebih tepatnya menjengkelkan. Saya kan penasaran ya apakah masalah ini bisa diatasi? Bukannya memberikan penjelasan dengan ramah dan sopan, sang dokter menjawab “Pokoknya ibu bawa anak ibu cek hormon di A atau B atau C.” Saya tanyakan itu lokasinya dimana, jauh atau tidak dengan pertimbangan apakah akan bawa motor atau mobil. Harganya kisaran berapa, eee dokternya menjawab,”Ibu pengen anaknya sembuh kan? Kalau mau anak sembuh, jauh dekat ya dijabanin aja. Murah atau mahal pasti diperiksa juga kan?” — oooh sungguh bikin speechless :). Yang lebih bikin bete adalah, saat dia menjelaskan sedikit hal, azan dzuhur di hpnya yang tergeletak di meja berbunyi kencang. Bukannya beliau memute hp, atau memilih diam mendengarkan azan, tindakannya adalah tetap ngomong saing2an dengan suara azan di hpnya. Lah saya jadi bingung mau fokus dengerin yang mana :D. Jadi saya keluar dan memutuskan untuk tidak balik kesana lagi.

For second opinion, saya akhirnya ke RS. Mitra Keluarga Depok. Dibawa ke dokter anak, cowok. Lupa namanya, namun beliau ramah. Beliau memeriksa dengan teliti lalu menyarankan 3 tempat kenalannya untuk juga cek hormon. Nah dokter yang ini sangat kooperatif dalam menjawab setiap pertanyaan saya. Beliau berkata, lihatlah sampai usia 8 tahun. Kalau ukurannya tetap masih kecil, boleh ambil tindakan. Jadi…saya putuskan untuk menunggu. Saya akui saya memang masih ragu karena dari yang saya googling, pengobatannya bisa membuat penambahan tinggi badan tidak maksimal. Seakan-akan saya dibuat memilih untuk Alif: titit normal tapi badan pendek atau titit kecil tapi badan tinggi. Hmm…, dilematis.

Lalu setengah tahun menunggu, Alif akhirnya mau menginjak 7 tahun, namun ukuran tititnya tetap masih kecil :(. Saya akhirnya berpikir lagi untuk kembali ke dokter di Mitra Keluarga, untuk pemeriksaan Alif yang kedua plus meminta referensi yang dulu soal catatannya hilang hehehe. Nah di tengah situasi itu, tiba2 saja, teman kantor saya (sebut namanya Mawar) bercerita bahwa anaknya mengalami permasalahan serupa. Dan dia telah mencari info sana sini, ternyata ada dokter endokrin di Brawijaya Clinic, FX yang lokasinya notabene hanya sepelemparan batu dari kantor saya. Wiken ini Mawar berencana untuk konsultasi tentang anaknya dan akan menginfokan hasil konsultasinya ke saya. Saya tidak sabar menunggu hasil liputannya hehehe.

Singkat cerita, Mawar akhirnya jadi kesana. Ternyata anaknya dianggap kegemukan :p, makanya tititnya kecil. Jadi untuk anak Mawar, kudu diet dulu baru dilihat lagi ke depannya. Hmm Alif saya rasa tidak obesitas jadi kasus anak kami tampak berbeda. Anyway, dokternya ramah, namanya dr. Frida. Praktek tiap Sabtu pagi dari jam 10-14. Beliau juga praktek di RSCM saat hari kerja. Pasien tidak banyak karena klinik ini memang dikhususkan untuk penghuni apartemen FX, jadi list antrian sedikit. Bebas bertanya apa saja, ga akan dijudesin. Saya dan suami jadi sangat terencourage untuk mencoba kesana juga. Weekend berikutnya kamipun memutuskan ke sana.

Klinik Brawijaya terletak di lantai 5. Benar, kliniknya memang kecil dan tidak ramai. Kami datang jam 11. Hanya menunggu 15 menit, kami sudah dipanggil masuk. Dr Frida sepertinya berusia tidak lebih dari 30 tahun (tahun 2015 yak ini), ramping, cantik, tampak sangat menjaga makanan karena dia bilang ga suka gula hahahaha, ngomongnya lumayan cepat, dan tek-tok (tidak banyak basa-basi). Cocok dengan saya yang juga tidak terbiasa basa-basi. Pendek kata, Alif diminta berbaring, tangan ke atas, lalu diukur tititnya dalam kondisi ereksi. Hasil pengukurannya adalah 3cm. 3cm adalah ukuran normal minimum untuk seorang anak berusia 7 tahun. Lalu terjadilah tanya jawab berikut ini.

“Apakah harus ditindak atau tidak?”— dr Frida mengembalikan keputusan kepada orang tua. Boleeeh menunggu demi kepastian. Boleh juga langsung ditindak. Sebenarnya tindakan dilakukan sebelum lewat masa pubertasnya.

“Prosesnya nanti seperti apa?” — Kita akan suntikkan hormon testosteron tambahan. Penyebab ukuran penis kecil sebenarnya ada beberapa, salah satunya kekurangan hormon testosteron. Penyuntikannya nanti akan diberikan dengan kadar setara vaksin, 0.2cc. Tidak sakit, hanya menimbulkan sedikit efek kebas yang biasanya anak-anak pun tidak akan menyadarinya. Harga sekali suntik tidak sampai 300rb. Memang tidak bisa hanya sekali suntik, tergantung kondisi pasien. Untuk Alif, kemungkinan 3x karena di tiap suntikan, penis akan memanjang, lalu dalam 3 minggu akan memendek sedikit. Jadi butuh suntikan-suntikan berikutnya untuk membuatnya stabil.

“Apakah penambahan hormon akan membuat tinggi badan sulit bertambah, Dok?”— Wah (*tersenyum), Ibu dapat berita darimana? Internet…jawab saya polos. Memang, internet memungkinkan kita untuk mendapatkan banyak informasi yang selama ini tidak kita ketahui, tapi internet juga rentan untuk menyebarkan berita yang tidak benar. Bila ingin jawaban yang benar, bertanyalah ke dokter langsung Bu, informasi di internet hanya untuk pengetahuan awal saja. Pemberian suntikan hormon dalam kadar yang amat sangat berlebihan memang benar akan menghambat penambahan tinggi badan. Saya punya kasus seorang pria yang tinggi badannya selisih 15cm dari tinggi normal laki-laki pada umumnya. Saat saya tanya, ternyata dulu ia disuntik hormon 1x dengan takaran 4x suntik. Jadi hormonnya ditambahkan banyak sekali. Hormon testosteron sebenarnya erat kaitannya dengan pertumbuhan tulang. Ketika hormon ditambahkan begitu cepat, tulangnya dipaksa untuk tumbuh cepat dan akhirnya malah tidak berfungsi maksimal. Itu alasannya mengapa suntikan yang saya berikan dicicil sebanyak 3-4x dalam dosis sedikit2 agar tidak mengganggu fungsi hormon.

*bersambung

Notes: Jangan percaya 100% dengan yang saya tulis karena bisa jadi ada yang saya salah dengar atau salah ingat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s