Bahwa Riba Itu Adalah Haram

Posted: March 17, 2016 in Muhasabah Diri
Tags:

Dulu saya ga ngerti apa itu RIBA. Taunya LABA wakakakak (*memang dasar otak ekonomi :p). Saya tau riba tahun 2015 sih. Pernah kami bahas di grup Arisan Murakabhi tapi tidak begitu mendetil. Saya baru tahu mengerikannya riba itu bulan Desember 2015, di usia yang sudah 33 tahun. Kemana ajaaaa saya selama ini?

Bermula dari chat di grup SM-UP Oriflame. Member bernama Fenny Febrian dan Risa Hananti mengatakan bahwa akan ada webinar gratis dari Saptuari Sugiharto, membahas tentang bukunya yang berjudul “Kembali ke Titik Nol”. Buku ini berisikan tentang riba, bahayanya, dan perjuangannya untuk lepas dari riba. Namapun saya sedang lagi getol2nya bermuhasabah, memperbaiki diri yaa jadi chat riba ini terlihat lebih berkilau di mata saya ketimbang chat promo2 Oriflame di grup saat itu :D. Karena sudah ketentuan di grup bahwa kami hanya akan membahas Oriflame, jadilah saya japri saja ke Fenny. Fenny pun memberikan link webinarnya ke saya ^^.

Saat saya dengarkan webinarnya, saya jadi kaget banget. Ternyata dosa riba yang terkecil itu seperti menyetubuhi ibu kandung sendiri. Jedeeerrrrr!!! T-T. Haaah? Serem amaat?

Memakan Riba Lebih Buruk Dosanya dari Perbuatan Zina

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dosa Memakan Riba Seperti Dosa Seseorang yang Menzinai Ibu Kandungnya Sendiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya).

Riba ternyata masuk dalam dosa besar. Lalu di webinar itu dibeberkan apa2 saja yang termasuk riba. Diantaranya adalah bunga yang didapat dari hutang kartu kreditlah, hutang mobil lah, hutang KPRlah, hutang ini itu pokoknya hutang yang berbunga itu riba. Yang terkena dosa riba adalah pemakan riba, pemberi riba, saksi-saksi, dan penulisnya. Ada lagi bentuk riba yang lain tapi kebetulan yang berkenaan dengan saya adalah bagian hutang. Waduuuh, hutang saya kan buanyaak? Langsung mules :(.

Interest-Riba

 

Lalu Saptuari menceritakan bahwa demi lepas riba, ia bertobat, kemudian menjual aset2nya sampai hutangnya lunas. Apa sekarang Saptuari hidup menderita? Ternyata enggak juga. Malah sekarang dia punya 2-3 usaha baru yang semuanya didirikan tanpa perlu berhutang. Ia jelaskan bahwa jika seseorang sudah berniat untuk keluar riba dan bertekad sepenuh hati untuk melunaskan hutang2nya maka Allah akan mendatangkan rejeki dari arah yang tak disangka2.

Kita sebenarnya diminta untuk hidup sesuai kemampuan. Kalau belum mampu beli rumah, ya ngontrak. Kalau belum mampu beli mobil, ya pakai motor dulu. Kalau belum sanggup ganti mobil baru ya tahankan dulu pakai mobil lama. Jangan mau tergoda ingin menikmati duniawi dengan cara yang instan (*aduh jleb banget ini, lirik mobil putih saya). “Tapi kan kalau gitu kapan punya rumah Mas?” Ya itu tadi, kalau memang belum sanggup beli, ngontrak aja. Atau bisa kok beli rumah tanpa melalui perantara KPR. Zaman sekarang ini sudah mengajak kita ke sifat hedonisme yang apa2 pengennya paling baru, paling update, paling mahal. Ujung2nya beli dengan sistem cicilan berbunga (*adoooh, melirik HP Samsung S4 yang dulu saya beli pake cicilan berbunga walau kecil banget). Lagipula, kenapa maksa banget sih pengen punya rumah punya mobil? Dikira makin kaya makin dijamin masuk surga gitu? Kasian banget orang miskin kalau begitu, ga adil.

Nabi SAW bersabda, ”Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang empat perkara (yaitu):(1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan? (2) Tentang ilmunya untuk apa ia amalkan? (3)Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan? dan  (4) Tentang badannya untuk apa ia gunakan? (HR.At-Tirmidzî). Terkait no 3. Yang ditanya itu tentang harta yang ia dapatkan dan belanjakan. Harta sedikit atau banyak, pertanyaannya tetap sama (*adoooh jahatnya Mas Saptuhari ini dari tadi nohok2 hatiku). Masih banyak lagilah yang beliau bicarakan di webinar itu. Nanti kalau ada yang pengen dengar, minta ke saya aja linknya yaa lewat comment di bawah. Nah gara2 itu, saya jadi pengen banget baca bukunya. Kembali Ke Titik Nol. Sayangnya ga dijual di toko buku. Jualnya di orang2 tertentu. Harganya 129rb. Mahal amat yak. Tebalnya berapa Mas? 300 halaman katanya. Hem, setahu saya buku 300 halaman itu harganya 65-75rb. Ini hampir 2x lipatnya? — jadilah malas beli 😀 dan berpikir, gpp deh. Kan aku udah dengar webinarnya. Itu aja yang aku jalankan.

Maka saya diskusikan hal ini ke suami. Bahwa saya bertekad untuk lepas dari riba, jadi semua hutang2 itu harus wajib kudu DILUNASKAN. Iiiih, ngeriii. Pokoknya harus lepas dari riba. Untungnya suami mendukung. Sebagian asset likuid dicairkan. Sisanya dari menabung. Supaya tabungan cepat banyak yaaa kudu berhemat. Okelah, setuju! Mulailah saya potong semua kartu kredit, dan beberapa kartu diskon yang terindikasi ada praktek riba. Saya install Money Lover, sebuah aplikasi gratisan yang cakep banget. Saya bisa kontrol pengeluaran saya dengan cukup baik. Lalu ya itu tadi. Berhemat. Beli yang benar2 perlu. Gunakan sampai rusak atau habis. Menyayangi barang agar lebih awet pemakaiannya.

Alhamdulillah, mungkin karena ngotot, sekarang bisa nabung lebih banyak. Lalu per tanggal 16 Maret 2016, kami melunaskan hutang mobil yang menurut kami berat itu, baik dari cicilan maupun dari pokok hutangnya. Rasanya tuh ya, legaaaaa sekali. Seperti ada seonggok batu besar di badan yang diangkat lalu dibuang. Bersyukur banget, ternyata bisa ya bayar hutang sebesar itu (*bagi saya itu besar). Ternyata kalau ada kemauan mah bisa2 aja. Dengan demikian, bisa nabung lebih banyak karena berkurang cicilan yang harus dibayar. Nah target berikutnya adalah melunaskan hutang rumah, paling lambat September tahun ini. Lalu insya Allah, akhir 2017, kami menargetkan akan bebas riba dari hutang besar lainnya.

Setelah bebas hutang tersebut, barulah kami akan kembali fokus menyusun rencana keuangan lagi. Dengan lebih lega, tanpa beban, lebih lowong. Bismillah, semoga dilancarkan aamiiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s