Berhubung cuti ibunya minus *_*, maka akhir tahun ini Alif dan sepupu2nya tidak bisa saya ajak liburan ke luar kota, alias kami di rumah saja. Saya juga cuma bisa gigit jempol melihat status fb teman2 yang pada liburan jauh2, hikkssss. Bisa sih maksa ambil cuti, jadi minus 7 gitu sekalian ya tapi kebetulan memang load kerjaan lagi duhai2nya. Jadi..ya itu tadi. Gigit jempol aja :(.

Untuk mengisi waktu, hari ini saya dan suami mengajak anak2 jalan sekalian belajar ke Museum Layang-Layang. Tadinya mau ke Museum Polri, tapi belum ketemu review yang bagus. Nah kebetulan teman kantor ada yang sudah pernah ke Museum Layang-Layang. Katanya recommended, jadi saya pede bawa anak2 main kesana.

Lokasinya di Pondok Labu. Terletak di jalan yang tidak begitu besar. Tempat parkir juga tidak luas dan bentuknya menyerupai pendopo besar dengan halaman yang luas. Teduh karena pohonnya rimbun. Kami sampai di lokasi jam 11 siang. Saat itu (30 Des 2015), di jam segitu belum terlalu ramai. Mungkin ada sekitar 5-6 keluarga saja termasuk keluarga kami. Tiket masuknya 15rb/orang, sudah termasuk paket menonton video audio visual, tour ke museumnya, dan membuat layang2 kecil. Masih banyak kegiatan lainnya loooh seperti membuat keramik, mewarnai topi, mewarnai kaos, dan lainnya yang akan dikenakan lagi tambahan biaya per orangnya. Kami putuskan untuk membayar 15rb/orang dulu.

20151230_121042

Tadinya saya kira video audio visualnya akan ditonton di layar bioskop mini hahahaha, ternyata diputar di TV 40 inch saja, dalam ruangan gelap berukuran sekitar 30m2. Dari video ini kita dijelaskan asal-usul layangan dari mana. Lalu variasi layangan di berbagai propinsi di Indonesia, juga berbagai lomba layangan. Nah loh, jadi ngiler deh pengen liat lomba layangan akbar, soal di video itu layangannya bagus-baguussssss banget. Ada yang kepala layangannya biasa aja tapi panjang ekornya mencapai 250m dan perlu ditarik oleh 20 orang. Ada yang bisa meliuk2 seperti aerobatic pesawat tempur. Ada yang bisa joget mengikuti music (*Nah loh, kok bisa yaaaa. Bukannya layangan itu terbangnya pasrah aja ya dibawa angin? Ternyata karena dikendalikan oleh 2 benang :D). Videonya berdurasi tidak sampai 15 menit.

Kelar menonton video, kami dibawa oleh guidenya ke Museum Layang2. Di museum yang luasnya sekitar 200m2 (*kalik yaa), isinya hanya layangan. Tiap propinsi ternyata memiliki layangannya sendiri. Hanya layangan dari Papua dan Ambon saja yang belum ada disini. Ada layangan yang diterbangkan hanya kalo sedang musim panen. Ada layangan yang diterbangkan untuk mengabarkan bahwa sedang ada yang menikah (*ceritanya jaman dulu kan rumah2 masih jauh satu sama lain. Juga belum ada hp dan social media. Jadi untuk mengetahui ada yang sedang menikah, maka kita lihat ke langit, ada layang2 yang diterbangkan hari itu gaaa? :D). Layangan dari Sumatra Utara ada kilau2nya. Layangan dari Jakarta…perasaan paling biasa deh :p. Ada layangan yang terbuat dari kertas origami, dari plastik kresek, dari kain, ada juga yang dari daun. Nah yang dari daun itu malah paling laku kalau dijual di luar negeri walaupun bentuknya biasa. Walau namanya layang2 tapi layangan dari Indonesia bentuknya macam2. Bentuk lebah, kupu-kupu, laba-laba, kepala naga, rumah, kapal, burung, bahkan ada yang ditempeli boneka lumayan besar.

layangan boneka

Layangan yang ditempelkan boneka dari styrofoam. Kalau siang kelihatan  lucu. Kalau malam, saya takut juga 😀

layangan daun

Layangan dari daun. Daunnya dijahit. Walau bentuknya biasa tapi katanya laku banget kalau dijual ke luar negeri.

layangan capung

Layangan capung. Sayapnya besar, jadi ga muat deh difoto full. 

Layangan Telong Telong

Layangan Telong-Telong dari Bengkulu. Ini layangan favorit saya ^^

Kami juga diajak melihat layangan dari negara lain yang…jujur saja, tampak biasa. Bentuknya hanya segiempat atau layang-layang namun digambar menarik. Menurut guide, orang Indonesia memang kreatif loh dalam membuat layangan. Nyatanya kalau ada perlombaan layangan internasional, peserta dari Indonesia adalah peserta yang ditunggu2 penampilannya :D. Btw, layangan juga ada yang ukurannya hanya beberapa cm saja. Diterbangkan atau engga, gak akan terlihat bedanya mah kalo ukurannya segitu yak. Saking bagusnya, kami sebenarnya berharap masih ada lantai atau ruangan lain yang menunjukkan koleksi lain tapi sayangnya show roomnya memang cuma itu saja. Semoga ke depannya semakin banyak koleksi2 lain yang bisa ditambahkan yaaa.

layangan negeri lain

Koleksi layangan dari negeri luar tidak begitu banyak di museum ini.

Selama tour, anak2 belingsatan. Yaah namapun anak2, melihat benda mati secantik apapun tidak akan se-excited melihat benda hidup. Ayah ibunya masih betah di dalam museum, eeeeh bocil2 udah lasak ga pengen buat layangan. Yah akhirnya mereka keluar duluan. Oleh pembimbing, mereka diberikan tulang layangan dan kertas. Lalu…ga tau deh diapakan wkwkwwk, ibunya lebih fokus lihat koleksi layangan soalnya. Begitu kelar langsung nyamperin anak dan ngajak bicara, eee udah ga diladenin saking khusyuknya buat layangan. Kelar layangan jadi, mereka gambar dan warnai memakai crayon. Lalu kalau sudah selesai, baru layangannya dikasih ekor dan benang, siap untuk diterbangkan di halaman museum. Bisa dibawa pulaaang! Saat itu sudah masuk jam 12-an, mulai rame museumnya ^^. Oiyaaa di museumnya ada mushola yang bersih dan boleh bawa makanan kecil yak. Tapi saya tidak menemukan seorangpun yang bawa makanan besar dan tikar sih.

membuat layangan

layangan udah jadi

Jadiiii deeeeeh ^^

Kelar aktivitas membuat layangan, Alif jalan2 ke rumah keramik. Dan ngilerlah dia kaaan melihat ada anak yang bisa buat keranjang dari tanah liat. Maka merengeklah pulak dia kaaan. Walhasil ibunya merogoh kocek lagi sebesar 60rb untuk aktivitas membuat keramik. Dengan uang segitu, Alif akan mendapatkan tanah liat seberat 1kg dan akan dibimbing oleh guide keramik untuk membuat apapun, terserah keinginan si anak. Tanah liat 1kg itu banyak yaaa, jadi walau bayarnya untuk 1 orang, yang ikutan main keramik bisa sampai 3 orang :D. Tidak seperti di Rumah Keramik F. Widyanto yang hanya mengajarkan membuat keramik cetakan saja, disini diajarkan membuat keramik yang dibentuk menggunakan tangan. Bisa pakai alat yang putar2 itu jugaa (*gak tau apa namanya).

Alif dan sepupu2nya sangat menikmati pembuatan keramik ini. Serius bangetlah tampangnya. Saya ingat dulu pernah bawa Alif ke Rumah Keramik di Depok itu saat dia berusia 3-4 tahunan dan kentara banget kalau Alif lebih menikmati aktivitas ini di usianya yang 7 tahun. Seperti biasa, keramik yang sudah jadi tidak bisa langsung dibawa pulang karena harus dikeringkan dulu selama seminggu.

membuat keramik

Kelar aktivitas membuat keramik, kamipun pulang. Lebih kurang 3 jam kami berada disini. Kalau menambah kegiatan lain lagi, pasti akan lebih lama disananya. Saya merekomendasikan sekali looh tempat ini untuk mengisi weekend ataupun liburan panjang. Hemat dan bermanfaat ^^.

Jadi ayo sempatkan anak2 untuk datang kesini yaaa. Sampai jumpa di postingan berikutnya.

 

datang kesini yaaa

Advertisements
Comments
  1. sari says:

    wah, seru banget kayaknya ya mbak..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s