Seberapa Cukupkah “CUKUP” itu?

Posted: December 26, 2015 in Muhasabah Diri

Banyak yang mengetahui bahwa orang yang bekerja di perusahaan minyak adalah orang-orang yang beruntung. Memegang gaji yang amat layak, apalagi kalau double gardan. Memiliki mobil yang bisa terus diupdate layaknya HP. Memiliki properti lebih dari satu, hasil investasi dari kelebihan gaji. Bisa liburan keluar negeri entah lewat training atau biaya sendiri. Bisa ke rumah sakit kapanpun mereka mau tanpa perlu ribet dengan BPJS. Bisa wisata kuliner sesuka hati tiap ada resto lucu menampakkan diri. Bisa mencoba layanan-layanan unik dengan harga yang tidak sedikit. Makmur.., banyak yang ingin bekerja di perusahaan minyak atau mendapatkan pasangan yang bekerja disana karena sepertinya hidup akan lebih terjamin.

Itu benar adanya, di saat harga minyak tinggi :). USD 60/barrellah kira-kira, sudah lumayan untuk sebuah perusahaan minyak untuk beroperasi. USD 80-120/barrel (2008-2012), itu surga apalagi bila mereka bisa menemukan cadangan yang ekonomis. Tapi bila harga minyak turun ke USD 40/barrel seperti saat ini (2015), maka industri minyak mulai megap-megap, terutama bagi mereka yang belum bisa menemukan tambahan cadangan. Pasti ada yang memicu turunnya harga minyak, seperti ada pula yang memicu naiknya harga minyak di waktu lampau, tapi tak penting membahasnya di postingan ini. Yang ingin saya tulis adalah, melihat kondisi sekarang saya jadi seperti membaca ulang buku Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata. Dimana saat harga timah meroket, anak-anak pegawai PN. Timah bisa hidup sangat nyaman di kompleks mewah mereka yang terpisah dari perumahan kampung. Namun saat harga timah terjun bebas, kompleks itu hanya menjadi bangkai-bangkai yang ditinggalkan. Masa keemasan mereka sudah hancur.

Saya dan suami bekerja di perusahaan minyak. Kami lulus dari kampus di timing yang alhamdulillah, sangat tepat :). Harga minyak USD 70-80/barrel saat itu. Kami tidak kesulitan menemukan lapangan pekerjaan dan waktu itu saya pribadi heran mengapa senior-senior saya dulu banyak yang nganggur? Bekerja itu gampang kok, ini nyatanya saya diterima tanpa perlu banyak ditolak. Saya tidak tahu bahwa saat itu saya hanya mujur, lulus di tahun yang pas. Minyak lalu naik ke angka USD 100/barrel. Perusahaan kami yang pernah menemukan cadangan minyak dalam jumlah berarti bahkan bisa memberikan kami bonus mencapai 4x gaji bulanan. Gatheringnya bisa ke Bali, menginap di hotel yang bagus. Setiap ada acara, ada pula door prizenya. Dalam pikiran saya saat itu, enak yaaa jadi pegawai minyak itu. Masuk kuliahnya tidak susah (dulu passing grade Geologi itu tidak tinggi), materi kuliahnya juga tidak susah, tidak perlu keluar modal banyak seperti kedokteran atau arsitektur, eeeh lulus2 bisa kerja dengan gaji lumayan besar. Nikmat sekali :D. Semakin nikmat rasanya saat minyak tembus ke angka USD 120/barrel.

Setelah 9 tahun berkarir sejak lulus kuliah, harga minyak yang sempat menyentuh USD 100-120/barrel itu turun secara tajam dalam 1 tahun terakhir. Di awal penurunan, kami masih menjalaninya seperti biasa. Tapi ketika angkanya menginjak USD 50/barrel, mulai dengung efisiensi dilancarkan. Efisiensinya masih ringan, masih berputar sekitar penghematan training, gathering, dan fasilitas2 kenyamanan. Turun ke angka USD 45/barrel, mulai ada perusahaan yang menjalankan aksi lay off untuk para pegawainya. Saat postingan ini dibuat, harga minyak sudah di USD 37/barrel.

kurva minyak

gambar diambil dari Dongeng Geologi

Saya, yang terbiasa dengan situasi masa jaya dulu, rasanya kaget. “Ini lampu kuning yang sering saya baca di buku-buku itu. Bisa juga ya masa seperti ini datang ke kehidupan kami? Roda itu ternyata beneran berputar.” Kenyamanan fasilitas di kantor mulai dihapuskan satu demi satu walau alhamdulillah sampai saat ini perusahaan saya belum me-layoff pegawainya (setidaknya untuk bagian Energi). Tapi sampai kapan? Sampai kapan bisa tenang? Sampai kapan bisa merasa kami akan aman selamanya. Karena kapan harga minyak naik, tidak ada seorangpun yang tahu. Memang sih penurunan harga minyak dengan tajam seperti ini sudah pernah terjadi di tahun 2008 dan berlangsung hanya selama setahun, kemudian naik lagi. Ada yang bilang bahwa penurunan harga minyak tahun 2015 ini mungkin mirip dengan tahun 2008 dulu. Tapi ada juga yang bilang naiknya masih sekitar 2017 nanti. 2018. Bahkan 2020. Jika benar, apakah perusahaan saya akan masih bisa bertahan hidup selama itu sementara dengan harga minyak yang segini selama setahun saja sudah lumayan perubahannya? Sekarang mungkin belum di-PHK, tapi bagaimana dengan nanti?

Maka sungguh saya merasa amat tidak bijaksana untuk masih menjalankan lifestyle yang lama. Bersikap menutup mata dan masa bodoh dengan tanda-tanda yang mulai terlihat jelas. Seperti quotenya Ellen May, “Pasar tidak pernah salah, kitalah yang salah dalam menyikapinya.” Maka harga minyak juga tidak pernah salah, sayalah yang jangan sampai salah menyikapinya. Saya mulai introspeksi diri, apakah selama ini saya sudah menjalankan peran sebagai “menteri ekonomi” di rumah dengan benar?  Saya mulai meneliti bagaimana saya mengeluarkan uang selama ini. Berkat ilmu ekonomi yang saya pelajari sebagai hobi, saya yakin bahwa saya cukup bagus dalam mengelola keuangan tapi tak ada salahnya untuk mereview lagi.

Tersenyum sendiri mengamati bahwa saya sekarang menganalisa seberapa banyak porsi perlengkapan mandi/makeup yang sebenarnya dibutuhkan untuk sekali pakai (biasanya cuek aja, pake sesukanya, toh kalau habis tinggal beli), seberapa banyak air yang sebenarnya diperlukan untuk berwudhu atau mandi, seberapa banyak lampu yang diperlukan untuk dinyalakan, seberapa banyak AC yang diperlukan untuk dihidupkan, seberapa banyak pakaian yang sebenarnya saya butuhkan untuk menjalani aktivitas sehari-hari, seberapa banyak makanan yang sebenarnya cukup gizi dan porsi untuk dimasukkan ke dalam tubuh, seberapa cukup spek mobil yang diperlukan untuk dipunyai, dan seberapa cukup sebenarnya isi rumah untuk dipunyai. Bukan karena pelit yaa tapi untuk mencari tahu, “Seberapa banyak yang disebut CUKUP itu?”, “Sudahkah kami selama ini hidup secukupnya saja atau masih sombong/mubazir?”. Ternyata saya yang mengaku sebelumnya hemat ini, MASIH MUBAZIR loh. Astaghfirullah.. Allah menyadarkanku tentang kemubaziran ini melalui peristiwa turunnya harga minyak :p, tapi saya menerima ilmu ini dengan ikhlas.

Terus bagaimana? Ya mencoba memperbaiki lifestyle. Mau lagi kekurangan atau kelebihan kek, lagi sengsara atau makmur kek, harga minyak makin turun atau ternyata rebound lagi kek, kemubaziran tetap menjadi sesuatu yang harusnya dihindarkan. Terkait dengan kondisi harga minyak sekarang, yaah, optimis saja :D. Roda memang berputar tapi yakin yang namanya rejeki tidak akan tertukar.

Muhasabah diri kali ini sangat bermanfaat. Semoga tidak hanya menjadi sekedar nice to know saja tapi benar-benar dijalankan. Aamiiiin.

-febrieeka-

 

 

 

Comments
  1. pipit says:

    saya mengalami penurunan THP ini karena “nekat” pindah dari Kantor Pusat yang “bergelimang” anggaran ke kantor wilayah, dan ujug-ujug ditempatkan di kantor cabang yang konon kabarnya adalah keset dari hierarki perkantoran 🙂

    tapi ya coba menikmati dan menyesuaikan life style.. awalnya udah pastilah kaget banget.. biasanya bisa ini itu.. ehh… ini kok harus ngencengin iket pinggang ya.. 😛 sampai sekarang masih belajar sih untuk menurunkan life style… gak cucok banget bawa-bawa kebiasaan di Jakarta ke kota kecil di pinggiran Bandung ini..

    Liked by 1 person

    • Iya Mba, memang lumayan yaa effortnya. Saya juga mula2 diprotes sama anggota keluarga wkwkw. Kok kita jadi pakai sabun ini? Kok berasnya ini? Kok sekarang lampu2 dimatikan? Kok jadi jarang ke mall? Tapi dengan penjelasan berkali2 dan kesabaran, akhirnya pada nerima dan mengikuti. alhamdulillah. Semoga kita semakin dimudahkan kedepannya yaa.

      Like

  2. Newproezt says:

    Hebat !!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s