TIDAK SESUAI DENGAN FOTONYA-Alif turns into 7

Posted: December 9, 2015 in Tumbuh Kembang Anak

Beberapa waktu yang lalu saya mengetahui bahwa muslim tidak boleh merayakan ulang tahun karena itu meniru perbuatan suatu kaum, sementara muslim dilarang untuk meniru2 perbuatan suatu kaum (*kaum apa saja). Jadilah saya dan suami tidak lagi merayakan ultah, anniversary, tahun baru Islam, tahun baru Masehi, dan lainnya. Itu tidak menjadi masalah, termasuk saat Alif ulang tahun.

Selama ini ultahnya Alif memang selalu dirayakan sederhana sih. Palingan beli kue di Harvest, undang ponakan2, potong kue dan didoakan, lalu bagi2 goody bag ke tetangga. Udah itu saja. Kado2nya nanti dari keluarga saja. Nah tahun ini karena Alif sudah besar jadi diniatkan untuk meniadakan goody bag. Tidak ada lagi acara potong kue, diganti dengan makan nasi kuning. Alif oke2 saja. Tampaknya selama ada hadiah, dia oke2 saja hahaha tapi dia tetap minta agar bisa bawa kue ke sekolah. Nanti kuenya dibagi2kan, lalu kemudian Alif akan didoakan. Prosesi didoakan itulah yang dia incar. Alif senang didoakan :D.

Nah, karena ibunya semakin concern tentang halal dan haram, maka bingung juga. Harvest perasaan tidak ada sertifikasi halalnya. Jadi pesan kue ke mana yaaa. Ada sih Dapur Chocolate, tapi itu juga tidak ada sertifikasi halalnya. Pepenero? Malah makin mengerikan soal ada menu porknya. Mau cari info sana-sini kok sudah ga sempat soalnya ultahnya lusa. Akhirnya tebersit ide untuk pesan kue sajalah ke “snack halal”. Snack halal adalah perkumpulan ibu2 di sekolah Alif (yang juga orangtua murid) yang memang menyediakan makanan kecil dan minuman halal. Mereka sudah mengadakan perjanjian dengan pihak sekolah bahwa snack yang mereka sediakan untuk anak2 di sekolah harus halal, sehat, bergizi, dan tidak banyak zat pewarna. Snack Halal sering menjadi pilihan orangtua murid saat diminta menyediakan snack bagi anak2nya saat  olahraga, misalnya.

Tapi itu kan olahraga. Bagaimana dengan acara ulang tahun? Karena saya sudah berpengalaman memesan snack halal di Bu A, maka tentu namanya lagi yang terlintas di kepala saya. Saya langsung menghubungi ibu A. Bu A ternyata tidak terlalu berpengalaman dalam membuat kue ultah namun beliau mengatakan pernah membuat cupcakes. Dikirimkanlah foto2 cupcakes ini ke WA saya :D. Cute sekali bukaaaan? Lucuuu2, saya bisa membayangkan wajah anak2 yang senang menerima cupcakes ini. Namun karena di sekolah Alif dilarang menggunakan banyak pewarna, maka cupcakes ini nantinya akan berwarna coklat dan putih saja. Hm, sounds doesn’t matter to me. Jadi segera saya iyakan tanpa babibu. Pembayarannya di belakang. Saya juga memesan dome (semacam toples dari plastik) agar hiasan cupcakesnya tidak rusak bilamana si cupcakes akan dibawa ke rumah oleh para murid. Di kelas Alif ada 25 murid. Guru ada 2, jadilah saya lebihkan sedikit menjadi 30 buah cupcakes. Di atasnya nanti akan dituliskan nama murid2 sehingga nanti murid2 akan mengambil sendiri cupcakes bertuliskan nama mereka.

2015-12-09

IMG-20151129-WA0003

Dome. Fungsinya seperti toples, agar hiasan cupcakes tidak rusak.

Pas hari H, saya sudah terima beres saja. Cupcakes akan diantar ke sekolah oleh ibu A. Ditambah lagi di kantor saya agak sibuk, jadi tidak sempat bertanya ini-itu. Pas saya nyalakan HP, ternyata ada WA masuk setengah jam yang lalu. Isi WAnya adalah bahwa butter akhirnya diganti dengan cream cheese dikarenakan Bu A takut anak2 eneg dengan butternya. Okelaaah, berhubung saya ga mengerti apa itu butter dan cream cheese maka saya okekan saja. Lalu sorot ke bawah, masuklah foto cupcakes yang sudah jadi.

Jadinya seperti ini.

IMG-20151203-WA0011

Hm. Agak…beda yaaaa? Wkwkkwk, asli saya langsung ngakak begitu lihat fotonya. How come ya bisa jadi beda begini. Itu ya yang namanya cream cheese? Kenapa tulisan namanya beler2 begitu yaa? Karena cream cheese? Aduh saya beneran ketawa, waaah ini jauh dari bayangan saya. Tapi saya pikir, anak2 usia 7 tahunan itu pastilah belum begitu mengerti merek. Mereka ga mengerti kue itu hiasannya bagus atau gagal. Mereka tahunya hanya enak atau tidak enak saja, bukan? Jadi saya berdoa semoga kue ini enak hahahaha. Saya menjadi tidak sabar untuk pulang ke rumah dan bertanya pada Alif apakah kue ini lezat.

Tak lupa saya WA Bu A, mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Walaupun hasilnya belum seperti yang saya harapkan, Bu A tetap berjasa karena beliau maka di hari itu ada kue di kelas anak saya. Harga kuenya ternyata sebuahnya bersama dome adalah 9000. Owalaaah, saya yang salah kalau begitu sudah berharap terlalu tinggi :D.

Pulang kerja dan sampai di rumah saya lalu bertanya pada Alif tentang kue2 itu. Alif tampak santai saja tuh. Katanya, beberapa langsung menghabiskan kuenya di tempat. Beberapa memang ada yang kenyang jadi tidak habis (*kue datang jam 9 pagi), dan beberapa lainnya tidak Alif perhatikan karena dia sibuk menghabiskan kuenya sendiri. Enak ga Lif? Enaaaaakkkkkk kok Buuuu. ALHAMDULILLLAAAAH …. 😀 :D. Hati ibu jadi tenang.

Kids. They are not like adults who really enjoy complaining. Jadi malu sama Alif :). Anyway, barakallah fii umrik yaa sayangku. Semoga selalu jadi anak baik, bermanfaat dan sayang ayah ibu. Aamiiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s