Ghibah artinya kurang lebih sama dengan bergosip. Yang namanya gosip sudah hampir pasti membicarakan tentang yang tidak baik. Pada dasarnya, saya sendiri bukan termasuk orang yang senang berghibah. Nonton acara gosip TV saja terakhir itu sekitar…mungkin kuliah ya, wow ternyata lebih dari 10 tahun yang lalu. Alhamdulillah ya, tiap melihat acara seperti itu kepala saya memang suka pusing nonton bibir yang miring2 bergunjing :D.

Itu TV. Tapi apa iya dalam kehidupan sehari2 saya tidak pernah berghibah? Ternyata kalau saya ingat2 lagi dengan seksama, masih adaaa. Misalnya, si A putus dengan si B, saya masih ikut serta membicarakannya walaupun karena prihatin dan atas alasan mencari fakta. Atau si C digosipkan punya hubungan mesra dengan si D, saya masih komat-kamit di belakang karena tidak percaya, tidak menyangka, dan lagi2 beralasan mencari kebenaran apakah murni gosip atau memang fakta. Atau ada seorang manager berbuat hal yang tidak menyenangkan, lalu dibicarakan di grup, dan saya ikut nimbrung di dalamnya. Olala *_*. Ternyata saya masih suka berghibah walaupun tidak doyan nonton gosip.

ghibah

Memang kenapa kok menghindari ghibah? Ini juga saya baru tau alasannya karena dengar di pengajian. Mengghibah saudara kita sama seperti kita memakan bangkai mereka. Hmmm…karena daya imajinasi saya rendah, jadi kalimat ini tidak bisa saya bayangkan. Yang bisa saya bayangkan adalah poin berikut ini. Ternyata bila kita berghibah tentang A, selama kita mengghibahnya (menggosipkannya) maka pahala kita akan mengalir masuk ke si A. Itulah hukuman bagi kita karena berbuat dosa. Lalu kalau stok pahala kita habis, bagaimana? Sebagai gantinya, dosa si A yang akan dimasukkan ke bagian kita.

Berhubung saya senang menabung atau berinvestasi, maka kalimat di atas bisa banget saya bayangkan. Otak saya menganalogikan seperti ini. Katakan saya sudah punya tabungan 10jt. Ketika saya mengghibah A maka saya melakukan perbuatan dosa. Sebagai hukumannya, tabungan saya diambil sebanyak 500rb, lalu dimasukkan ke dompet si A. Bila saya tidak punya tabungan sama sekali, maka sebagai gantinya, hutang si A sebesar 500rb menjadi kewajiban saya untuk melunasinya.

Wah lumayan mulai ngerasa “sakitnya tuh disini” namun saya masih santai dan berkata, “Terus kenapa..? Aku kan sholat tiap hari. Aku puasa, sedekah, berbuat baik. Aku tidak membunuh, tidak mencuri, tidak merampok. Aku pastilah punya banyak pahala. Dibagikan sedikit karena dosa berghibah juga tidak akan membuat pahalaku habis kok.” Tapi lagi2 karena ikut pengajian saya jadi tahu tentang riba, halal dan haram. Ternyata walaupun saya sudah banyak sholat, berbuat baik, setiap saya memakan yang haram maka ibadah saya tidak akan diterima selama 40 hari ke depan. Waduuuuh ini baru menyeramkaaan!! Padahal saya kan demen banget wisata kuliner di restoran2 lucuk yang tidak ada sertifikasi halalnya. Memang belum tentu haram, tapi belum tentu juga halal. Kalau ternyata dia haram, waaah sia2lah ibadah wajib dan sunnah saya selama 40 hari, hiikkksss. Capek2 ngumpulin pahala, eee ternyata ga diitung. Dalam bayangan saya seakan ada gambaran selama 40 hari saya sudah menabung 200rb setiap harinya, namun semua terbakar begitu saja karena makan yang haram. Mengerikaaan! Demikian juga dengan riba. Riba itu dosa besar dan karena saya masih pakai KPR dan kredit mobil, maka kena dosa riba. Walau sudah rajin ibadah, kalau masih ada harta riba maka susut banyak nih pahalanya…. Apa iya stok pahala saya cukupppp?

AKU KAN TIDAK MAU HANYA MENABUNG UANG DEMI DANA DARURAT ATAU PENDIDIKAN ANAK SAJA…AKU JUGA MAU NABUNG PAHALA. AKU KAN MAU MASUK SURGA, KETEMU SUAMI, ORANGTUA DAN ANAKKU DISANA. KETEMU ORANG-ORANG YANG KUSAYANGI DISANA. MEMANGNYA DANA DARURAT AKAN BISA MEMBUATKU MASUK KE SURGA??

Memangnya surga neraka itu ada, Mbak? Yah..kalau percaya Islam, harusnya ada. Seandainya gak adapun, berbuat baik memang tidak pernah rugi bukan? Berbuat baik pastilah selalu membuat dunia lebih indah, kan? Dan berghibah sudah pasti bukan perbuatan baik. Saya rasa semua pasti setuju tentang ini.

Jadi apa akal saya untuk usaha berhenti berghibah?

  1. Sudah pasti sayanya dulu yang jaga lidah. Selalu positif thinking. Kalau kita udah mikir yang baik2, bakal sulit bagi kita untuk berghibah.
  2. Kalau lagi bicara dengan orang lain, yang kemudian di tengah pembicaraan tiba2 alurnya bergulir  ke ghibah, saya harus usaha “menyelotip” mulut untuk tidak ikut ambil bagian. Bisa dengan terang2an berkata, “Kita sepertinya sedang berghibah ya?” dengan harapan ghibahnya stop. Atau meninggalkan diskusi, entah ke toilet kek, dhuha kek, dengar musik kek, dan kembali lagi ke pembicaraan tersebut dengan asumsi proses ghibah sudah selesai, atau berusaha melarikan topik pembicaraan agar ghibahnya tidak melanjut.
  3. Kalau ghibahnya di social media maka…langsung meninggalkan chat itu. Ga perlu keluar grup, tapi cukup untuk tidak membaca chat tentang itu, apalagi men-share.
  4. Kalau ada yang curhat ke saya namun secara tidak sengaja dia berghibah, maka saya akan angguk2 saja kayak boneka yang dipajang di dashboard mobil ituuu dan memilih berkomentar yang cukup2 saja.
  5. TIDAK BERNIAT KEPO. Andai ada teman yang berkata, “Eh kamu tahu gaaa? Hmmm, cerita ga yaaaaa.” –> Wah itu kok seperti tanda2 mau berghibah? Mendingan kasih senyum saja. Bila ada teman yang bilang, “Eh aku mau cerita. Eh, tapi ga jadi aaaahhh :D” maka cukup dijawab, “Okeeeee”. Saya berusaha untuk tidak kepo ah. Berita apapun itu, kita pasti akan tahu bila memang berhak untuk tahu. Karena, berita penting pastilah wajib diinfokan. Berita bahagia jarang yang dirahasiakan. Berita dukacita (meninggal) juga biasanya disebarkan. Nah, berita yang ditahan2 penyebarannya termasuk kategori berita tidak pasti atau misterius yang berpotensi ghibah (*walau tidak selalu). Bener kan ya?
  6. Memasukkan uang sekian rupiah ke kencleng kalau kelepasan berghibah, kalau udah banyak niatnya akan disumbangkan. Jadi, kalau tidak mau kehabisan uang maka mau ga mau harus stop ghibah. Tapi seandainya ghibah lanjutpun…sedekahnya kan jadi banyak yaaaak, wong ngencleng muluuu. Hahahaha, wah bingung juga nih sama poin yang ini wkwkwkw — eh bukan berarti kencleng saya penuh dari hasil denda berghibah loh yaaa hahahaha.

Ini menjadi resolusi 2016 saya nih. Udah cape juga resolusi saya kok selalu soal menabung dan investasi. Mulai belajarlah diselipin hal2 yang berbau agama…toh duit gak akan dibawa mati juga :D.

Semoga berhasil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s