Letaknya di Jalan yang Kecil dan Tersuruk

Posted: October 29, 2015 in Financial Plan

Saya dan mantan pacar dulu ketemunya pas kuliah di Jogjakarta, seangkatan dan sekelas. Lalu kami pacaran. Tak disangka ternyata awet hahahaha. Tak disangka juga ternyata diterima di kantor yang sama *o*. Perusahaan yang bergerak di industri migas.

Menjadi pegawai di perusahaan minyak saat itu (2006) adalah pekerjaan yang bergengsi. Ada banyak fasilitas yang alhamdulillah bisa kami dapatkan. Salah satu fasilitas yang sangat saya syukuri adalah HOAP, yaitu kredit kepemilikan rumah. Kantor akan memberikan kami pinjaman untuk membeli rumah dan kami bisa mencicilnya selama 15 tahun, TANPA BUNGA. Woooow!! Fasilitas itu bisa diambil setelah 2 tahun bekerja, tepatnya tahun 2008.

Besar pinjamannya…lupa juga hitung2annya yang jelas kami diizinkan untuk membeli rumah dengan range harga 250jt. Bagi kami yang anak bau kencur alias baruuu lulus kuliah dan keterima kerja, jumlah itu sangat besar, tambah lagi punya rumah sendiri dengan status SHM. Wooooowww!! Langsung saya dan mantan pacar cari2 senior untuk diajak diskusi. Kemanakah kami harus membeli rumah dan apa saja yang perlu kami pertimbangkan dalam membeli rumah? Bagaimana tips dalam membeli rumah sudah dibahas disini.

Senior kami namanya Bondan Brilianto. Badannya besar, kulitnya gelap, suaranya keras dan orangnya bersemangat. Salah satu info penting yang ia ungkapkan adalah bahwa kalau ada fasilitas dari kantor maka HARUS SEGERA DIMANFAATKAN karena fasilitas itu kapan saja bisa dihapuskan. Oke Mas, siyap!! (*terbukti di tahun 2013 kalau ga salah fasilitas ini sudah dicabut). Lalu beliau juga menyarankan bahwa sebelum kami menikah maka kami harus ambil HOAP dulu. Jadi dapatnya kan 2. Sementara kalau sudah menikah, maka dapatnya hanya 1 HOAP. Haaaahhh? Gitu yaaa? Oke Mas, siyappp!!

Maka jadilah saya memakai HOAP saya untuk membeli rumah di Depok yang ceritanya ada disini :D. Lalu calon suami beli dimana? Ketimbang membeli rumah sebelahan agar nanti ke depannya bisa digabungkan supaya menjadi lebih besar, calon suami saya saat itu memilih untuk membeli rumah petak dengan tujuan investasi. Letaknya di jalan kecil saja, seperti menyuruk (*sembunyi). Ada tanah dengan 2 sertifikat, yang total luasnya mencapai 450m2. Di atasnya berdiri 2 rumah petak, masing2 luasnya 60 m2. Saat itu, sewa si rumah petak masing2nya Rp 450.000,- itu di tahun 2008. Pemilik butuh menjualnya dengan segera. Dikarenakan istrinya meninggal, lalu seperti kisah yang biasa sering kita dengar, anak2nya rebutan warisan. Maka semua aset hendak dijual dan dibagikan karena sang suami ingin segera lepas dari urusan2 semacam ini. Ya Allah, semoga keluarga kami ke depannya dihindarkan dari hal2 semacam ini aaamiiiiin.

Lokasinya tidak jauh dari rumah saya, naik motor hanya 5 menit. Menurut saya pribadi, walau lokasinya di jalan yang kecil,, tapi potensi disana bagus untuk disewakan. Melihat tanahnya yang luas terhampar itu, pening juga saya membayangkan berapa biaya yang harus dikumpulkan untuk mengembangkannya menjadi beberapa rumah petak yang full dan solid. Rumah petak yang sekarang sudah lumayan sih, tapi karena saya wanita pasti pengennya yang lebih resik. Semacam ada tamannya. Ada tempat sampahnya. Ada lahan jemurannya. Ada tempat cuci motornya. Ada pagarnya. Dan ada tembok pembatas dengan tetangga. Bisa dibangun 4 rumah petak lagi, belum kalau ditingkat. Ondeh mandeh…sakit kepala den, sudahlah yang penting dibeli dulu mumpung ada fasilitas ini.

Lalu sekarang tahun 2016. 8 tahun berlalu dan apa kabar si rumah petak? Sekarang harganya sudah naik lebih dari 5x lipat. Belum ada penambahan apapun di rumah tersebut hehehe, kecuali tembok sekeliling (*itu juga karena saya paksa2) soal si mantan yang akhirnya jadi suami ternyata tidak terobsesi untuk membenahi aset. Berapa uang sewanya? 500rb :). Sudah selama itu berlalu dan uang sewanya cuma naik 100 rebu? Ya itulah suami saya. Katanya, gapapa. Ga papa ayang, ga papa. Iya deh ayah, gapapa :).

Suami sudah resign dari perusahaan lama, lalu pindah ke perusahaan baru. Ketika resign maka HOAP yang dulu bebas bunga serta merta akan berubah menjadi KPR biasa. Tapi tetap bersyukur, karena kalau ga ada HOAP dari kantor pertama waktu dulu itu, mungkin aset ini tidak akan pernah terbeli. Makasih yaaa kantorkuu :*.

Semoga investasi ini bermanfaat banyak ke depannya, aamiiin.

Update: alhamdulillah kami sudah bebas riba. Di 2016 kami melunaskan pinjaman ini dan rasanya legaaa sekali lepas dari hutang :D.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s