Seperti yang udah disinggung di posting sebelumnya, lautan pasir dan padang savana itu lokasinya bersebelahan. Batasnya juga jelas, kalo orang geologi bilangnya “sharp contact”. Nih fotonya.

Sebelah sana hijaunya rumput, sebelah sini abu abunya pasir.

Sebelah sana hijaunya rumput, sebelah sini abu abunya pasir.

Kenapa bisa tajem gitu batasnya? Karena lautan pasir ini kan mantan kalderanya si Gunung Tengger ya. Sampai sekarang mungkin aktivitas magmatisme masih berlangsung disana sehingga suhunya lebih panas dari savana. Makanya tumbuhan ga bisa hidup (*cmiiw).

Lautan pasir ini jadi lokasi syuting filmnya neng geulis Dian Sastro dan mpok Christine Hakim itu looh, “Pasir Berbisik”. Udah pada nonton kan filmnya? Gw sih belum, wakakakak. Abisan katanya filmnya gada ngomong?? Apakah aku akan tahan dengan film bisu seperti itu? Tapi yaa nti sampai rumah gw coba liat deh mana tau berubah pikiran ^^.

Mungkin karena musim hujan yaah, walo namanya lautan pasir tapi pasirnya sih ga sampai yang terbang2 gitu. Kita udah bawa masker tapi ga kepake tuuh.

Berhubung Alif nagih janji pengen ketemu Lala di rumahnya..yah..terpaksalah gw tunjuk satu bukit di lautan pasir yang sudah berubah statusnya jadi bukit pasir. Alif tampak bingung karena kok rumahnya beda rupa dengan yang tadi, gada ijo2nya, tapi dia deketin juga. Untungnya bukit yang ini lebih deket jadi bisa disentuh langsung kakinya sama si Alif. Dia pegang deeh “rumahnya si Lala” terus manggil2 Lala tapi Lala kok ga keluar2. Mulai ngeak lagiii…sampai akhirnya diam karena kita bilang, “Lala kan bangunnya pas matahari terbit Lif. Sekarang kan udah siang, ya Lalanya boci..”. Alif manggut2 terus bilang, “Rumah Lala kotor ya..” *o*

Maaf ya Nak, rumah Lala baru abis kebakaran jadi rumputnya habis semua.. Someday kita sentuh bukit teletubbies yang beneran hijau ya sayang

Maaf ya Nak, rumah Lala baru abis kebakaran jadi rumputnya habis semua.. Someday kita sentuh bukit teletubbies yang beneran hijau ya sayang

Ga banyak yang bisa dilakukan di lautan pasir :p. Apalagi cuaca udah mulai rintik2 hujan, huwaaa padahal baru 1 stopsite, sediih.

Nah di lautan pasir itulah berlokasi Kawah Bromo. Pikir ortu gw, ke kawahnya bisa naik mobil kayak di Tangkuban Perahu tapi ternyata enggak ya. Mobil hanya bisa stop di satu titik, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan kuda karena jalurnya mendaki menurun, memang ga bisa dengan mobil. Pilihannya yey naik kuda bayar 100rb pp atau yey jalan kaki sejauuuh 2.5 km dengan bonus tahi kuda di sepanjang jalan wakakakak.

Walau hujan, tapi gw ma bonyok maksa, pokoknya tetap ingin liat kawah. Wong namanya juga tamasya ke Bromo, ya kawahnya itulah iconnya. Beklah, akhirnya kami bertiga turun sementara suami, bou dan Alif nunggu di jeep. Herannya itu, yang punya kuda ga punya stok raincoat T-T. Terus kami musti basah2 gitu kesana?, waah kok tampak tidak make sense. Akhirnya si pembawa kuda mengalah. Mereka melepas raincoatnya, meminjamkannya pada kami dan mereka pun pake sarung untuk menghindari hujan. Jadi saran saya nih buat yang mau ke Bromo di musim penghujan, BAWA RAINCOAT. Sementara saran saya buat pembawa kuda, “SEDIAKAN  RAINCOAT BUAT CALON TAMU” secara pasti kepake deeh. Cuma secuil tamu yang ingat bawa raincoat. Kalau perlu disewakan, mesti dibayar jugaak hehehe.

Ke sana paling 10 menit naik kuda. Hohoho bukan naik kuda kayak pendekar gitu yak, tapi dituntun sama si pembawa kuda. Jadi ga keteprok3x tapi te..plok..te…plok.. (*pupus deh pikiran jadi Nona Peri di Tapak Sakti :p). Sampai di tepi kawah, kita mesti mendaki 250 anak tangga untuk melihat the real crater ya. Nguuiiing, curam book. Ey, gw sih pasti bisa wakakak, bonyok gw ini loooh. Mana hujan lagi, pake raincoat siwer2, takut kepeleset aj kan.

Tapi sekali bonyok bertekad, yaudah ga bisa dilarang. Akhirnya untuk naik, gw paling belakang. Kalo turun gw paling depan. Jaga2 kalo kepeleset, at least mungkin…mungkiin bisalaah gw tahanin dulu sebelum yang tidak2 terjadi. Hiiiy. Dan memang menuju kesana, berat bagi mereka. Ampe berhenti 4x. Kaki sih kuat, dadanya yang megap2. Hujan mengaburkan kacamata. Pasir pada nemplok di anak tangga, jadi harus extra hati2 biar ga kepeleset karena pasir.

Walo lambat, akhirnya sampe juga kook. Horaaayyy. Dan alhamdulillah pula, sampai di atas hujannya kok redaan. Lumayan bisa foto2. Penampakannya sih hampir sama kayak kawah Tangkuban Perahu tapi effortnya kan beda. Effort biaya dan tenaganya hahahah. Jadi fotonya juga harus lebih banyak donk (*apaa coba).

Di kawah Bromo. Dengan kondisi masih rintik dikiiit, dan takut lipir2, jadi ya fotonya isi muka semua. Kawahnya dimana ga keliatan wkwkwk, sing penting ada asapnya yagasi...

Di kawah Bromo. Pic kanan atas adalah 250 anak tangga yang termasyur itu. Dengan kondisi masih rintik dikiiit, dan takut lipir2, jadi ya fotonya isi muka semua. Kawahnya malah ga keliatan wkwkwk. Gpp sing penting ada asapnya, yagasi…

Eniwei, dari sini kelihatan jelas sekali si gunung Batok. Dari lautan pasir, tingginya mungkin kurang lebih 300m (*cmiiw). Kalau dulu waktu kecil di Pekanbaru tak ada gunung. Pas kuliah barulah liat gunung, si Merapi itu, tapi kan ga kayak begini bentuknya. Gunung2 lainnya itu kan bisanya diliat dari jauh, guratannya pun ga jelas. Ga pernah terlintas pikiran untuk bisa megang gunung pake tangan sendiri ;p. Tapi si Gunung Batok ini..sebegitu dekatnya dan kecil sehingga kok kayaknya bisa gitu loh aku garuk2 itu badannya. Tapi kerjaan apa sih itu, garuk2 badan gunung wkwkwk.

Kenampakan Gunung Batok dari Kawah Bromo. Dikarenakan lensa saya tidak panjang, jadinya terpaksa 3 capture digabungkan jadi satu. No zooming. Tuh dekat banget kan jadi pengen ngegaruk kaan? kaan? kan?

Kenampakan Gunung Batok dari Kawah Bromo. Dikarenakan lensa saya tidak panjang, jadinya terpaksa 3 capture digabungkan jadi satu. No zooming. Tuh dekat banget kan jadi pengen ngegaruk kaan? kaan? kan? Betewe bangunan di bawah Gunung Batok itu adalah pura yang dibangun oleh masyarakat Gunung Tengger ini 🙂

Kami lalu turun. Turun sebenarnya lebih berbahaya, tapi selalu menjadi lebih mudah dan cepat. Gatau juga kenapa. Sebentar saja udah di bawah dekat parkirannya kuda. Kudanya udah mandi air hujan, hahaha. Kembali ke posisi awal, kita ngelewatin Pura yang dibangun di bawah Kawah Bromo. Masyarakat Tengger itu membangun pura di tempat seperti ini, coba. Beautiful, sayang ga sempat liat dari dekat. Kasian nti yang di jeep kelamaan nunggu.

Ternyata begitu hujan reda, penumpang yang nunggu di jeep juga pada keluar dan naik kuda. Syukurlaah daripada garing nungguin kami yaa. Bou baru pertama kali ini naik kuda, wkwkwk, bawaannya pengen turun aj. Jangan donk Bou, mosok 100rb buat 10 menit toh, giiih jalan2 sampe ke pura sonoo ahahaha. Alif juga senang banget naik kuda. Hampir ketiduran dia disana. Info aj, pilih kuda yang jinak dan pembawa kuda yang piawai yaa. Kuda suami gw bawaannya bete mulu, diperintah ga mau2. Nah pembawa kuda nyokap gw itu masih anak keciil, walhasil waktu nyokap gw turun dari kuda, ga dijagain donk. Sukseslah jatooh. Untung suasana hati lagi happy jadi kita cuma ketawa2 aja 😀 :D.

Kudaku jinak doonk, jadi ga perlu dituntun kekekeke, kecuali pas pendakian dan penurunan (*ceritanya mau pamer). Pas pulangnya aku bawa sendiri. Mana warnanya putih pulaa eeeuy aye berasa jadi putri istana book. Sayang aj itu raincoat ijo bikin display jadi ga iya banget. Gapapalah, udah sukur dipinjamin sama mas penjaga kuda :D.

Kudaku jinak doonk, jadi ga perlu dituntun kekekeke, kecuali pas pendakian dan penurunan (*ceritanya mau pamer). Pas pulangnya aku bawa sendiri. Mana warnanya putih pulaa eeeuy aye berasa jadi putri istana book. Sayang aj itu raincoat ijo bikin display jadi ga iya banget. Gapapalah, udah sukur dipinjamin sama mas penjaga kuda :D.

Karena musim hujan, jarang orang datang kesini. Biasanya di lautan pasir ini banyak jeep. Tapi sekarang jeep kami doang yang nongol. Enaknya musim hujan, debu pasir ga beterbangan jadi gapakai maskerpun ga masalah. Alif senang sekali menggambar di atas pasir :D

Karena musim hujan, jarang orang datang kesini. Biasanya di lautan pasir ini banyak jeep. Tapi sekarang jeep kami doang yang nongol. Enaknya musim hujan, debu pasir ga beterbangan jadi gapakai maskerpun ga masalah. Alif senang sekali menggambar di atas pasir 😀

Schedule berikut harusnya sih foto2 selama perjalanan pulang dan ke Penanjakan tapi apa daya hujan turun lageee. Kompleks gunung pun tertutup kabut, jadi ga ada yang bisa dilihat juga T-T. Tau gitu tadi maksa minta foto di awal huhuhuhu. Tapi gpp, tetap aj kita dapat kesenangannya. Ortu2 gw pada amazed dan nanya, liburan berikutnya kemana lagi niiih? Waah, kemana lagi yaa (*mutar otak).

So temans, ayuk ah ke Bromo. Bagus bangeeettt, anak kecil juga pasti senang. At least walo ga ketemu Lala dan Po, Alif tetap menikmati nyoret2 di lautan pasir, naik kuda, dan selalu berseru, “Waaah..indah sekali ya Bu, subhanallah..” 😀 😀 :D.

Jadi sekian liburan kami edisi Malang-Bromo. Untuk review makanan terus terang tidak ada karena kami tidak sempat singgah di resto2 lucu. Singgahnya ya yang di tepi2 jalan tapi itu aj udah enak2. Sambelnya maknyus semua. Betewe, makanan di Malang itu, saya kasih tau saja, harganya murah muraaah, bener deh. Kalo di Jakarta kan mehong2 ya.  Baru sampai kerongkongan aj 20rb. Disini perut udah begah bayarnya cuma 20rb/orang, hoooh persta poralah kami. Walhasil sampe di rumah gw nimbang, naik 3.5 kg ajya T-T. Yuk markiyet (*mari kita diyet) lagi dengan Herbalifee!!

Advertisements
Comments
  1. imronitemb says:

    rekeasi yang menantang
    wisata bromo the adventure tour
    makasih infonya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s