Tentang Arsitek Yang Pertama

Posted: April 12, 2011 in Rumah
Tags: , , , , ,

Jadi kayak cerita bersambung nih, ehem2. Kali ini gw akan bercerita tentang arsitek gw yang pertama. Bagi para pembaca yang sebelumnya sudah membaca postingan gw tentang renovasi rumah, mesti nyambung nih :p.

Arsitek gw yang pertama bernama Bapak W. Cerita berawal dari gw -yang punya hobi melihat2 rumah orang- lagi jalan2 di suatu hari melihat perumahan yang ada di sebelah komplek perumahan gw. Disana, gw menemukan ada 3 rumah yang desainnya rada mirip, letaknya berdekatan, yang mana gw suka banget ma fasadnya! Otomatis gw langsung berpikir kalo nih 3 rumah mesti deh ada hubungan kekerabatan. Karena suka, akhirnya tiap lewat sana, tuh 3 rumah selalu gw perhatikan sampai pada suatu ketika..keluarlah seorang bertampang tukang dari rumah tersebut.

Tukang : “Ada apa Mbak?” (curious kali saking seringnya gw ngetem disini :p)

Gw : “Ini, saya suka banget ma 3 rumah ini dan kok kayaknya hampir mirip ya. Siapa ya arsiteknya..” (mana tau si tukang tau)

Tukang : “Oh ya memang mirip Mbak. Yang sebelah sana itu rumah si Bapak. Yang Mbak sedang liat ini rumah anaknya yang kedua. Nah yang di belakang kita rumah anak yang kedua. Arsiteknya namanya Pak W. Saya tukangnya (tuh bener kan profesinya). Kalau berminat, ayo masuk ke rumah ini Mbak, orangnya lagi ga ada soal rumah ini mau dikontrakkan.”

Weleh, lucky banget gw langsung bisa dapat nama dan no telv si arsitek. Karena waktu terbatas akhirnya gw hanya minta no telv si Bapak W. Sampai di rumah langsung gw hubungi untuk mendesain rumah yang memang udah pengen gw renovasi itu. Tarif si Bapak bukan permeter seperti arsitek gw yang kedua, melainkan 5% dari harga total bangunan asetelah direnovasi. Singkat cerita pada suatu ketika si Bapak W datang ke rumah, berbincang sedikit, dan mulai mendesain.

Nah ada beberapa hal yang gw agak kurang sreg sama nih Bapak. Pertama, beliau tidak secara cermat mengukur luasan rumah gw. Cuma datang, melihat, menerka2 berapa ukurannya, menggambar dengan kasar, udah deh mulai merancang desain. Lah gimana dia bisa tau itu kamar ukuran 3×3 atau 2.8×2.8m coba kalau ga bener2 dihitung? Dan bener kan, dalam rancangannya dia berasumsi kalo rumah gw luasannya 200m2 padahal aslinya rumah gw cuma 195m2 karena tanah yang di belakang bentuknya rada miring. Yang kedua, komunikasi kami hanya berjalan 1 arah. Maksudnya selaluuuuu gw yang menelvon dan bertanya “Pak, sudah selesaikah rancangannya? Kapan bisa ketemu?”. Gw kasih waktu sebulan. Saat gw telvon untuk melihat progressnya, dia minta waktu seminggu lagi yang mana akhirnya dia datang 2 minggu lagi, itupun progressnya ga semaju yang gw perkirakan. Emang sih ni Bapak udah senior, sibuk kali ya banyak project disana sini, tapi ya gw gondok juga :(.

Terakhir kali ketemu, rancangan denah dan fasad udah jadi. RAB renovasi tahap 1 juga udah diberikannya. Habis itu dia menghilang entah kemana dan gw pun malas menghubunginya lagi. Sepeserpun gw belum ada mengeluarkan uang karena emang si Bapak W sendiri yang minta pembayaran di belakang. Demi itikad baik, gw pun akhirnya tidak pernah memakai rancangannya namun tetap gw arsipkan. Silakan lihat hasilnya di bawah :).

Waktu memulai proses desain, gw meminta Bapaknya untuk membuat rumah dengan model split level. Artinya, lantai di rumah ini tidak sama dari depan ke belakang, tapi berundak2. Bisa dilihat dari garasi ke ruang makan ada tangga. Dari halaman ke teras ada tangga. Dari ruang tamu ke ruang keluarga ada tangga lagi. Dari ruang keluarga ke kamar utama, ada tangga. Dari kamar utama ke kamar anak ada tangga lagi. Walau banyak tangga namun jumlahnya tidak banyak. Ruangan menjadi tidak monoton, namun luasnya jadi berkurang :p. Biaya pembangunannya juga pasti lebih mahal karena berarti ada lahan yang mesti ditimbun supaya jatuhnya lebih tinggi.

Fasad yang dirancang oleh Bapak W adalah model art deco. Ini juga permintaan gw karena tiap ke Bandung gw selalu terpesona dengan model hunian zaman Belanda itu. Ternyata model art deco kayaknya kurang oke kalau diterapkan untuk bangunan 2 lantai (menurut gw loh ya). Soal bentuknya jadi kayak kotak TV, dikasih jendela, hehehehe. Kubus, gitu loh maksudnya. Emang sih kalo gw liat rumah2 Belanda di Bandung itu rata2 pada 1 lantai dengan halaman yang sangat luas.

Sekian dulu ulasannya. Gw suka rancangan arsitek gw yang pertama dan kedua, tapi kalau fasad kayaknya lebih prefer ke model tropis dari arsitek yang kedua sih :). Mungkin ada yang suka art deco? Monggo kalau mau dijiplak saja 😀

Comments
  1. greenypink says:

    mana nih postingan barunya?…ko ini2 mulu..ceilaah yang sibuk yah sekarang 🙂

    Like

  2. vela says:

    Hi Febrie, cm pgn kenal aja, saya dr pkbaru. SD-SMP dimana dulu? Sy jg kuliah di UGM. 😀

    Like

    • FEBRIE says:

      Halo Vela :D. Wah..ketemu teman sekampung nih :D. SD-SMP pindah2 sih, ada di Santa Maria, SMP 1, sama SMA 1 Pekanbaru sebelum akhirnya pindah ke Bekasi. Vela UGM jurusan apa?

      Like

  3. tari says:

    Postingan tentang arsitek yg pertma tu, berapa ya biaya desainya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s